Wahai para pencari ilmu, para pemegang amanah, dan para penjaga nurani bangsa,
- berhentilah sejenak dan bertanyalah pada diri= kita masing-masing:
- Apakah ilmu yang kita miliki masih menjadi cahaya,atau telah berubah menjadi alat pembenar kepentingan?
- Ilmu dalam pandangan Allah bukan sekadar kecakapan berpikir, bukan pula sekadar gelar, jabatan, atau legitimasi akademik.
- Ilmu adalah cahaya yang Allah titipkan agar manusia mengenal kebenaran, dan dari kebenaran itu menegakkan keadilan.
- Ketika ilmu tidak lagi melahirkan kejujuran, ketika kecerdasan justru dipakai untuk membungkam yang lemah, ketika hukum disusun rapi tetapi melukai rasa keadilan, saat itulah ilmu telah kehilangan nur, dan hukum telah kehilangan jiwa.
Inilah tanda zaman edan:
yang batil dipoles seolah rasional,
yang zalim dibungkus prosedur,
yang benar dianggap mengganggu stabilitas,
dan yang diam justru disebut bijak.
- Pada saat seperti ini, diamnya orang berilmu bukanlah netralitas, melainkan kelalaian amanah.
- Allah tidak meminta kita menjadi sempurna, tetapi Allah meminta kita jujur pada kebenaran dan berdiri di pihak keadilan, meski harus berhadapan dengan arus kekuasaan, meski harus kehilangan kenyamanan.
- Wahai para pemimpin, ingatlah bahwa kekuasaan adalah ujian, bukan kehormatan.
- Ia akan dimintai pertanggungjawaban bukan atas keberhasilan pencitraan, melainkan atas keadilan yang dirasakan rakyat.
Wahai para ulama dan cendekiawan, ingatlah bahwa ilmu adalah amanah kenabian. - Ia bukan untuk diam ketika kebenaran dilukai, bukan untuk tunduk pada rasa takut kehilangan akses dan posisi.
Dan wahai para pencari ilmu di semua lapisan,
- jagalah agar akal tidak berjalan tanpa rasa, dan rasa tidak buta tanpa akal.
- Sebab kebenaran bukan hanya dikenali oleh akal, tetapi juga diterima dan dihidupkan oleh hati.
- Jika hari ini kita melihat hukum yang melenceng, keadilan yang timpang, dan kebenaran yang disembunyikan, jangan buru-buru menunjuk orang lain.
- Mulailah dari diri sendiri:
Apakah aku masih jujur dengan ilmuku?
Apakah aku masih berani pada kebenaran?
Apakah aku masih setia pada keadilan Allah?
Karena pada akhirnya, bangsa tidak runtuh karena kurangnya orang pintar, tetapi karena orang pintar kehilangan keberanian moral.
Semoga Allah menjaga ilmu kita tetap mempunyai nur, menjaga hati kita tetap hidup, dan menjadikan kita bagian dari orang-orang yang memilih eling lan waspada, bukan larut dalam edannya zaman. Ya Allah, jangan Engkau cabut cahaya ilmu dari hati kami, dan jangan Engkau jadikan kami saksi yang diam ketika kebenaran-Mu dilukai dan keadilan-Mu diabaikan.
Amin y.r.a
Penulis : Suripno si burung Pipit
Editor : Redaksi
Sumber Berita: haikunnews.id







