Saat Nama Kita Hilang: Renungan Menggetarkan dari Ujung Kehidupan Menuju Keabadian

Renungan

admin

- Redaksi

Jumat, 3 April 2026 - 18:57 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Saat Nama Kita Hilang: Renungan Menggetarkan dari Ujung Kehidupan Menuju Keabadian. (FOTO : HN)

Saat Nama Kita Hilang: Renungan Menggetarkan dari Ujung Kehidupan Menuju Keabadian. (FOTO : HN)

Di tengah hiruk-pikuk kehidupan dunia yang sering membuat manusia lalai, datang sebuah renungan yang menampar kesadaran—sebuah pesan terakhir dari seorang penulis Kuwait, Abdullah Al-Jarallah, yang sebelum wafat meninggalkan kalimat-kalimat penuh makna tentang hakikat kematian.

Tulisan ini bukan sekadar kata-kata… melainkan cermin yang memantulkan kenyataan yang pasti akan kita hadapi.

Ketika Kematian Datang Tanpa Tawar-Menawar

Beliau menulis:
“Ketika aku wafat, aku tidak akan cemas… dan tidak akan peduli dengan jasadku yang rapuh…”

Karena sesungguhnya, setelah ruh berpisah dari jasad, manusia tak lagi memiliki kuasa atas dirinya sendiri. Semua akan diurus oleh orang lain:

  • Mereka akan menanggalkan pakaian kita.
  • Mereka akan memandikan kita.
  • Mereka akan mengafani kita.
  • Mereka akan mengangkat dan mengantar kita.
  • Hingga akhirnya… memasukkan kita ke dalam liang kubur.

Ironisnya…
Banyak dari mereka yang hadir mengantar kepergian kita, justru mungkin tidak pernah benar-benar mendengarkan nasihat kita ketika kita masih hidup.

Dunia Tetap Berjalan, Kita yang Berhenti

Renungan ini semakin dalam ketika beliau mengingatkan:

  • Dunia tidak akan berhenti berputar.
  • Pekerjaan kita akan digantikan.
  • Harta kita akan berpindah tangan.
  • Semua yang kita kumpulkan… akan menjadi milik orang lain.

Sementara kita…
Akan berdiri sendiri di hadapan Allah, mempertanggungjawabkan segalanya—yang kecil maupun yang besar, yang tampak maupun yang tersembunyi.

Saat Nama Kita Tidak Lagi Disebut

Inilah bagian yang paling mengguncang…
“Hal pertama yang akan hilang dariku saat aku mati adalah… namaku.”

  • “Mana jenazahnya..?”
  • “Bawalah jenazahnya.”
  • “Dekatkan mayat itu.”

Tak ada lagi nama… Tak ada lagi gelar… Tak ada lagi kehormatan dunia… Semua sirna dalam sekejap.

Maka, janganlah tertipu oleh:
Nasab | Jabatan | Popularitas | Kekayaan
Karena semua itu tidak akan ikut masuk ke dalam kubur.

Kesedihan yang Sementara, Kehidupan yang Abadi

Beliau menggambarkan dengan sangat jujur:

  • Orang yang hanya mengenal kita, akan berkata: “Kasihan.”
  • Teman-teman, akan bersedih beberapa saat… lalu kembali tertawa.
  • Keluarga, mungkin bersedih lebih lama… namun akhirnya kita hanya menjadi kenangan.

Cerita kita di dunia… selesai.
Namun cerita kita yang sebenarnya… justru baru dimulai.

Yang Tersisa Hanya Amal

Saat semuanya ditinggalkan—kecantikan, harta, kesehatan, anak-anak, rumah, dan pasangan hidup—maka yang tersisa hanyalah satu: Amal kita.

Inilah bekal menuju kehidupan yang kekal.

Panggilan untuk Bersiap

Renungan ini bukan untuk ditakuti… tetapi untuk disadari. Apa yang sudah kita siapkan?

  • Shalat fardhu & sunnah
  • Shalat malam
  • Sedekah diam-diam
  • Amal shaleh

Semua itu bukan sekadar ibadah, melainkan investasi abadi.

Mengapa Sedekah Menjadi Penyesalan Terbesar?

Allah berfirman dalam Al-Qur’an (QS. Al-Munafiqun: 10):
“Ya Rabbku, sekiranya Engkau berkenan menangguhkan kematianku sedikit waktu lagi, maka aku akan bersedekah…”

Perhatikan… Tidak disebutkan keinginan untuk shalat, puasa, atau umrah. Mengapa?
Para ulama menjelaskan: Karena setelah mati, seseorang melihat betapa besar dampak sedekah yang terus mengalir pahalanya.

Sedekah yang Mudah, Namun Besar Nilainya:
Sedekah tidak selalu tentang harta.

  • Menyebarkan kebaikan
  • Mengingatkan sesama
  • Menulis dan berbagi nasihat

Karena: “Kalimat yang baik adalah sedekah.”

Penutup: Saatnya Kembali Sadar

Wahai yang masih hidup…
Kita semua sedang berjalan menuju titik yang sama. Tidak ada yang bisa menghindar.

Maka sebelum nama kita hilang dari dunia… pastikan ia tercatat indah di langit.

“Dan ingatkanlah, karena peringatan itu bermanfaat bagi orang-orang beriman.”

Barakallahu fiikum.

Penulis : Laksma TNI (Purn) Jaya Darmawan, M.Tr.Opsla

Editor : Tim Redaksi

Sumber Berita: haikunnews.id

Berita Terkait

Rantai Kerusakan Sosial: Ulama–Cendekiawan, Pemimpin dan Rakyat
Pesan Profetik: Seruan Langit Untuk Bumi
Guru Sejati dalam Falsafah Jawa dan Padanannya dalam Ajaran Islam Untuk Memahami Falsafah Sangkan Paraning Dumadi sebagai Penuntun dalam Mengarungi Zaman Edan (Seri-2)
Filsafat Ilmu : Ontologi, Epistemologi dan Aksiologi Sebagai Fondasi Berpikir dan Bertindak Cendekiawan Berbasis Nilai Langit
Kecerdasan Buatan di Persimpangan Nur dan Zulmat: Antara Bisikan Syaitan dan Ilham Malaikat
Arah Peradaban Hukum Berbasis Kebenaran Allah dan Keadilan Allah (Seri-4)
Mengenang Sufi Agung Wanita Rabi’ah Al Adawiyyah dan Ajarannya (Seri – 6)
Atas Banjir Bandang Sumatera: Peringatan Allah atas Pengkhianatan Amanah dan Kerusakan Tata Kelola
Berita ini 35 kali dibaca
Dilarang Mengambil dan/atau Menayangkan Ulang Sebagian Atau Keseluruhan Artikel di atas untuk Konten Akun Media Sosial Komersil Tanpa Seizin Redaksi HaikunNews.Id.

Berita Terkait

Jumat, 3 April 2026 - 18:57 WIB

Saat Nama Kita Hilang: Renungan Menggetarkan dari Ujung Kehidupan Menuju Keabadian

Selasa, 3 Februari 2026 - 10:30 WIB

Rantai Kerusakan Sosial: Ulama–Cendekiawan, Pemimpin dan Rakyat

Jumat, 16 Januari 2026 - 14:34 WIB

Pesan Profetik: Seruan Langit Untuk Bumi

Kamis, 15 Januari 2026 - 19:41 WIB

Guru Sejati dalam Falsafah Jawa dan Padanannya dalam Ajaran Islam Untuk Memahami Falsafah Sangkan Paraning Dumadi sebagai Penuntun dalam Mengarungi Zaman Edan (Seri-2)

Selasa, 6 Januari 2026 - 18:57 WIB

Filsafat Ilmu : Ontologi, Epistemologi dan Aksiologi Sebagai Fondasi Berpikir dan Bertindak Cendekiawan Berbasis Nilai Langit

Berita Terbaru