Iran “Batu Sandungan” Berat Bagi Dinasti Rothschild

Oleh Said Muniruddin | RECTOR | The Suficademic

admin

- Redaksi

Minggu, 8 Maret 2026 - 19:32 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Iran

Iran "Batu Sandungan" Berat Bagi Dinasti Rothschild

DINASTI Rothschild dipercaya selalu ada di balik peristiwa besar. Tidak perlu kaget jika mereka adalah pihak yang juga memberi arahan untuk pergantian kepemimpinan di Iran.

Dinasti ini tidak lagi ketat dalam persembunyian. Zaman sudah berubah. Mereka sudah mulai muncul ke permukaan. Dalam beberapa tweet terbarunya di Platform X, Nat Rothschild yang tampil sebagai “juru bicara”, kembali memotivasi dunia untuk mengobarkan perang:

“History is written by the winners” — #IranRevolution2026 (28/2/2026).

Sebuah pesan bahwa sejarah ditulis oleh para pemenang perang. Barat selama ini selalu tampil sebagai pemenang. Dengan segala kebrutalannya, mereka berhasil menarasikan itu semua sebagai demokratisasi dan pembebasan. Sebaliknya, jika Iran menang, narasi akan berubah. Barat akan menjadi penjahat perang.

Beberapa tweet provokatif lainnya:

· “Where are the Iranian submarines?” — #IranWar (2/3/2026).
· “If regime change is the objective, has anyone actually thought through what happens next?” — #Iran (2/3/2026).

Semua tweet ini membawa satu pesan: “Ayo terus berperang.”

Rothschild Butuh Perang

Dinasti Rothschild menginginkan dunia selalu dalam keadaan perang. Mereka ada di belakang sejumlah negara yang memang diciptakan untuk berperang. Perhatikan betapa banyak keonaran yang diinisiasi oleh “cowboy” Amerika binaan mereka dalam beberapa waktu silam:

El Salvador (1980), Libya (1981), Sinai (1982), Lebanon (1982–1983), Egypt (1983), Grenada (1983), Honduras (1983), Chad (1983), Persian Gulf (1984), Libya (1986), Bolivia (1986), Iran (1987), Persian Gulf (1987), Kuwait (1987), Iran (1988), Honduras (1988), Panama (1988), Libya (1989), Panama (1989), Colombia, Bolivia, and Peru (1989), Philippines (1989), Panama (1989–1990), Liberia (1990), Saudi Arabia (1990), Iraq (1991), Zaire (1991), Sierra Leone (1992), Somalia (1992), Bosnia-Herzegovina (1993–present), Macedonia (1993), Haiti (1994), Macedonia (1994), Bosnia (1995), Liberia (1996), Central African Republic (1996), Albania (1997), Congo/Gabon (1997), Sierra Leone (1997), Cambodia (1997), Iraq (1998), Guinea-Bissau (1998), Kenya/Tanzania (1998–1999), Afghanistan/Sudan (1998), Liberia (1998), East Timor (1999), Serbia (1999), Sierra Leone (2000), Yemen (2000), East Timor (2000), Afghanistan (2001–present), Yemen (2002), Philippines (2002), Côte d’Ivoire (2002), Iraq (2003–present), Liberia (2003), Georgia/Djibouti (2003), Haiti (2004), Georgia/Djibouti/Kenya/Ethiopia/Yemen/Eritrea (War on Terror, 2004), Pakistan drone attacks (2004–present), Somalia (2007), South Ossetia/Georgia (2008), Syria (2008), Yemen (2009 and 2015), Haiti (2010), Libya (2011), Syria (2011), Ukraina (2014), Iraq (2015), Palestina (sampai sekarang), dan lainnya.

Kemarin Venezuela. Sekarang Iran. Keduanya masih pada tahun yang sama, 2026.

Rothschild butuh perang sebagai urat nadi kehidupan. Mereka menghasilkan triliunan dolar dari perang. Mereka membiayai penghancuran, sekaligus mendanai kembali pembangunan. Gaza mereka danai untuk dihancurkan. Mereka juga yang kemudian, lewat proposal Trump, ingin membangunnya kembali menjadi resort wisata yang menghasilkan uang—bukan untuk warga Gaza, tapi untuk pundi-pundi mereka. Warga Gaza akan direlokasi entah ke negara mana.

Mereka mencari uang dari “conflict creation” dan juga dari “peace and reconstruction”. Belum lagi nilai yang bisa diperoleh dari penguasaan kontrak sumber daya alam di daerah yang telah mereka tundukkan.

Rothschild dan Zionisme

Dinasti ini pula yang menciptakan Israel. Baron James de Rothschild (1845–1934) merintis koloni Yahudi pertama di Palestina. Lalu Lionel Walter Rothschild (1868–1937) menggagas Deklarasi Balfour bersama Inggris untuk pengambilalihan Palestina. Dengan memanfaatkan ideologi “tanah yang dijanjikan”, mereka melakukan aneksasi tanpa henti. Tujuannya: mendukung ekspansi zionis di dunia Arab secara berkelanjutan.

Mereka mengontrol Amerika lewat lembaga lobi seperti AIPAC untuk meneguhkan agenda “Israel First”. Semua politisi Amerika dibiayai untuk menjaga eksistensi negara proksi mereka di wilayah Timur Tengah yang kaya sumber daya. Karena itulah pemimpin revolusi Iran, Imam Khomeini, menyebut Israel sebagai “kanker” di tengah dunia Arab.

Keluarga Rothschild meraup untung dari semua perang. Mulai dari Perang Napoleon (1803–1815), Perang Krimea (1853–1856), Perang Dunia I (1914–1918), Perang Dunia II (1939–1945), dan perang-perang lainnya. Mereka membiayai kedua pihak yang berperang, atau berada di satu pihak yang paling menguntungkan.

Lalu, Kenapa Iran?

Rothschild adalah pencetus sistem perbankan Yahudi. Mayer Amschel Rothschild, sang perintis, sejak tahun 1800-an sudah mengirim lima anaknya ke seluruh Eropa. Bank didirikan di Frankfurt, Jerman, oleh Amschel sendiri. Lalu anak-anaknya membuka cabang di London (Nathan), Paris (Jacob), Wina (Salomon), dan Napoli (Karl).

Ekspansi meluas ke seluruh dunia, membiayai dan bekerja sama dengan bank lain, sampai membentuk sistem perbankan yang terintegrasi. Bank mereka aktif membiayai atau mensponsori perang, juga pembangunan pascaperang. Hari ini, hampir seluruh perbankan dunia terkoneksi dengan sistem operasi keuangan mereka.

Celakanya, Iran adalah salah satu dari sedikit negara yang tersisa yang tidak tunduk pada dominasi bank sentral Rothschild. Iran adalah salah satu negara yang tidak memiliki ketergantungan pada IMF, salah satu lembaga intermediasi utang dinasti ini. Lebih dari itu, Iran merupakan batu besar di tengah jalan yang menghalangi proyek koloni “Israel Raya”. Iran bahkan satu-satunya negara yang bersumpah akan membebaskan Palestina dan mengusir zionis dari Tanah Suci.

Karena itu, kepemimpinan Iran yang sudah 47 tahun berkembang harus ditumbangkan. Harus ada rezim baru yang bekerja di bawah kendali mereka. Dalam hal ini, “pangeran badut” Reza Pahlavi yang hidup dalam pengasingan sangat berharap bisa naik tahta. Ayahnya, Mohammad Reza Pahlavi, raja terakhir Dinasti Pahlavi, tumbang dalam Revolusi Islam Iran yang dipimpin Imam Khomeini tahun 1979. Dinasti terakhir ini sangat pro-Barat, sejalan dengan agenda Rothschild.

Upaya menggulingkan Imam Ali Khamenei—penerus cita-cita Ayatullah Khomeini (1902–1989)—kembali dilakukan. Seperti biasa, alat kerja Rothschild dalam menciptakan rusuh dan perang adalah Israel dan Amerika, lewat Mossad dan CIA-nya. Mossad sebagai pemain utama punya motto terkenal: “By way of deception, thou shalt do war” (Lewat tipu muslihat, kamu harus melakukan perang). Slogan ini diambil dari ayat biblical Proverb 24:6.

Kedua pemain ini ada di balik protes yang pecah pada akhir Desember 2025 silam, yang cukup menggoyang Iran. Mereka memulai proses kudeta lewat pembakaran masjid dan fasilitas publik, juga pembunuhan. Ini tipikal kerja Israel. Mereka sejak lama telah bekerja merobohkan rumah, masjid, dan gereja di Palestina. Membunuh juga salah satu spesialisasinya.

Kerusuhan di Iran kemarin murni operasi Mossad, yang menunggangi demonstrasi pedagang. Lewat operasi deception, Mossad memberikan instruksi kepada operator-operator bayaran di lapangan. Mossad berusaha menipu warga Iran, tapi berhasil digagalkan. Tidak berhenti di situ, Iran kembali dituduh membunuh demonstran secara massal—sebuah berita yang dibuat-buat.

Perang Narasi dan Propaganda

Sebenarnya, isu Syiah sesat, Syiah kafir, atau Syiah musuh Islam juga merupakan skrip perang psikologis yang dimainkan Mossad. Sudah 40 tahun lebih narasi ini diputar. Setiap mau berkonflik dengan Iran dan proksinya (seperti Houthi di Yaman, Hizbullah di Lebanon, atau Bashar Assad di Suriah), isu ini kembali mencuat. Tujuannya untuk melemahkan Iran, mengisolasinya dari dunia Islam, serta memutusnya dari dunia lain lewat berbagai embargo. Iran cukup menderita sebenarnya, tapi hebatnya bisa bertahan. Dalam banyak hal, justru semakin berkembang.

Di saat Iran sekarang berperang secara terbuka dengan Israel dan Amerika, isu-isu semacam ini juga kembali disebar:

· “Ngapain dukung Syiah, mereka bukan Islam.”
· “Biarkan Iran dan Israel berperang, keduanya kafir.”
· “Iran dan Israel adalah bestie.”
· “Iran membunuh lebih banyak umat Islam ketimbang Israel.”

Propaganda ini bertujuan melemahkan dukungan dunia Islam terhadap Iran. Di Indonesia, sejumlah “agen” (ustad) rajin mengkampanyekan narasi ini, termasuk Felix Siauw dan Khalid Basalamah.

Begitulah. Mereka punya uang, senjata, juga media. Zionis mengontrol para politisi lewat kekuatan lobi, juga menciptakan narasi dan fatwa-fatwa untuk disebarkan oleh para mubalig jaringan mereka. Media mereka berusaha mengelabui dunia dari Barat sampai ke Timur. “By way of deception you shall wage war.” Media Kompas terlihat paling kentara dalam bekerja untuk menyebar kebohongan mereka.

Untuk internal Islam, Iran selalu dilukiskan sebagai rafidhah atau bukan Islam. Padahal jamaah haji mereka selalu memenuhi Makkah dan Madinah. Di luar Islam, Iran dilabeli evil, rezim, otoriter, irasional, mendiskreditkan perempuan, pembunuh, berbahaya, sedang mengembangkan nuklir, dan sebagainya. Proses demonisasi selalu muncul sebelum intervensi.

Faktor Minyak dan Selat Hormus

Kemudian, bukan hanya karena sistem keuangannya yang tidak mau tunduk pada dominasi global perbankan ribawi Rothschild, potensi alam dan posisi geografis Iran juga sangat signifikan.

Iran adalah pemilik cadangan minyak terbesar ketiga di dunia. Lebih kacau lagi, Iran menjadi suplier minyak utama untuk Cina, rival Amerika. Maka, menguasai Iran mirip dengan menguasai minyak dunia, sekaligus memotong mata rantai pasok terhadap Cina.

Iran juga mengontrol Selat Hormus. Sekitar 20% minyak dunia keluar dari celah ini. Mengontrol Selat Hormus berarti mengontrol energi dunia. Iran punya power untuk mengendalikan dunia. Jika selat ini ditutup, dunia kolaps. Harga minyak dunia melonjak seketika. Bisa terjadi kerusuhan di mana-mana karena harga logistik dan biaya produksi meroket. Elit global, jaringan zionisme Rothschild, tidak senang dengan kenyataan ini.

Isu Nuklir: Alasan Klasik

Kepemimpinan Ayatullah harus ditumbangkan. Alasan harus dicari. Alasan yang tepat adalah sesuatu yang bisa membuat dunia takut dengan Iran: Nuklir!

“Iran sedang memproduksi bom nuklir yang bisa menjangkau Eropa dan Amerika.” Pidato ini terus diulang. Iran berulang kali membantah. Mereka tidak berniat memiliki senjata semacam itu. Iran memang terus melakukan pengayaan uranium, tapi untuk tujuan damai, untuk kebutuhan industri nasional. Netanyahu, sebagai gembalaan Rothschild, semakin tidak senang dengan kemajuan dan pencapaian Iran.

Masih ingat? Sebelum Perang Irak (2003–2011), Netanyahu memperingatkan dunia bahwa Saddam Hussein punya senjata pemusnah massal. Dia bersumpah di depan Kongres Amerika. Dia berorasi. Dia memberi pesan urgen untuk segera menginvasi Irak.

Alhasil: Tidak ada senjata pemusnah massal yang ditemukan. Irak hancur. Jutaan orang meninggal. Tentara Amerika tewas untuk Israel. Tentara Amerika tewas untuk elit zionis Rothschild.

Sebenarnya, penyerangan terhadap Irak juga memiliki motif yang sama. Irak termasuk negara yang berada di luar orbit sistem keuangan yang dikontrol Rothschild. Pada tahun 2000, tersisa 9 negara yang tidak satu kerangka dengan perbankan sentral Rothschild: Iran, Irak, Kuba, Suriah, Libya, Sudan, Venezuela, Afghanistan, dan Korea Utara.

Anda bisa lihat, sebagian negara yang menolak ikut sistem bank sentral Rothschild adalah negara-negara Islam. Termasuk Afghanistan dan Irak. Ini harus “diselesaikan”. Maka diciptakan citra global yang menakutkan: Islam adalah teroris.

9/11 dan Rencana Besar

Rekayasa ini dimulai dengan peristiwa WTC 9/11 tahun 2001, yang menewaskan hampir 3.000 orang. Anehnya, tidak ada Yahudi yang mati. Yang kaya dari peristiwa itu juga para Yahudi yang telah mengasuransikan bangunan tersebut tidak lama sebelum peristiwa itu terjadi. Polanya sama. Mereka tetap menjadi yang kaya pada setiap musibah orang. Belakangan terungkap, peristiwa itu juga bagian dari rencana elit global untuk menjadikan Islam sebagai “kambing hitam”.

Islam menjadi tertuduh. Pada tahun yang sama, penyerangan ke Afghanistan dimulai. Sebenarnya bukan tentang Osama bin Laden, melainkan pengamanan jalur minyak. Lalu konflik berlanjut ke negara lain. Dua tahun setelah itu, pada 2003, mereka menyerang Irak. Libya, Suriah, dan Sudan menyusul kemudian. Terakhir: Iran.

Pascaperistiwa 9/11, seperti disampaikan Jenderal Wesley Clark—mantan Komandan NATO di Eropa—politisi Amerika sudah mendapat perintah dari elit global agar dalam 5 tahun segera menyerang 7 negara ini: Irak, Suriah, Lebanon, Libya, Somalia, Sudan, dan terakhir Iran (Al-Jazeera, 2003). Namun tidak semua bisa diselesaikan dalam jangka waktu tersebut.

Beberapa negara Islam dikudeta lewat agen-agen internal, seperti Sudan. Ada yang dibombardir secara langsung, seperti Afghanistan dan Irak. Beberapa lainnya (Libya, Suriah, dan Iran) harus dilemahkan pelan-pelan lewat berbagai sanksi ekonomi.

Bahkan untuk kasus Suriah—negara yang sempat di-back-up Iran—harus terlebih dahulu diciptakan mesin pembunuh ISIS untuk proses pelumpuhan. Isinya juga Mossad, yang dipadukan dengan para jihadis yang tidak mengerti peta perang. Salah satu tokoh ISIS, Abu Muhammad Jolani Al-Shara, kini sudah menjadi Presiden Suriah. Seperti raja-raja Arab lain, Jolani sedang memainkan fungsinya secara baik sebagai presiden yang “manis” dan “islami”, yang tentunya patuh pada agenda Trump dan Israel. Patuh pada agenda jaringan dinasti elit global.

Pola Kudeta Global

Pergantian kepemimpinan semacam ini tidak hanya terjadi di negara-negara Arab atau Islam. Di Amerika Latin juga begitu. Seperti kasus kudeta internal terhadap Salvador Allende (Cile, 1973), intervensi langsung militer Amerika di Haiti (1915 dan 1994), tekanan politik terhadap Evo Morales (Bolivia, 2019), upaya kudeta terhadap Hugo Chávez (Venezuela, 2002), hingga penangkapan langsung Nicolás Maduro (Venezuela, 2026).

Ceritanya bisa berbeda. Lokasinya juga berlainan. Tapi mekanismenya sama: Lemahkan. Kudeta. Tangkap. Bom. Atau bunuh. Lalu ganti dengan pemimpin yang bisa diatur. Yang punya kepentingan tetap sama: elit keuangan global.

Itulah mengapa ada adagium: “Semua perang adalah perangnya para bankir.” Bukan karena bankir ikut menjatuhkan bom. Tapi merekalah yang membiayai perang. Mereka juga yang membangun ekonomi pascaperang. Dalam hal ini, bankir zionis paling banyak meraup keuntungan.

Keuntungan Jika Iran Jatuh

Dengan target pergantian kepemimpinan di Iran, ada beberapa keuntungan yang ingin dicapai:

  1. Perbankan Iran menjadi segaris dengan sistem imperium keuangan Rothschild.
  2. Pergerakan koloni Israel akan meluas, dan tidak ada lagi yang memperkuat gerakan perlawanan di kawasan.
  3. Pinjaman IMF mulai diberlakukan, payment system diaktifkan
  4. Privatisasi sumber daya alam (minyak, emas, perak, dll). Jaringan perusahaan energi Rockefeller (Exxon, dll) akan hadir untuk berbagi sumber daya alam.
  5. Pangkalan militer asing akan terbentuk untuk mengontrol wilayah, seperti yang dilakukan di hampir semua negara Arab.

Begitulah polanya. Sama. Setiap waktu. Di setiap tempat.

Sementara itu, jika Iran masih tetap bertahan sebagai negara independen, Iran akan tetap mengontrol mata uangnya, aliran modal, suku bunga, dan pendapatan dari sumber daya alamnya sendiri. Hal-hal ini akan membatasi kontrol dunia luar terhadap Iran. Rothschild tidak suka ini. Kemandirian sebuah negara menjadi masalah bagi Rothschild dan jaringan elit global. Karena itu, berapa pun biayanya, Iran harus dilumpuhkan.

Terlebih lagi, Iran merupakan negara Islam paling maju. Paling cerdas. Paling religius. Paling kuat identitas kesejarahannya. Paling canggih perkembangan sains dan teknologinya. Ini menjadi tantangan besar bagi kelompok para penyembah Baal.

Karena itu tidak heran, sejak awal Ayatullah Khomeini sudah menyebut kelompok zionis ini, Amerika dan Inggris, sebagai “setan”. Baru sekarang dunia paham, lewat bocornya file Epstein, bahwa Istana Inggris ternyata penyembah setan. Politisi Amerika dan Barat lainnya juga begitu. Dunia ini bukan hanya tempat perang uang, tapi juga perang spiritual: hitam vs. putih.

Apa yang Diinginkan Elit Global?

Anda mungkin bertanya, kenapa elit global ini begitu bernafsu mengurusi negara orang?

Jawabannya, karena ini tentang visi jangka panjang. Tepatnya visi “One World Order”. Tujuannya:

· Membentuk dunia menjadi satu negara tunggal (one world shadow state).
· Pengontrolan rute perdagangan.
· Financial leverage di bawah satu akun kekuasaan.
· Perwujudan proyek Israel Raya bagi satu bangsa “pilihan setan”.

Visi besar tanpa ujung inilah yang membuat mereka terus bersemangat melakukan hal-hal tak terbayangkan: kudeta, perampokan tanah dan sumber daya, kolonialisasi, hingga genosida.

Zionisme Rothschild tidak peduli dengan warga Amerika atau warga Iran. Ini bukan tentang “liberation”. Venezuela, Irak, Libya, dan sekarang Iran juga disodori isu “pembebasan”. Kebebasan yang ditawarkan hanyalah ilusi. Hanya orang bodoh yang percaya bahwa kebebasan bisa didatangkan lewat politisi pedofil dan tentara asing yang korup. Netanyahu korup. Trump korup. Keduanya masih tersangkut kasus korupsi. Semua politisi dunia korup. Hanya orang bodoh yang percaya kalau Rothschild menawarkan mereka kemerdekaan lewat tangan-tangan korup.

Kemerdekaan yang ditawarkan bukanlah kemandirian ekonomi, bukan kedaulatan, juga bukan kebijakan luar negeri yang netral. Kemerdekaan yang ditawarkan selalu berbentuk utang, privatisasi, basis militer, dan perang yang berkelanjutan. Yang sedang ditawarkan ke warga Iran bukan kebebasan, melainkan—seperti yang sudah diberikan kepada negara-negara yang telah hancur total—perbudakan.

Untungnya, warga Iran tidak sebodoh kita. Mereka lebih solid. Mereka sudah diberitahu sejak awal bahwa ini adalah perang melawan setan, melawan sebuah visi licik yang sedang membidik dunia dalam satu gerombolan kekuasaan. Karena itu, resistensinya kuat. Boleh jadi, Iran—walau berdarah-darah—akan muncul sebagai pemenang. Sejak dimulai pada 28 Februari 2026, rudal-rudal Iran mampu membuat pangkalan setan-setan ini terbakar. Imam Khamenei memang telah pergi sejak hari paling awal. Tapi ujung dari perang, para penerusnyalah yang menentukan.

Memerangi Visi “Dajjal”

Dari pembahasan di atas, kita sedikit banyak sudah memahami konsepsi “Dajjal”.

Dajjal adalah makhluk bermata satu, yang selama ini bersembunyi di balik layar. Melalui bala tentaranya (zionis dan Amerika), mereka menginginkan seluruh dunia dalam satu kontrol kekuasaan. Dajjal bukan hanya anti-Islam, tapi juga anti-christ, yang akan meludahi setiap Nasrani yang ia jumpai.

Dajjal adalah kekuatan sakti, sistem para bankir dan politisi penyembah setan yang terstruktur dan rapi. Sebuah elite system yang bersanad kepada figur-figur dalam Dinasti Rothschild, yang selama ini tersembunyi, tapi belakangan mulai muncul ke permukaan.

Mereka punya visi “mata satu”, yang simbolnya ada di mana-mana. Termasuk di uang dollar. Di situ mereka tulis, “In God We Trust”. God-nya bukan hanya Yahweh, tapi juga setan. Kerakusan. Mata satu adalah visi untuk membentuk satu aturan dunia baru (One World Order). Visinya besar, panjang, dan menggairahkan. Itulah motif yang membuat mereka bertahan. Kekayaannya tidak terhitung, tapi tidak pernah cukup.

Mereka merekrut dan menjebak orang-orang untuk menyembah Baal, yang tanduknya itu ada di puncak hotel tertinggi di samping Kakbah. Itu bukan bulan bintang. Itu tanduk Baal, yang di antara keduanya ada Mata Sauron. Persis seperti yang digambarkan dalam film The Lord of the Rings. Film-film Hollywood sering menggambarkan kenyataan-kenyataan yang sering gagal kita pahami.

Kenyataannya, seluruh lingkungan Masjidil Haram dipenuhi bisnis mereka. Semua hotel punya mereka. Semua hotel yang memenuhi Tanah Suci, induknya ada di Barat. Punya para Yahudi kaya. Jadi wajar mereka membawa sesembahan mereka ke sana untuk menyaingi Kakbah Anda. Dajjal memang tidak bisa masuk secara resmi ke sana, karena di KTP bukan Islam dia. Tapi bisnis beserta simbol-simbolnya mengepung rumah ibadah Anda.

Lagipula, untuk apa Dajjal pergi ke Makkah dan Madinah? Yang penting uang para peziarah masuk ke kantong mereka. Begitu juga uang dari industri-industri minyak di sana, ikut mengalir ke rekening mereka. Sebab, merekalah para kontraktornya.

Jadi, Iran itu sedang berhadapan dengan bala tentara Dajjal (zionis, Amerika, dan sekutunya). Indonesia katanya juga sudah mendaftarkan diri untuk menjadi pengikut Dajjal. Dan konon kabarnya, lembaga ulama ikut merestuinya.

Kan sudah diberitahu Nabi sejak dulu, tidak ada yang selamat dari tipu daya atau skenario Dajjal, kecuali orang yang punya kedaulatan, beriman, berani, dan cerdas.

Kita tunggu, apakah Iran berhasil dalam duel yang dahsyat ini. Sebuah perlawanan yang bisa meluas dan mengarah ke Perang Dunia III. Saat ini, dunia memang tidak lagi punya harapan selain kepada Iran. Iran pun, kalau kita lihat, tidak lagi berharap kepada dunia. Apalagi pada saudara-saudara Arab dan negara Islam lainnya. Mereka hanya berharap pada Tuhan dan rudal-rudalnya. Kalau syahid, memang itu yang dicari. Kalau menang, itu murni anugerah Tuhan.

Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa Aali Muhammad.**

Penulis : Oleh Said Muniruddin | RECTOR | The Suficademic

Editor : Tim Redaksi

Sumber Berita: HaikunNews.id

Berita Terkait

RUDAL IRAN MENEMBUS 4.000 KM: Peringatan Keras untuk Amerika di Diego Garcia
Hipersonik Mengguncang Dunia: Mitos Superioritas Udara AS–Israel Runtuh, Teluk Berubah Jadi Medan Atrisi Global
Tegaskan Protes, Indonesia Sebut Penghancuran Fasilitas UNRWA oleh Israel Sebagai Tindakan Ilegal
Menjaga Integritas Somalia: Posisi Tegas Indonesia Atas Manuver Israel di Somaliland
Indonesia Resmi Pimpin Dewan HAM PBB 2026: Usung Tema “A Presidency for All”
Operasi 300 Menit: Bedah Teknis Penculikan Presiden Venezuela
Kim Jong Un Kirim Peringatan Keras ke Washington: Venezuela Resmi Jadi Isu Keamanan Global
Memasuki Tahun Ketiga Perang Sudan, Sekjen PBB Desak Gencatan Senjata Permanen dan Transisi Sipil
Berita ini 77 kali dibaca
Dilarang Mengambil dan/atau Menayangkan Ulang Sebagian Atau Keseluruhan Artikel di atas untuk Konten Akun Media Sosial Komersil Tanpa Seizin Redaksi HaikunNews.Id.

Berita Terkait

Senin, 23 Maret 2026 - 19:02 WIB

RUDAL IRAN MENEMBUS 4.000 KM: Peringatan Keras untuk Amerika di Diego Garcia

Minggu, 8 Maret 2026 - 19:32 WIB

Iran “Batu Sandungan” Berat Bagi Dinasti Rothschild

Rabu, 4 Maret 2026 - 00:53 WIB

Hipersonik Mengguncang Dunia: Mitos Superioritas Udara AS–Israel Runtuh, Teluk Berubah Jadi Medan Atrisi Global

Kamis, 22 Januari 2026 - 10:53 WIB

Tegaskan Protes, Indonesia Sebut Penghancuran Fasilitas UNRWA oleh Israel Sebagai Tindakan Ilegal

Selasa, 13 Januari 2026 - 19:00 WIB

Menjaga Integritas Somalia: Posisi Tegas Indonesia Atas Manuver Israel di Somaliland

Berita Terbaru