Pengantar
- Musibah di provinsi Aceh, Sumut, dan Sumbar, mengakibatkan derita rakyat dan kerusakan lingkungan yang maha dahsyat.
- Ini semua sudah terjadi atas izin ysng Maha Kuasa, pasti mengandung pelajaran *bagi orang beriman dsn ysng mau berfikir.
- Sebagai literasi untuk memahami hal tersebut, saya ajak merenung falsafah : * SANGKAN PARANING DUMADI sebagai titik tolak memahami segala sesuatu.
Ringkasan Eksekutif
- Sangkan Paraning Dumadi bukan sekadar falsafah budaya Jawa, melainkan kesadaran ontologis tentang asal-usul, tujuan hidup, dan proses keberadaan manusia.
- Ketika konsep ini tidak dipahami atau diabaikan, lahirlah manusia yang tercerabut dari makna hidup, kehilangan orientasi moral, dan berpotensi menjadi sumber kerusakan sosial.
- Dalam padanannya dengan Islam, kegagalan memahami konsep ini sama dengan ghaflah (kelalaian eksistensial) yang memiliki konsekuensi teologis serius, baik di dunia maupun di akhirat.
I. Hakikat Mendalam Sangkan Paraning Dumadi
A. Dimensi Ontologis (Hakikat Keberadaan)
1. Sangkan Paraning Dumadi mengajarkan bahwa manusia:
- Tidak hadir secara kebetulan (misteri ditakdirksn ada)
- Tidak hidup tanpa tujuan
- Tidak bebas mutlak atas dirinya
- Tidak berakhir pada kematian jasmani
2. Dalam filsafat Jawa, manusia yang tidak memahami sangkan akan hidup pongah; yang lupa paran akan hidup rakus; dan yang mengingkari dumadi akan hidup sewenang-wenang.
B. Dimensi Etis dan Spiritualitas
1. Konsep ini menuntut:
- Kesadaran batin (eling/sadar bukan ingat)
- Pengendalian diri (waspada)
- Keselarasan lahir–batin
- Kesadaran bahwa setiap perbuatan memiliki akibat kosmik dan ilahiah
2. Inilah sebabnya Sangkan Paraning Dumadi selalu dikaitkan dengan laku hidup, bukan sekadar pengetahuan.
II. Padanan Islam: Kesadaran Asal, Amanah Hidup, dan Kepulangan
1. Kesadaran Asal (Sangkan)
“Wahai manusia, ingatlah nikmat Allah kepadamu. Adakah pencipta selain Allah? (QS. Fathir: 3)[6]
Ibnu Katsir menegaskan bahwa lupa asal penciptaan adalah awal kesombongan manusia dan akar kerusakan akidah[1].
2. Kesadaran Tujuan Hidup (Paran)
“Apakah kamu mengira Kami menciptakan kamu sia-sia dan kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami?” (QS. Al-Mu’minun: 115)
Al-Qurthubi menyatakan ayat ini sebagai pembatal seluruh konsep hidup yang hanya berorientasi dunia[2].
3. Kesadaran Proses dan Pertanggungjawaban (Dumadi)
“Kemudian kamu pasti akan ditanya pada hari itu tentang segala kenikmatan.” (QS. At-Takatsur: 8)
Hidup adalah proses amanah; setiap jabatan, ilmu, dan kekuasaan akan dimintai hisab.
III. Tanda-Tanda Orang yang Tidak Memahami Sangkan Paraning Dumadi Menurut Peran Sosial
A. Pemimpin dan Penguasa
Tanda-tanda:
- Merasa kekuasaan sebagai hak pribadi, bukan amanah
- Menghalalkan kebohongan, manipulasi hukum, dan ketidakadilan
- Mengorbankan rakyat demi stabilitas semu atau kepentingan elite
- Anti kritik dan alergi nasihat moral.
- Akar masalah: lupa sangkan (asal kekuasaan dari Allah) dan paran (akan dimintai pertanggung- jawaban).
Konsekuensi teologis:
“Dan janganlah kamu cenderung kepada orang-orang zalim, yang menyebabkan kamu disentuh api neraka.” (QS. Hud: 113)
Imam Al-Ghazali menyebut pemimpin yang lupa asal dan tujuan hidup sebagai penipu diri yang paling celaka[3].
B. Ulama dan Cendekiawan
Tanda-tanda:
- Ilmu digunakan untuk membenarkan kekuasaan zalim
- Diam terhadap kejahatan publik dengan dalih stabilitas
- Mengubah agama menjadi legitimasi, bukan koreksi
- Takut kehilangan posisi, fasilitas, atau akses
Akar masalah: kehilangan kesadaran paran—ilmu tidak lagi diarahkan untuk kembali kepada Allah.
Konsekuensi teologis:
“Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan kebenaran yang telah Kami turunkan… mereka dilaknat Allah.” (QS. Al-Baqarah: 159)
Ibnu ‘Athaillah menegaskan: Ilmu yang tidak mengantarkan kepada Allah justru menjadi hijab paling tebal.”[4]
C. Aparat dan Penegak Hukum
Tanda-tanda:
- Hukum dijalankan transaksional
- Tajam ke bawah, tumpul ke atas
- Keadilan dikalahkan oleh prosedur formal
- Menganggap jabatan sebagai sumber rezeki, bukan amanah
Akar masalah:
- lupa bahwa proses hidup (dumadi) adalah ladang hisab.
- Konsekuensi teologis:
“Sesungguhnya Allah memerintahkan kamu menyampaikan amanah kepada yang berhak.” (QS. An-Nisa’: 58)
Hadis Nabi ﷺ:
“Hakim ada tiga: satu di surga, dua di neraka.” (HR. Abu Dawud)
D. Masyarakat Umum
Tanda-tanda:
- Hidup hanya mengejar kenyamanan dan konsumsi
- Apatis terhadap kezaliman
- Normalisasi kebohongan dan ketidakadilan
- Takut berbeda demi keselamatan pribadi
Akar masalah:
lupa paran dan menolak tanggung jawab moral sosial.
Konsekuensi teologis:
“Takutlah kalian terhadap fitnah yang tidak hanya menimpa orang-orang zalim saja.” (QS. Al-Anfal: 25)
IV. Konsekuensi Teologis Umum dari Mengingkari Sangkan Paraning Dumadi
- Ghaflah (kelalaian eksistensial) → hati mati sebelum jasad
- Kesombongan struktural → murka Allah atas kekuasaan
- barakah hidup → banyak tapi tidak menenteramkan
- Azab sosial dan ekologis → kerusakan sebagai peringatan
- Hisab berat di akhirat → penyesalan tanpa peluang kembali (oleh karena itu sadar sekarang)
Imam Al-Ghazali menyebut kondisi ini sebagai hidup itu bergerak menuju kematian tanpa sadar sedang menuju binasa”[5].
V. Penutup Profetik
1. Sangkan Paraning Dumadi sejatinya adalah bahasa Nusantara untuk ayat:
Inna lillāhi wa inna ilaihi rāji‘ūn.
2. Ketika manusia lupa asal dan tujuan hidupnya, hukum menjadi alat, agama menjadi simbol, dan kekuasaan menjadi berhala. Menghidupkan kembali kesadaran ini bukan sekadar tugas budaya, tetapi kewajiban moral dan teologis demi keselamatan bangsa dan akhirat.
Catatan Kaki
[1] Ibnu Katsir, Tafsir Al-Qur’an al-‘Azhim, QS. Fathir:3.
[2] Al-Qurthubi, Al-Jami’ li Ahkam al-Qur’an, QS. Al-Mu’minun:115.
[3] Al-Ghazali, Ihya’ ‘Ulumuddin, Kitab Amr bi al-Ma’ruf.
[4] Ibnu ‘Athaillah As-Sakandari, Al-Hikam.
[5] Al-Ghazali, Bidayatul Hidayah.
Penulis : Drs. Suripno. Mstr
Editor : Redaksi
Sumber Berita: haikunnews.id







