Tubuh dan Jiwa sebagai Amanat: Pesan Rumi Mengarungi Zaman Kini

(Berdasarkan Fihi Ma Fihi – Isyarat-Isyarat Gaib, Jalaluddin Rumi)

admin

- Redaksi

Selasa, 25 November 2025 - 13:46 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Tubuh dan Jiwa sebagai Amanat: Pesan Rumi Mengarungi Zaman Kini FOTO : HN

Tubuh dan Jiwa sebagai Amanat: Pesan Rumi Mengarungi Zaman Kini FOTO : HN

IV. “Matilah Sebelum Kau Mati” dan “Jadilah Cahaya Tuhan”

A. Makna “Matilah Sebelum Kau Mati”

Istilah ini adalah inti tasawuf Rumi dan hadis Nabi:

Dalil Hadis

Rasulullah SAW bersabda: “Mutu qabla an tamutu — Matilah sebelum kalian mati.” (HR. Baihaqi – makna kiasan, diterima luas oleh ulama tasawuf).

Maknanya:

1. Mematikan nafsu (QS Al-Fajr 89:27–30: nafsu mutmainnah).

2. Melepaskan diri dari ego agar yang tampak hanyalah kehendak Allah (QS Al-An‘am 6:162).

3. Menghancurkan keakuan sehingga lahir identitas baru yang bercahaya.

Rumi menulis: “Matilah dari sifat burukmu agar kau bangkit dalam cahaya.”

B. “Jadilah Cahaya Tuhan”

Terinspirasi dari ayat:

Dalil Qur’an

1. QS An-Nur 24:35
“Allah adalah Cahaya langit dan bumi…”
→ Tafsir Al-Qurthubi: Cahaya berarti hidayah, petunjuk, dan nur makrifat dalam hati.

2. QS Az-Zumar 39:22
“Apakah orang yang Allah lapangkan dadanya bagi Islam lalu ia mendapat cahaya dari Tuhannya…?”

3. QS Al-Hadid 57:12
“Pada hari kiamat, cahaya (nur) mereka memancar di hadapan dan di sisi kanan mereka.”

Makna menurut Rumi

Cahaya Tuhan adalah kesadaran ilahiyah yang menghidupkan hati.

Manusia menjadi “cahaya” saat ia:

  1. Mensucikan jiwa,
  2. Menghapus ego,
  3. Menghidupkan akhlak Ilahi (rahmah, adil, jujur).

Rumi berkata: Bila cahaya Tuhan masuk ke hati, ia membakar segala selain-Nya.

V. Relevansi di Zaman Sekarang

Pesan Rumi sangat relevan terhadap kondisi “zaman edan”, krisis moral, korupsi, fanatisme politik, tekanan hidup, serta budaya egoisme.

A. Relevansi Personal

  1. Mengelola tubuh dan jiwa sebagai amanat → kesehatan, akal, dan moral terjaga.
  2. “Matilah sebelum mati” menjadi strategi pengendalian diri dari hawa nafsu konsumtif, materialistik, dan politik kebencian.
  3. “Menjadi cahaya” berarti memberi manfaat bagi bangsa.

B. Relevansi Sosial

  1. Ego yang membesar melahirkan ketidakadilan struktural.
  2. Amanat publik sering dikhianati.

Rumi mengajarkan pemimpin dan cendekiawan untuk melebur ego demi kemaslahatan.

C. Relevansi Politik & Governance

  1. Negara maju membutuhkan pejabat yang memandang jabatan sebagai amanat, bukan milik pribadi.
  2. Pemimpin yang “mati sebelum mati” tidak rakus kekuasaan.
  3. Ulama dan akademisi menjadi cahaya ketika berani berkata benar dalam sistem yang zalim.

D. Rujukan Ulama Klasik & Kontemporer

  1. Imam Ghazali: jalan tazkiyah adalah mematikan hawa nafsu untuk hidup dalam nur makrifat.
  2. Ibn Qayyim: cahaya hati lahir dari kejujuran, ketakwaan, dan menjauhi maksiat.
  3. Syekh Abdul Qadir al-Jailani: fana’ dari keakuan adalah pintu baqa’ bersama Allah.
  4. Syekh Hamka: bangsa rusak karena hilangnya amanat dan cahaya kejujuran.
  5. Quraish Shihab: amanat adalah segala kemampuan yang harus dikembalikan kepada tujuan Ilahi.

VI. Kesimpulan

  1. Rumi mengajarkan bahwa tubuh dan jiwa adalah amanat Ilahi yang harus dijaga, disucikan, dan diarahkan menuju Tuhan.
  2. “Matilah sebelum mati” adalah metode spiritual untuk memusnahkan ego dan menghidupkan kesadaran Ilahi.
  3. “Jadilah cahaya Tuhan” adalah panggilan untuk menyebarkan kejujuran, kasih, dan keadilan dalam kehidupan pribadi, sosial, dan kenegaraan.
  4. Pesan Rumi sangat relevan untuk menjawab kegelisahan zaman: krisis moral, korupsi, kekerasan, manipulasi, dan hilangnya amanat.

VII. Rekomendasi Kebijakan Nilai

1. Bagi Ulama dan Cendekiawan:

Hidupkan kembali tradisi penyucian jiwa, adab, dan keberanian moral.

Jadilah cahaya, bukan bayangan kekuasaan.

2. Bagi Pemimpin Publik:

Tegakkan amanat jabatan dengan transparansi dan anti-korupsi.

Mengutamakan kepentingan rakyat di atas kepentingan pribadi/kelompok.

3. Bagi Masyarakat:

Jaga tubuh dan jiwa sebagai amanat.

Bangun budaya kasih, bukan budaya benci.

4. Bagi NKRI:

Sistem hukum dan pemerintahan harus berlandaskan amanat, keadilan, dan cahaya moral.

VIII. Pesan Reflektif untuk Ulama & Cendekiawan

“Barang siapa mati dari egonya, ia hidup bagi manusia.” – Rumi

Wahai ulama dan cendekiawan NKRI:

  • Jadilah lentera dalam gelapnya zaman.
  • Jangan biarkan kezaliman dan ketidakadilan tumbuh karena diamnya orang berilmu.
  • Tugas anda bukan hanya menjelaskan ayat, tetapi menyalakan nur ayat di tengah masyarakat.

Masyarakat menunggu cahaya dari qalbu-2 yang bersih, bukan dari gelar atau jabatan.

Penulis : Drs. Suripno. Mstr

Editor : Redaksi

Sumber Berita: haikunnews.id

Berita Terkait

Tujuh Tingkatan Wujud (Maqāmāt An-Nafs) dan Urgensinya Bagi Orang Berilmu di Zaman Sekarang
Indikator Kezaliman Individual dan Struktural Beserta Dalilnya (Seri-2)
Kezaliman Individual dan Kezaliman Struktural Dalam Perspektif Al Quran, Hadis, dan Ulama: Akar Masalah, Tanggung Jawab Moral, dan Konsekuensi Illahiyah (Seri-1)
REFORMASI PEMILU ; Langkah Awal Amandemen UUD 1945 dan Pembangunan Sistem Hukum Indonesia Berbasis Kebenaran dan Keadilan Allah
Hakikat Ilmu dalam Tradisi Ulama Klasik dan Keunggulannya atas Filsafat Ilmu Modern
Kelembutan Hati dan Tangisan yang Bermuara pada Cinta Kepada Allah sebagai Bekal Mengarungi Zaman Edan
Mengenang Sufi Agung Wanita Rabi’ah Al Adawiyyah dan Ajarannya (Seri-7)
Amanah Pemimpin Beriman, dan Kewajiban Menegakkan Kebenaran Allah serta Keadilan Allah
Berita ini 10 kali dibaca
Dilarang Mengambil dan/atau Menayangkan Ulang Sebagian Atau Keseluruhan Artikel di atas untuk Konten Akun Media Sosial Komersil Tanpa Seizin Redaksi HaikunNews.Id.

Berita Terkait

Selasa, 17 Februari 2026 - 19:33 WIB

Tujuh Tingkatan Wujud (Maqāmāt An-Nafs) dan Urgensinya Bagi Orang Berilmu di Zaman Sekarang

Selasa, 3 Februari 2026 - 10:19 WIB

Indikator Kezaliman Individual dan Struktural Beserta Dalilnya (Seri-2)

Selasa, 3 Februari 2026 - 10:08 WIB

Kezaliman Individual dan Kezaliman Struktural Dalam Perspektif Al Quran, Hadis, dan Ulama: Akar Masalah, Tanggung Jawab Moral, dan Konsekuensi Illahiyah (Seri-1)

Senin, 12 Januari 2026 - 01:21 WIB

REFORMASI PEMILU ; Langkah Awal Amandemen UUD 1945 dan Pembangunan Sistem Hukum Indonesia Berbasis Kebenaran dan Keadilan Allah

Sabtu, 10 Januari 2026 - 07:43 WIB

Hakikat Ilmu dalam Tradisi Ulama Klasik dan Keunggulannya atas Filsafat Ilmu Modern

Berita Terbaru