IV. “Matilah Sebelum Kau Mati” dan “Jadilah Cahaya Tuhan”
A. Makna “Matilah Sebelum Kau Mati”
Istilah ini adalah inti tasawuf Rumi dan hadis Nabi:
Dalil Hadis
Rasulullah SAW bersabda: “Mutu qabla an tamutu — Matilah sebelum kalian mati.” (HR. Baihaqi – makna kiasan, diterima luas oleh ulama tasawuf).
Maknanya:
1. Mematikan nafsu (QS Al-Fajr 89:27–30: nafsu mutmainnah).
2. Melepaskan diri dari ego agar yang tampak hanyalah kehendak Allah (QS Al-An‘am 6:162).
3. Menghancurkan keakuan sehingga lahir identitas baru yang bercahaya.
Rumi menulis: “Matilah dari sifat burukmu agar kau bangkit dalam cahaya.”
B. “Jadilah Cahaya Tuhan”
Terinspirasi dari ayat:
Dalil Qur’an
1. QS An-Nur 24:35
“Allah adalah Cahaya langit dan bumi…”
→ Tafsir Al-Qurthubi: Cahaya berarti hidayah, petunjuk, dan nur makrifat dalam hati.
2. QS Az-Zumar 39:22
“Apakah orang yang Allah lapangkan dadanya bagi Islam lalu ia mendapat cahaya dari Tuhannya…?”
3. QS Al-Hadid 57:12
“Pada hari kiamat, cahaya (nur) mereka memancar di hadapan dan di sisi kanan mereka.”
Makna menurut Rumi
Cahaya Tuhan adalah kesadaran ilahiyah yang menghidupkan hati.
Manusia menjadi “cahaya” saat ia:
- Mensucikan jiwa,
- Menghapus ego,
- Menghidupkan akhlak Ilahi (rahmah, adil, jujur).
Rumi berkata: Bila cahaya Tuhan masuk ke hati, ia membakar segala selain-Nya.
V. Relevansi di Zaman Sekarang
Pesan Rumi sangat relevan terhadap kondisi “zaman edan”, krisis moral, korupsi, fanatisme politik, tekanan hidup, serta budaya egoisme.
A. Relevansi Personal
- Mengelola tubuh dan jiwa sebagai amanat → kesehatan, akal, dan moral terjaga.
- “Matilah sebelum mati” menjadi strategi pengendalian diri dari hawa nafsu konsumtif, materialistik, dan politik kebencian.
- “Menjadi cahaya” berarti memberi manfaat bagi bangsa.
B. Relevansi Sosial
- Ego yang membesar melahirkan ketidakadilan struktural.
- Amanat publik sering dikhianati.
Rumi mengajarkan pemimpin dan cendekiawan untuk melebur ego demi kemaslahatan.
C. Relevansi Politik & Governance
- Negara maju membutuhkan pejabat yang memandang jabatan sebagai amanat, bukan milik pribadi.
- Pemimpin yang “mati sebelum mati” tidak rakus kekuasaan.
- Ulama dan akademisi menjadi cahaya ketika berani berkata benar dalam sistem yang zalim.
D. Rujukan Ulama Klasik & Kontemporer
- Imam Ghazali: jalan tazkiyah adalah mematikan hawa nafsu untuk hidup dalam nur makrifat.
- Ibn Qayyim: cahaya hati lahir dari kejujuran, ketakwaan, dan menjauhi maksiat.
- Syekh Abdul Qadir al-Jailani: fana’ dari keakuan adalah pintu baqa’ bersama Allah.
- Syekh Hamka: bangsa rusak karena hilangnya amanat dan cahaya kejujuran.
- Quraish Shihab: amanat adalah segala kemampuan yang harus dikembalikan kepada tujuan Ilahi.
VI. Kesimpulan
- Rumi mengajarkan bahwa tubuh dan jiwa adalah amanat Ilahi yang harus dijaga, disucikan, dan diarahkan menuju Tuhan.
- “Matilah sebelum mati” adalah metode spiritual untuk memusnahkan ego dan menghidupkan kesadaran Ilahi.
- “Jadilah cahaya Tuhan” adalah panggilan untuk menyebarkan kejujuran, kasih, dan keadilan dalam kehidupan pribadi, sosial, dan kenegaraan.
- Pesan Rumi sangat relevan untuk menjawab kegelisahan zaman: krisis moral, korupsi, kekerasan, manipulasi, dan hilangnya amanat.
VII. Rekomendasi Kebijakan Nilai
1. Bagi Ulama dan Cendekiawan:
Hidupkan kembali tradisi penyucian jiwa, adab, dan keberanian moral.
Jadilah cahaya, bukan bayangan kekuasaan.
2. Bagi Pemimpin Publik:
Tegakkan amanat jabatan dengan transparansi dan anti-korupsi.
Mengutamakan kepentingan rakyat di atas kepentingan pribadi/kelompok.
3. Bagi Masyarakat:
Jaga tubuh dan jiwa sebagai amanat.
Bangun budaya kasih, bukan budaya benci.
4. Bagi NKRI:
Sistem hukum dan pemerintahan harus berlandaskan amanat, keadilan, dan cahaya moral.
VIII. Pesan Reflektif untuk Ulama & Cendekiawan
“Barang siapa mati dari egonya, ia hidup bagi manusia.” – Rumi
Wahai ulama dan cendekiawan NKRI:
- Jadilah lentera dalam gelapnya zaman.
- Jangan biarkan kezaliman dan ketidakadilan tumbuh karena diamnya orang berilmu.
- Tugas anda bukan hanya menjelaskan ayat, tetapi menyalakan nur ayat di tengah masyarakat.
Masyarakat menunggu cahaya dari qalbu-2 yang bersih, bukan dari gelar atau jabatan.
Penulis : Drs. Suripno. Mstr
Editor : Redaksi
Sumber Berita: haikunnews.id
Halaman : 1 2







