Amanah Pemimpin Beriman, dan Kewajiban Menegakkan Kebenaran Allah serta Keadilan Allah

Pesan Reflektif Untuk Pemimpin

admin

- Redaksi

Sabtu, 20 Desember 2025 - 19:08 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Amanah Pemimpin Beriman, dan Kewajiban Menegakkan Kebenaran Allah serta Keadilan Allah. FOTO : ILustrasi/AI

Amanah Pemimpin Beriman, dan Kewajiban Menegakkan Kebenaran Allah serta Keadilan Allah. FOTO : ILustrasi/AI

Amanah Pemimpin Beriman, dan Kewajiban Menegakkan Kebenaran Allah serta Keadilan Allah

A. Situasi Singkat

  1. Banjir bandang yang melanda Aceh, Sumut, dan Sumbar telah menimbulkan kerusakan besar, ribuan pengungsi, dan munculnya “tsunami kayu” yang mengalir hingga Danau Singkarak.
  2. Fenomena kayu gelondongan dalam jumlah besar merupakan indikasi kuat adanya deforestasi, pembalakan liar, dan kerusakan DAS di wilayah hulu.
  3. Bencana ini menuntut respons moral, spiritual, dan kebijakan yang kuat dari para pemimpin yang beriman.
  4. Dalam perspektif Islam, bencana ekologis bukan sekadar peristiwa alam, melainkan indikator kerusakan moral, kerusakan tata kelola, serta peringatan keras Allah kepada manusia dan para pemimpin.
  • Al-Qur’an menegaskan: “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut akibat ulah tangan manusia, agar Allah membuat mereka merasakan sebagian dari akibat perbuatannya…” (QS al-Rūm 30:41) [1]

B. Prinsip Dasar
1. Kebenaran Allah dan Keadilan Allah dalam Pengelolaan Lingkungan

a. Amanah Kepemimpinan

Pemimpin adalah penjaga amanah (ra’in) dan akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah:

“Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawabannya.” (HR Bukhari dan Muslim) [2]

Dalam konteks bencana ekologis, amanah itu mencakup menjaga hutan, DAS, tata ruang, keselamatan rakyat, dan mencegah kezaliman yang merusak bumi.

b. Larangan Fasād (Perusakan Bumi)

Allah berfirman: “Janganlah kalian membuat kerusakan di bumi setelah Allah memperbaikinya.” (QS al-A’raf 7:56) [3]

Deforestasi besar-besaran, korupsi izin, dan kelalaian negara dalam melindungi kelestarian alam termasuk fasād yang diharamkan.

c. Maqāṣid al-Syarī‘ah

Ulama klasik dan kontemporer menegaskan bahwa menjaga lingkungan (ḥifẓ al-bī’ah) adalah bagian dari maqāṣid, karena kerusakan lingkungan merusak jiwa, keturunan, harta, dan keberlangsungan kehidupan. [4]

 

C. Apa yang Wajib Dilakukan Pemimpin Beriman

1. Mengungkap Kebenaran Secara Terbuka

  • Melakukan audit menyeluruh terhadap seluruh izin kehutanan, tambang, dan penggunaan lahan di DAS terdampak.
  • Mengumumkan kepada publik akar masalah, penyebab deforestasi, dan pihak-pihak yang diuntungkan atau terlibat.
  • Ini adalah bentuk sidq (kejujuran) dan bayyanah (transparansi), keduanya perintah Allah dalam QS an-Nisa’ 135 tentang menegakkan keadilan sekalipun terhadap diri sendiri.

2. Menegakkan Keadilan Tanpa Tebang Pilih

  • Penindakan tegas terhadap mafia kayu, pembalak liar, pelaku korupsi izin, dan aparat yang lalai.
  • Ulama besar seperti al-Ghazali menyebut bahwa pemimpin yang membiarkan kezaliman berarti ia ikut memikul dosa kezaliman itu. [5]
  • Menegakkan hukum setara dengan maqāṣid ḥifẓ al-nafs (menjaga jiwa) karena kerusakan hutan terbukti membunuh rakyat.

3. Melindungi Korban dan Melakukan Pemulihan Berkeadilan

  • Pemenuhan kebutuhan dasar para pengungsi tanpa diskriminasi.
  • Rehabilitasi hutan dan restorasi DAS sebagai prioritas nasional.
  • Relokasi yang manusiawi, melibatkan masyarakat, serta menjamin akses lahan dan mata pencaharian.

4. Reformasi Tata Ruang dan Moratorium Deforestasi

  • Menetapkan kawasan hulu sebagai zona lindung absolut.
  • Memberlakukan moratorium izin baru pada wilayah DAS kritis.
  • Menata ulang tata ruang berdasarkan daya dukung ekosistem, bukan tekanan ekonomi-politik.

5. Mengarus- utamakan Teologi Lingkungan dalam Pemerintahan

  • Bekerja sama dengan MUI dan ormas Islam untuk merumuskan Fatwa Nasional Perlindungan Hutan dan DAS.
  • Menjadikan rehabilitasi hutan sebagai sedekah jariyah nasional.
  • Mendorong pesantren, masjid, dan sekolah memasukkan pendidikan fiqh lingkungan.

D. Konsekuensi Teologis dan Spiritual Bila Pemimpin Mengabaikan Amanah Ini

1. Dosa Khianat Amanah

Allah memperingatkan:

“Janganlah kalian mengkhianati Allah, Rasul, dan amanah-amanah yang dipercayakan kepada kalian.” (QS al-Anfal 8:27) [6]

Pemimpin yang tahu penyebab kerusakan tetapi tidak memperbaikinya adalah pengkhianat amanah.

2. Ancaman Azab Kolektif

Allah berfirman:

“Takutlah kepada fitnah (azab) yang tidak menimpa orang-orang zalim saja di antara kalian.” (QS al-Anfal 8:25) [7]

Hadis Nabi menegaskan bahwa ketika kemaksiatan (termasuk korupsi dan perusakan bumi) dibiarkan, azab Allah dapat turun menimpa seluruh masyarakat. [8]

3. Hilangnya Keberkahan Negeri

Kerusakan ekosistem berujung pada:

  • Krisis air
  • Krisis pangan
  • Konflik sosial
  • Kemiskinan struktural
  • Siklus bencana berulang

Dalam teologi Islam, hilangnya barakah adalah tanda Allah mencabut rahmat-Nya dari negeri yang membiarkan kezaliman. [9]

4. Kekerasan Hati (qaswat al-qalb)

  • Ulama tasawuf menjelaskan bahwa salah satu tanda kerasnya hati pemimpin adalah diam terhadap tangisan korban dan kerusakan alam, serta menganggapnya hal biasa. [10]

 

E. Pesan Penutup: Jalan Keluar bagi Pemimpin Beriman

  1. Musibah banjir Sumatera adalah peringatan, bukan sekadar bencana.
  2. Jika disikapi dengan iman, ia menjadi pintu taubat nasional dan momentum pembenahan sistemik.
  3. Butuh pemimpin yang:
  • jujur
  • tegas terhadap mafia hutan,
  • berpihak pada rakyat,
  • menjaga amanah Allah atas bumi,
  • dan menjadikan kebijakan publik sebagai ibadah.

Kebenaran Allah harus ditegakkan.
Keadilan Allah harus diwujudkan.
Dan bumi Allah harus dijaga.

CATATAN KAKI

[1] QS al-Rūm 30:41, Tafsir al-Mishbah.
[2] HR Bukhari-Muslim, Kitab al-Ahkam.
[3] QS al-A’raf 7:56.
[4] Jasser Auda, Maqasid al-Shariah as Philosophy of Islamic Law.
[5] Al-Ghazali, Ihya’ Ulumuddin, bab al-Amr bi al-Ma’ruf.
[6] QS al-Anfal 8:27.
[7] QS al-Anfal 8:25.
[8] HR Abu Dawud dan Tirmidzi tentang azab kolektif.
[9] Ibn Kathir, tafsir QS al-A’raf 96.
[10] Ibn al-Qayyim, al-Fawaid, bab kerasnya hati.

Penulis : Drs. Suripno. Mstr

Editor : Redaksi

Sumber Berita: haikunnews.id

Berita Terkait

Tujuh Tingkatan Wujud (Maqāmāt An-Nafs) dan Urgensinya Bagi Orang Berilmu di Zaman Sekarang
Indikator Kezaliman Individual dan Struktural Beserta Dalilnya (Seri-2)
Kezaliman Individual dan Kezaliman Struktural Dalam Perspektif Al Quran, Hadis, dan Ulama: Akar Masalah, Tanggung Jawab Moral, dan Konsekuensi Illahiyah (Seri-1)
REFORMASI PEMILU ; Langkah Awal Amandemen UUD 1945 dan Pembangunan Sistem Hukum Indonesia Berbasis Kebenaran dan Keadilan Allah
Hakikat Ilmu dalam Tradisi Ulama Klasik dan Keunggulannya atas Filsafat Ilmu Modern
Kelembutan Hati dan Tangisan yang Bermuara pada Cinta Kepada Allah sebagai Bekal Mengarungi Zaman Edan
Mengenang Sufi Agung Wanita Rabi’ah Al Adawiyyah dan Ajarannya (Seri-7)
Mengenang Sufi Agung Wanita Rabi’ah Al Adawiyyah dan Ajarannys (Seri-5)
Berita ini 9 kali dibaca
Dilarang Mengambil dan/atau Menayangkan Ulang Sebagian Atau Keseluruhan Artikel di atas untuk Konten Akun Media Sosial Komersil Tanpa Seizin Redaksi HaikunNews.Id.

Berita Terkait

Selasa, 17 Februari 2026 - 19:33 WIB

Tujuh Tingkatan Wujud (Maqāmāt An-Nafs) dan Urgensinya Bagi Orang Berilmu di Zaman Sekarang

Selasa, 3 Februari 2026 - 10:19 WIB

Indikator Kezaliman Individual dan Struktural Beserta Dalilnya (Seri-2)

Selasa, 3 Februari 2026 - 10:08 WIB

Kezaliman Individual dan Kezaliman Struktural Dalam Perspektif Al Quran, Hadis, dan Ulama: Akar Masalah, Tanggung Jawab Moral, dan Konsekuensi Illahiyah (Seri-1)

Senin, 12 Januari 2026 - 01:21 WIB

REFORMASI PEMILU ; Langkah Awal Amandemen UUD 1945 dan Pembangunan Sistem Hukum Indonesia Berbasis Kebenaran dan Keadilan Allah

Sabtu, 10 Januari 2026 - 07:43 WIB

Hakikat Ilmu dalam Tradisi Ulama Klasik dan Keunggulannya atas Filsafat Ilmu Modern

Berita Terbaru

Iran

Internasional

Iran “Batu Sandungan” Berat Bagi Dinasti Rothschild

Minggu, 8 Mar 2026 - 19:32 WIB

Pemimpin Adil dan Beriman vs Pemimpin Zalim dan Tidak Beriman. FOTO : Ilustrasi

Tarbiyah

Pemimpin Adil dan Beriman vs Pemimpin Zalim dan Tidak Beriman

Selasa, 17 Feb 2026 - 19:18 WIB