Zuhud, Wara’, dan Ridha sebagai Fondasi Akhlak Menghadapi Zaman Edan

Renungan Menjelang Subuh 17 November 2025

admin

- Redaksi

Senin, 17 November 2025 - 18:25 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Zuhud, Wara’, dan Ridha sebagai Fondasi Akhlak Menghadapi Zaman Edan. FOTO : HN/AI

Zuhud, Wara’, dan Ridha sebagai Fondasi Akhlak Menghadapi Zaman Edan. FOTO : HN/AI

Pengantar

  1. Tiga sifat agung—zuhud, wara’, dan ridha—adalah pilar akhlak seorang mukmin yang ingin selamat dari godaan materialisme, kerakusan kekuasaan, dan ketakutan sosial di zaman modern.
  2. Ketiganya berasal dari ajaran Rasulullah ﷺ dan ulama klasik, serta memiliki relevansi mendalam untuk memperbaiki moral individu dan tata kehidupan berbangsa.

I. Makna dan Implementasi dalam Kehidupan

A. Zuhud: Melepaskan Ketergantungan kepada Dunia

1. Makna Zuhud

Secara bahasa berarti meninggalkan, tidak tamak, atau tidak memprioritaskan dunia.

Menurut Imam Ahmad bin Hanbal: “Zuhud bukanlah meninggalkan harta, tetapi tidak pernah merasa lebih yakin kepada apa yang ada di tanganmu dibanding kepada apa yang ada di sisi Allah.”[1]

Zuhud bukan hidup miskin, tetapi menempatkan dunia di tangan, bukan di hati.

2. Dalil Al-Qur’an dan Tafsir

QS Al-Hadid: 20 menjelaskan dunia hanyalah permainan dan perhiasan sementara, sedangkan akhirat lebih baik bagi orang bertakwa. Menurut Tafsir Ibn Katsir: ayat ini memerintahkan manusia tidak tertipu oleh gemerlap dunia, karena dunia hanyalah ladang ujian.

3. Hadis

Rasulullah ﷺ bersabda: “Jadilah kamu zuhud terhadap dunia, niscaya Allah mencintaimu.” (HR Ibnu Majah)

4. Implementasi Zuhud

* Tidak menjadikan harta sebagai standar kemuliaan.

* Tidak bergantung pada jabatan untuk harga diri.

* Menerima sederhana, tetapi tetap bekerja keras.

* Keputusan hidup tidak didorong ambisi duniawi, tetapi nilai takwa.

B. Wara’: Menghindari yang Syubhat demi Menjaga Kesucian Hati

1. Makna Wara’

Wara’ adalah menjaga diri dari perkara syubhat, bahkan dari hal halal yang bisa menyeret kepada haram. Imam Al-Ghazali menyebut wara’ sebagai peringkat tertinggi kehati-hatian spiritual.

2. Dalil Al-Qur’an dan Tafsir

QS Al-Baqarah: 197 – “Bertakwalah kalian kepada-Ku, wahai orang-orang berakal.” Tafsir Al-Qurthubi: takwa yang sempurna berarti meninggalkan yang haram dan yang meragukan (syubhat).

3. Hadis

Rasulullah ﷺ bersabda: “Yang halal jelas, yang haram jelas. Di antara keduanya ada perkara syubhat… Barang siapa menjauhi syubhat, ia telah membersihkan agama dan kehormatannya.” (HR Bukhari-Muslim)

4. Implementasi Wara’

* Tidak menerima pemberian yang tidak jelas asal-usulnya.

* Tidak menandatangani kebijakan yang berpotensi zalim.

* Menolak gratifikasi dan konflik kepentingan.

* Menggunakan standar kehati-hatian dalam pekerjaan dan relasi sosial.

C. Ridha: Menerima Ketetapan Allah dengan Lapang Jiwa

1. Makna Ridha

Ridha adalah ketenangan hati terhadap seluruh ketetapan Allah, baik nikmat maupun ujian.
Imam Ibn Qayyim mengatakan: “Ridha adalah derajat tertinggi setelah cinta; hamba memandang semua ketetapan Allah sebagai kebaikan.” [2]

2. Dalil Al-Qur’an dan Tafsir

QS At-Taubah: 100 – “Allah ridha kepada mereka dan mereka ridha kepada-Nya.” Menurut Tafsir As-Sa’di: ridha berarti ketundukan total hati dan tidak memprotes takdir Allah.

3. Hadis

Rasulullah ﷺ bersabda: “Barang siapa ridha dengan Allah sebagai Tuhannya, Islam sebagai agamanya, dan Muhammad sebagai Rasulnya, maka ia merasakan manisnya iman.” (HR Muslim)

4. Implementasi Ridha

* Tidak mengeluh berlebihan saat diuji miskin, sakit, atau dihina.

* Tetap bersyukur ketika kehilangan atau gagal.

* Menghadapi fitnah, perubahan politik, dan kezaliman struktural dengan hati tenang, sambil tetap aktif melakukan amar ma’ruf nahi munkar.

Penulis : Drs. Suripno. Mstr (Dosen Institut Transportasi dan Logistik di Trisakti)

Editor : Redaksi

Sumber Berita: haikunnews.id

Berita Terkait

Urgensi Muhasabah Nasional dan Taubat Nasional sebagai Jalan Pemulihan Moral, Spiritual, dan Kebangsaan Indonesia
Pesan Reflektif Bernuansa Profetik: Kembali ke Akar Amanah
Pesan Reflektif Profetik: Ketika Ilmu Kehilangan Nur, dan Hukum Kehilangan Jiwa
Sanksi Teologis atas Kepemimpinan Tidak Amanah, Kondisi Akhirat bagi yang Tidak Bertaubat, dan Kewajiban Ulama serta Cendekiawan Beriman
Banjir Bandang Sumatera, Deforestasi, dan Amanah Pemimpin Beriman (dalam Perspektif Kebenaran Allah dan Keadilan Allah)
Pesan Reflektif untuk Umat Beriman
Air Mata Pemadam Neraka & Ampunan Allah yang Lebih Besar dari Dosa (Berdasarkan Menyingkap Batin-Imam Al-Ghazali)
Islam Rahmatan Lil’alamin: Jalan Ilahi bagi Tata Dunia dan Negara Republik Indonesia
Berita ini 6 kali dibaca
Dilarang Mengambil dan/atau Menayangkan Ulang Sebagian Atau Keseluruhan Artikel di atas untuk Konten Akun Media Sosial Komersil Tanpa Seizin Redaksi HaikunNews.Id.

Berita Terkait

Minggu, 25 Januari 2026 - 18:10 WIB

Urgensi Muhasabah Nasional dan Taubat Nasional sebagai Jalan Pemulihan Moral, Spiritual, dan Kebangsaan Indonesia

Kamis, 15 Januari 2026 - 19:54 WIB

Pesan Reflektif Bernuansa Profetik: Kembali ke Akar Amanah

Sabtu, 10 Januari 2026 - 07:30 WIB

Pesan Reflektif Profetik: Ketika Ilmu Kehilangan Nur, dan Hukum Kehilangan Jiwa

Kamis, 8 Januari 2026 - 14:25 WIB

Sanksi Teologis atas Kepemimpinan Tidak Amanah, Kondisi Akhirat bagi yang Tidak Bertaubat, dan Kewajiban Ulama serta Cendekiawan Beriman

Jumat, 12 Desember 2025 - 19:26 WIB

Banjir Bandang Sumatera, Deforestasi, dan Amanah Pemimpin Beriman (dalam Perspektif Kebenaran Allah dan Keadilan Allah)

Berita Terbaru

Iran

Internasional

Iran “Batu Sandungan” Berat Bagi Dinasti Rothschild

Minggu, 8 Mar 2026 - 19:32 WIB

Pemimpin Adil dan Beriman vs Pemimpin Zalim dan Tidak Beriman. FOTO : Ilustrasi

Tarbiyah

Pemimpin Adil dan Beriman vs Pemimpin Zalim dan Tidak Beriman

Selasa, 17 Feb 2026 - 19:18 WIB