Di tengah hiruk-pikuk kehidupan dunia yang sering membuat manusia lalai, datang sebuah renungan yang menampar kesadaran—sebuah pesan terakhir dari seorang penulis Kuwait, Abdullah Al-Jarallah, yang sebelum wafat meninggalkan kalimat-kalimat penuh makna tentang hakikat kematian.
Tulisan ini bukan sekadar kata-kata… melainkan cermin yang memantulkan kenyataan yang pasti akan kita hadapi.
Ketika Kematian Datang Tanpa Tawar-Menawar
Beliau menulis:
“Ketika aku wafat, aku tidak akan cemas… dan tidak akan peduli dengan jasadku yang rapuh…”
Karena sesungguhnya, setelah ruh berpisah dari jasad, manusia tak lagi memiliki kuasa atas dirinya sendiri. Semua akan diurus oleh orang lain:
- Mereka akan menanggalkan pakaian kita.
- Mereka akan memandikan kita.
- Mereka akan mengafani kita.
- Mereka akan mengangkat dan mengantar kita.
- Hingga akhirnya… memasukkan kita ke dalam liang kubur.
Ironisnya…
Banyak dari mereka yang hadir mengantar kepergian kita, justru mungkin tidak pernah benar-benar mendengarkan nasihat kita ketika kita masih hidup.
Dunia Tetap Berjalan, Kita yang Berhenti
Renungan ini semakin dalam ketika beliau mengingatkan:
- Dunia tidak akan berhenti berputar.
- Pekerjaan kita akan digantikan.
- Harta kita akan berpindah tangan.
- Semua yang kita kumpulkan… akan menjadi milik orang lain.
Sementara kita…
Akan berdiri sendiri di hadapan Allah, mempertanggungjawabkan segalanya—yang kecil maupun yang besar, yang tampak maupun yang tersembunyi.
Saat Nama Kita Tidak Lagi Disebut
Inilah bagian yang paling mengguncang…
“Hal pertama yang akan hilang dariku saat aku mati adalah… namaku.”
- “Mana jenazahnya..?”
- “Bawalah jenazahnya.”
- “Dekatkan mayat itu.”
Tak ada lagi nama… Tak ada lagi gelar… Tak ada lagi kehormatan dunia… Semua sirna dalam sekejap.
Maka, janganlah tertipu oleh:
Nasab | Jabatan | Popularitas | Kekayaan
Karena semua itu tidak akan ikut masuk ke dalam kubur.
Kesedihan yang Sementara, Kehidupan yang Abadi
Beliau menggambarkan dengan sangat jujur:
- Orang yang hanya mengenal kita, akan berkata: “Kasihan.”
- Teman-teman, akan bersedih beberapa saat… lalu kembali tertawa.
- Keluarga, mungkin bersedih lebih lama… namun akhirnya kita hanya menjadi kenangan.
Cerita kita di dunia… selesai.
Namun cerita kita yang sebenarnya… justru baru dimulai.
Yang Tersisa Hanya Amal
Saat semuanya ditinggalkan—kecantikan, harta, kesehatan, anak-anak, rumah, dan pasangan hidup—maka yang tersisa hanyalah satu: Amal kita.
Inilah bekal menuju kehidupan yang kekal.
Panggilan untuk Bersiap
Renungan ini bukan untuk ditakuti… tetapi untuk disadari. Apa yang sudah kita siapkan?
- Shalat fardhu & sunnah
- Shalat malam
- Sedekah diam-diam
- Amal shaleh
Semua itu bukan sekadar ibadah, melainkan investasi abadi.
Mengapa Sedekah Menjadi Penyesalan Terbesar?
Allah berfirman dalam Al-Qur’an (QS. Al-Munafiqun: 10):
“Ya Rabbku, sekiranya Engkau berkenan menangguhkan kematianku sedikit waktu lagi, maka aku akan bersedekah…”
Perhatikan… Tidak disebutkan keinginan untuk shalat, puasa, atau umrah. Mengapa?
Para ulama menjelaskan: Karena setelah mati, seseorang melihat betapa besar dampak sedekah yang terus mengalir pahalanya.
Sedekah yang Mudah, Namun Besar Nilainya:
Sedekah tidak selalu tentang harta.
- Menyebarkan kebaikan
- Mengingatkan sesama
- Menulis dan berbagi nasihat
Karena: “Kalimat yang baik adalah sedekah.”
Penutup: Saatnya Kembali Sadar
Wahai yang masih hidup…
Kita semua sedang berjalan menuju titik yang sama. Tidak ada yang bisa menghindar.
Maka sebelum nama kita hilang dari dunia… pastikan ia tercatat indah di langit.
“Dan ingatkanlah, karena peringatan itu bermanfaat bagi orang-orang beriman.”
Barakallahu fiikum.
Penulis : Laksma TNI (Purn) Jaya Darmawan, M.Tr.Opsla
Editor : Tim Redaksi
Sumber Berita: haikunnews.id






