Pengantar
- Setelah memahami Ma’rifatullah dan Fana menurut ajaran Rabi’ah Al Adawiyyah, selanjutnya kita renungkan Penerapan Ajaran Rābi‘ah al-‘Adawiyyah dalam Kondisi “Zaman Edan”,
- Bab ini menghubungkan ajaran cinta, ridha, ma‘rifat, dan fanā’ Rābi‘ah dengan realitas sosial-politik dan spiritual zaman kekacauan (zaman edan, kalut, kolotido, kolo bendu).
- Mari kita Renungkan
BAB XIII PENERAPAN AJARAN RĀBI‘AH AL-‘ADAWIYYAH DALAM KONDISI “ZAMAN EDAN”
A. Umum
1. “Zaman edan”—sebuah istilah Jawa klasik—menggambarkan suatu masa ketika:
* nilai-nilai runtuh,
* pemimpin tidak amanah,
* ulama banyak diam,
* keburukan dianggap kebenaran,
* manusia mengejar dunia dengan cara yang tanpa malu, dan
* keadilan menjadi barang langka.
2. Dalam literatur Islam, zaman ini disebut fitnah akhir zaman, fasād, atau masa ketika manusia lebih mencintai dunia dan melupakan akhirat.[1]
3. Di tengah kekacauan nilai, ajaran Rābi‘ah al-‘Adawiyyah hadir bagaikan air jernih bagi jiwa yang haus.
4. Tasawuf Rābi‘ah bukan untuk lari dari realitas, melainkan untuk menjernihkan hati agar mampu menghadapi realitas dengan kekuatan batin yang tak tergoyahkan.
B. Makna “Zaman Edan” Menurut Kacamata Tasawuf
Bagi para sufi, zaman edan bukan semata kondisi sosial, tetapi:
1. Zaman ketika hati jauh dari Allah,
2. Zaman ketika hawa nafsu menjadi raja,
3. Zaman ketika kebenaran dikalahkan oleh kepentingan,
4. Zaman ketika manusia kehilangan rasa malu,
5. Zaman ketika ulama dan cendekiawan serta para ahli takut berkata benar sehingga diam
Rābi‘ah hidup pada masa pergolakan politik dan sosial, tetapi ia tidak tergulung oleh arus zaman karena memegang teguh cinta Ilahi sebagai poros hidupnya.
Ajarannya memberi fondasi bagaimana hati tetap bersinar meski dunia gelap.
C. Prinsip Utama Ajaran Rābi‘ah dalam Menghadapi Zaman Edan
1. Menjaga Kebenihan Hati (Tashfiyat al-Qalb)
Zaman edan membuat hati keruh:
* marah,
* iri,
* takut,
* cemas,
* pesimis.
Rābi‘ah mengajarkan:
> Jika hati dipenuhi cinta Allah, tidak ada ruang bagi selain-Nya.”[2]
Aplikasi di zaman edan:
* tidak ikut arus kebencian,
* tidak larut dalam provokasi politik,
* tidak membalas keburukan dengan keburukan,
* menjaga akhlak meski lingkungan runtuh.
* Hati yang bersih adalah benteng spiritual.
2. Tidak Memuja Dunia (Zuhud Hakiki)
Zaman edan ditandai oleh:
* kerakusan,
* korupsi,
* konsumtivisme.
Rābi‘ah berkata:
> Dunia adalah penghalang bagi hati yang ingin dekat kepada Allah.”[3]
Aplikasi masa kini:
* sederhana dalam hidup,
* tidak mengejar jabatan dengan cara kotor,
* tidak menjadi hamba uang,
* menjauhi gaya hidup pamer.
Zuhud versi Rābi‘ah bukan hidup miskin, tetapi tidak diperbudak dunia.
3. Menguatkan Sabar dan Ridha di Tengah Kekalutan
Di zaman edan, manusia mudah putus asa.
Rābi‘ah memandang sabar bukan kelemahan, tetapi senjata spiritual.
> Sabar itu indah bila engkau tahu dari siapa ujian itu datang.”[4]
Aplikasi modern:
* tenang ketika kezaliman merajalela,
* tidak ikut teriak panik ketika dunia gempar,
* tidak kehilangan integritas ketika dicaci,
* tetap memegang kebenaran meski sendirian.
4. Cinta Sebagai Obat Kebencian Zaman
Zaman edan ditandai oleh:
* polarisasi,
* permusuhan,
* saling hujat,
* hilangnya kasih sayang.
Rābi‘ah menghadirkan paradigma:
“Cinta tidak mengenal dua tuan. Jika Allah berada di hatimu, tidak ada ruang bagi kebencian.”[5]
Aplikasi masa kini:
* memaafkan meski sulit,
* tidak menyimpan dendam politik atau sosial,
* menghormati orang meskipun berbeda pilihan,
* memberi kasih kepada yang mencerca.
5. Ma‘rifat sebagai Penuntun dalam Keputusan Hidup
Dalam kekacauan zaman, banyak manusia kehilangan arah. Rābi‘ah mengajarkan bahwa petunjuk sejati bukan dari:
* suara mayoritas,
* trend sosial,
* atau kekuasaan politik,
*
tetapi dari cahaya ma‘rifat.
“Allah mengenalkanku kepada-Nya, maka aku mengenal jalan yang benar.”[6]
Aplikasi masa kini:
* mendasarkan keputusan pada nilai Ilahi, bukan kepentingan,
* mendahulukan akhlak atas keuntungan,
* menjalankan amanah meski tidak dilihat manusia.
6. Fanā’ untuk Menghilangkan Ego Kolektif di Zaman Edan
Zaman edan ditandai egoisme:
* merasa paling benar,
* paling suci,
* paling berjasa,
* paling layak dihormati.
Padahal Rābi‘ah mengajarkan:
“Yang menjadi hijab antara engkau dan Allah adalah dirimu sendiri.”[7]
Aplikasi masa kini:
* meruntuhkan kesombongan intelektual,
* merendahkan hati dalam perbedaan,
* tidak memaksakan kehendak,
* siap mengalah demi kemaslahatan.
* Fanā’ mencegah manusia menjadi bagian dari kehancuran zaman.
D. Ajaran Rābi‘ah sebagai Perlawanan Spiritual terhadap Kezaliman
1. Kezaliman sosial dan politik tidak bisa dihancurkan dengan kebencian
Rābi‘ah tidak mengajarkan pasrah terhadap kezaliman,
tetapi mengajarkan:
* kekuatan jiwa,
* kejernihan akal,
* kontrol emosi,
* akhlak luhur.
Zaman edan harus dilawan dengan:
* sabar yang cerdas,
* akhlak yang kuat,dan
* cinta yang membuka mata hati masyarakat.
2. Diamnya ulama bukan alasan bagi kita untuk berhenti bersuara
Ketika banyak ulama diam karena takut, Rābi‘ah mengajarkan model ulama sejati:
* tidak takut kepada manusia,
* hanya takut kepada Allah,
* tidak mencari ridha dunia.
Aplikasi:
* berani berkata benar tanpa benci,
* menasihati pemimpin dengan hikmah,
* menjadi suara bagi mereka yang tertindas.
4. Kesucian hati lebih kuat dari kekuasaan dunia
Zaman edan mengajarkan bahwa kekuasaan sering menipu.
Rābi‘ah mengajarkan:
“Satu hati yang suci lebih berat timbangannya daripada seribu kerajaan dunia.”[8]
Artinya: kemenangan sejati bukan pada politik, tetapi pada keteguhan spiritual.
E. Relevansi Ajaran Rābi‘ah terhadap Manusia Modern
1. Mengobati stres, kecemasan, dan depresi
Cinta Ilahi dan ridha menjadi obat bagi kegelisahan zaman.
2. Menguatkan integritas di tengah manipulasi
Zuhud menjauhkan manusia dari korupsi nilai.
3. Menjaga kejernihan berpikir
Ma‘rifat menuntun keputusan etis.
4. Mengubah penderitaan menjadi kekuatan
Sabar Rābi‘ah menjadikan musibah sebagai pendewasaan spiritual.
5. Menghidupkan kasih sayang sosial
Cinta Ilahi memancar dalam bentuk empati, sedekah, dan kelembutan.
F. Penutup
1. Ajaran Rābi‘ah al-‘Adawiyyah adalah jalan selamat bagi jiwa di zaman edan.
2. Ia tidak mengajarkan pelarian dari realitas, tetapi:
* keteguhan,
* kejernihan,
* kebeningan cinta,
* kekuatan batin,dan
* keberanian moral.
Melalui cinta Ilahi, Rābi‘ah memberitahu kita bahwa:
“Jika dunia menjadi gelap, jadilah cahaya. Inilah ajaran yang membuat tasawuf tetap relevan sebagai benteng akhlak bagi manusia modern.
Catatan Kaki
[1] Al-Ghazali, Iḥyā’ ‘Ulūm al-Dīn, Bab Fitan dan Maksiat.
[2] Attar, Tadhkirat al-Awliya’, Kisah Rābi‘ah tentang kebeningan hati.
[3] Ibid., Bab Zuhud Rābi‘ah.
[4] Al-Qushayri, Risalah al-Qushayriyyah, Bab al-Ṣabr.
[5] Attar, Tadhkirat al-Awliya’, Bab Mahabbah Rābi‘ah.
[6] Ibid., riwayat tentang ma‘rifat Rābi‘ah.
[7] Ibn ‘Aṭā’illah, al-Ḥikam, Hikmah tentang ego dan hijab.
[8] Rumi, Mathnawi, Buku II, komentar tentang kekuatan hati para wali.
Penulis : Drs. Suripno. Mstr
Editor : Redaksi
Sumber Berita: haikunnews.id







