Konsekuensi Teologis, Spiritual, dan Sosial atas Penyimpangan Sistem Hukum dari Kebenaran Allah dan Keadilan Allah (Seri-3)

Renungan Menjelang Subuh 2 Desember 2025 - seri - 3

admin

- Redaksi

Selasa, 2 Desember 2025 - 17:53 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Konsekuensi Teologis, Spiritual, dan Sosial atas Penyimpangan Sistem Hukum dari Kebenaran Allah dan Keadilan Allah. FOTO : google

Konsekuensi Teologis, Spiritual, dan Sosial atas Penyimpangan Sistem Hukum dari Kebenaran Allah dan Keadilan Allah. FOTO : google

Pengantar

  1. Pada Renungan Menjelang Subuh Seri-3, ini kita renungkan bagian C. Konsekuensi Spiritual Atas Penyimpangan sistem Hukum dari Kebenaran Allah dan Keadilan Allah.
  2. Dari renungan ini menunjukkan betapa dahsyatnya resiko tersebut bagi masyarakat.
  3. Untuk itu sudah waktunya dilakukan taubat nasional bila sudah terjadi penyimpangan nilai langit yang Sistemik.

A. Sudah pada tanggal 30 November 2025
B. Sudah pada tanggal 1 Desember 2023

C. Konsekuensi Spiritual atas Penyimpangan Sistem Hukum dari Kebenaran Allah dan Keadilan Allah

Penyimpangan sistem hukum dari nilai kebenaran Allah (al-Ḥaqq) dan keadilan Allah (al-‘Adl) tidak hanya berdampak pada aspek teologis, tetapi juga menggelapkan ruhani bangsa. Hukum yang zalim menjadi penutup hati (qalbu), penghalang cahaya Ilahi, dan pengering jiwa kolektif bangsa. Di sinilah konsekuensi spiritual terjadi:

  • hilangnya rasa takut kepada Allah;
  • matinya hati nurani masyarakat, dan;
  • kerusakan spiritual dalam diri individu dan kolektif.

Allah berfirman: “Maka apakah orang yang Allah lapangkan dadanya untuk (menerima) Islam lalu ia mendapat cahaya dari Tuhannya (sama dengan yang hatinya keras)? Maka celakalah mereka yang hatinya telah membatu dari mengingat Allah... (QS. Az-Zumar: 22) [1]

Menurut Imam al-Qurṭubī, orang yang hidup di bawah hukum zalim dan membiarkannya, lambat laun qalbunya akan membatu, kehilangan getaran terhadap kebenaran, dan tidak lagi merasa takut kepada murka Allah[2].

Rasulullah ﷺ bersabda: “Sesungguhnya dalam jasad itu ada segumpal daging; jika ia baik, maka baiklah seluruh jasadnya. Jika ia rusak, maka rusaklah seluruh jasadnya. Ketahuilah, itu adalah qalbu. ” (HR. Bukhari dan Muslim) [3]

Ketika sistem hukum bertentangan dengan nilai Ilahi, maka masyarakat secara tidak sadar hidup dalam struktur yang merusak qalbu kolektif:

  • masyarakat menjadi permisif terhadap kebatilan;
  • mencari pembenaran, menormalisasi kezaliman; dan
  • pada akhirnya tidak lagi merasa malu atau berdosa.

1. Tanda-tanda konsekuensi spiritual ini meliputi:

  • Hilangnya rasa malu (ḥayā’) dalam pengambilan kebijakan.
  • Menghalalkan segala cara, bahkan dengan bahasa hukum atau agama.
  • Kemunafikan sosial, yakni mempertontonkan kebaikan lahiriah tetapi menyembunyikan kezaliman sistemik.*L
  • Tertutupnya mata batin (basirah) masyarakat terhadap nilai langit.*
  • Imam Ibn Qayyim menyebutkan bahwa hukum yang zalim akan mengalirkan kegelapan dalam hati, yang menyebabkan manusia sulit membedakan antara haq dan batil, dan akhirnya menjadikan batil sebagai kebenaran[4].

Allah mengingatkan: “Dan barang siapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya kehidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta. “ (QS. Ṭāhā: 124) [5]

Tafsir Imam Fakhruddin ar-Rāzī menekankan bahwa ayat ini juga berlaku untuk masyarakat yang memilih berpaling dari nilai-nilai Allah dalam mengatur hukum dan pemerintahan. Hati mereka menjadi sempit dan gelap, meski secara ekonomi mungkin tampak makmur—ini adalah kehidupan yang sempit secara spiritual.[6]

2. Pandangan Ulama Klasik

  • Imam Al-Ghazali(( dalam Iḥyā’ ‘Ulūm ad-Dīn menyatakan bahwa:

“Zalimnya penguasa lebih cepat merusak agama dan hati umat dibanding seribu setan yang menggoda dalam sunyi.” [7]

Artinya, kerusakan spiritual akibat sistem hukum yang zalim jauh lebih berbahaya karena ia sistemik, masif, dan tersembunyi di balik legalitas formal.

3. Dampak pada generasi mendatang:

  • Penyimpangan spiritual sistem hukum tidak hanya berdampak pada individu sekarang, tetapi akan melahirkan generasi tanpa akal jernih dan hati bersih.
  • Ini menyiapkan masyarakat menuju kesesatan berjamaah yang sulit dipulihkan tanpa taubat kolektif.

Catatan Kaki (CMS Style):

[1] QS. Az-Zumar: 22, Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahannya.
[2] Al-Qurṭubī, Tafsīr al-Jāmi‘ li Aḥkām al-Qur’ān, Juz 15, hlm. 118.
[3] HR. Bukhari no. 52; Muslim no. 1599.
[4] Ibn Qayyim al-Jawziyyah, I‘lām al-Muwaqqi‘īn, Beirut: Dar al-Kutub, 1995, hlm. 34.
[5] QS. Ṭāhā: 124.
[6] Fakhruddin ar-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb, Juz 21, hlm. 312.
[7] Al-Ghazali, Iḥyā’ ‘Ulūm ad-Dīn, Juz 2, hlm. 343

Penulis : Drs. Suripno. Mstr

Editor : Redaksi

Sumber Berita: haikunnews.id

Berita Terkait

Tujuh Tingkatan Wujud (Maqāmāt An-Nafs) dan Urgensinya Bagi Orang Berilmu di Zaman Sekarang
Indikator Kezaliman Individual dan Struktural Beserta Dalilnya (Seri-2)
Kezaliman Individual dan Kezaliman Struktural Dalam Perspektif Al Quran, Hadis, dan Ulama: Akar Masalah, Tanggung Jawab Moral, dan Konsekuensi Illahiyah (Seri-1)
REFORMASI PEMILU ; Langkah Awal Amandemen UUD 1945 dan Pembangunan Sistem Hukum Indonesia Berbasis Kebenaran dan Keadilan Allah
Hakikat Ilmu dalam Tradisi Ulama Klasik dan Keunggulannya atas Filsafat Ilmu Modern
Kelembutan Hati dan Tangisan yang Bermuara pada Cinta Kepada Allah sebagai Bekal Mengarungi Zaman Edan
Mengenang Sufi Agung Wanita Rabi’ah Al Adawiyyah dan Ajarannya (Seri-7)
Amanah Pemimpin Beriman, dan Kewajiban Menegakkan Kebenaran Allah serta Keadilan Allah
Berita ini 5 kali dibaca
Dilarang Mengambil dan/atau Menayangkan Ulang Sebagian Atau Keseluruhan Artikel di atas untuk Konten Akun Media Sosial Komersil Tanpa Seizin Redaksi HaikunNews.Id.

Berita Terkait

Selasa, 17 Februari 2026 - 19:33 WIB

Tujuh Tingkatan Wujud (Maqāmāt An-Nafs) dan Urgensinya Bagi Orang Berilmu di Zaman Sekarang

Selasa, 3 Februari 2026 - 10:19 WIB

Indikator Kezaliman Individual dan Struktural Beserta Dalilnya (Seri-2)

Selasa, 3 Februari 2026 - 10:08 WIB

Kezaliman Individual dan Kezaliman Struktural Dalam Perspektif Al Quran, Hadis, dan Ulama: Akar Masalah, Tanggung Jawab Moral, dan Konsekuensi Illahiyah (Seri-1)

Senin, 12 Januari 2026 - 01:21 WIB

REFORMASI PEMILU ; Langkah Awal Amandemen UUD 1945 dan Pembangunan Sistem Hukum Indonesia Berbasis Kebenaran dan Keadilan Allah

Sabtu, 10 Januari 2026 - 07:43 WIB

Hakikat Ilmu dalam Tradisi Ulama Klasik dan Keunggulannya atas Filsafat Ilmu Modern

Berita Terbaru

Iran

Internasional

Iran “Batu Sandungan” Berat Bagi Dinasti Rothschild

Minggu, 8 Mar 2026 - 19:32 WIB

Pemimpin Adil dan Beriman vs Pemimpin Zalim dan Tidak Beriman. FOTO : Ilustrasi

Tarbiyah

Pemimpin Adil dan Beriman vs Pemimpin Zalim dan Tidak Beriman

Selasa, 17 Feb 2026 - 19:18 WIB