DUNIA – Ketegangan militer di kawasan Teluk Persia kembali mencapai titik paling berbahaya setelah dua kapal tanker berbendera Iran, M/T Sea Star III dan M/T Sevda, dilaporkan diserang oleh militer Amerika Serikat di kawasan Teluk Oman, Jumat, 8 Mei 2026.
Insiden ini memicu gelombang ancaman keras dari sumber militer Iran yang dilansir kantor berita semi-resmi Iran, Tasnim News Agency, dengan pernyataan bernada perang terbuka terhadap Washington dan sekutunya.
Menurut laporan militer Amerika Serikat melalui US Central Command (CENTCOM), jet tempur F/A-18 Super Hornet yang lepas landas dari kapal induk USS George H.W. Bush (CVN-77) menembakkan munisi presisi ke cerobong asap kedua tanker tersebut untuk menghentikan pelayaran mereka menuju pelabuhan Iran.
Iran menilai tindakan itu sebagai bentuk “agresi terang-terangan” dan pelanggaran terhadap hukum internasional serta gencatan senjata yang sedang rapuh di kawasan.
Iran: “Kami Tidak Takut Perang, Kami Siap Menghancurkan”
Dalam pernyataan yang beredar luas melalui media Iran dan jaringan regional Timur Tengah, sumber militer Iran menegaskan bahwa penghentian bentrokan saat ini hanyalah “jeda sementara”, bukan tanda kelemahan Teheran.
Iran memperingatkan bahwa bila kapal perang Amerika kembali memasuki kawasan Teluk Persia atau mengganggu kapal tanker Iran, maka serangan balasan yang lebih besar akan segera dilancarkan.
“Mereka bukan berhenti karena menang. Mereka berhenti karena sudah cukup menderita dan kehilangan banyak kemampuan,” ujar sumber militer Iran dalam laporan Tasnim.
Pernyataan tersebut juga menyebut bahwa Iran siap “menyalakan kembali api perang kapan saja”, terutama jika blokade laut terhadap Iran terus dilakukan oleh Amerika Serikat dan sekutunya.
Selat Hormuz Jadi Pusat Krisis Dunia
Konflik terbaru ini kembali menempatkan Selat Hormuz sebagai titik paling rawan di dunia. Jalur laut sempit yang menghubungkan Teluk Persia dengan Laut Arab itu merupakan salah satu urat nadi energi global.
Data internasional menunjukkan sekitar 20–25% perdagangan minyak dunia melewati Selat Hormuz setiap harinya. Gangguan kecil saja di wilayah ini dapat memicu lonjakan harga minyak global dan mengganggu rantai pasokan energi internasional.
Iran menegaskan bahwa Teluk Persia dan Selat Hormuz merupakan wilayah strategis yang tidak boleh diganggu oleh kekuatan asing.
Sementara itu, Amerika Serikat sejak April 2026 diketahui meningkatkan operasi militernya di kawasan dan memberlakukan blokade terhadap sejumlah jalur pelayaran menuju pelabuhan Iran.
Qatar Disebut Jadi Jalur Diplomasi Rahasia
Sumber Iran juga mengklaim bahwa pihak Amerika kini mulai mencari jalur negosiasi melalui mediator regional, termasuk Qatar, guna mencegah perang lebih besar pecah di Timur Tengah.
Namun Iran tetap memberikan syarat keras untuk terciptanya perdamaian, yakni:
* penghentian blokade laut,
* penarikan kekuatan militer asing,
* pembayaran kerugian,
* serta permintaan maaf resmi.
Jika syarat itu tidak dipenuhi, Iran menegaskan bahwa “gelombang serangan berikutnya akan jauh lebih berat.”
Dunia Khawatir Konflik Meluas
Pengamat internasional menilai bentrokan terbaru ini dapat menjadi pemicu konflik regional yang lebih luas, melibatkan negara-negara Teluk, Israel, hingga kekuatan besar dunia.
Sejumlah media internasional melaporkan bahwa situasi keamanan di kawasan masih sangat rapuh meski upaya diplomasi terus berlangsung.
Krisis di Hormuz kini bukan hanya menjadi persoalan Iran dan Amerika Serikat, tetapi telah berubah menjadi ancaman serius bagi stabilitas ekonomi dan keamanan global.
“Satu percikan kecil di Selat Hormuz bisa mengguncang pasar energi dunia dan menyeret kawasan Timur Tengah ke perang yang lebih besar.”
Penulis : Laksma TNI (Purn) Jaya Darmawan, M.Tr.Opsla.
Editor : Tim Redkasi
Sumber Berita: HaikunNews.id







