Ada sebuah pelajaran kepemimpinan yang sederhana, tetapi mendalam: seseorang jangan terus-menerus ditempatkan pada posisi memerintah. Pada waktunya, ia juga perlu berada dalam posisi mendengar, menerima koreksi, dan bekerja di bawah otoritas orang lain.
Dalam pengalaman organisasi militer, pola Komandan → Staf → Komandan → Staf dapat dipahami bukan sekadar sebagai rotasi jabatan, melainkan sebagai salah satu mekanisme organisasi yang berpotensi menjaga keseimbangan psikologis seorang pemimpin.
Kekuasaan Dapat Mengubah Perilaku
Kepribadian manusia terbentuk melalui kombinasi karakteristik bawaan, pengalaman hidup, dan lingkungan. American Psychiatric Association menjelaskan bahwa pengalaman dan lingkungan merupakan bagian dari faktor yang memengaruhi perkembangan kepribadian.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Dalam psikologi kekuasaan, penelitian juga menunjukkan bahwa kekuasaan dapat memengaruhi cara seseorang berpikir, merasakan, bertindak, memperhatikan orang lain, dan mengejar tujuan. Dalam kondisi tertentu, kekuasaan bahkan dapat mengurangi perhatian sosial atau kemampuan mengambil perspektif orang lain (perspective taking). Namun, efek kekuasaan tidak selalu negatif dan sangat dipengaruhi oleh karakter individu serta konteksnya.
Masalah mulai muncul ketika seseorang terlalu lama berada dalam lingkungan di mana hampir setiap hari ia:
memerintah → dipatuhi → dibenarkan → dilayani → dipuji → jarang dibantah → dan hampir tidak pernah menerima konsekuensi langsung dari kesalahannya.
Lingkungan seperti itu dapat menjadi semacam ruang gema psikologis kekuasaan.
Perintahnya dilaksanakan karena jabatan, tetapi lama-kelamaan ia dapat menginterpretasikannya sebagai bukti bahwa pendapatnya selalu benar.
Orang menghormatinya karena struktur organisasi, tetapi ia dapat mulai menganggap penghormatan tersebut sebagai bukti superioritas pribadinya.
Orang takut mengkritiknya, tetapi ia dapat mengartikannya sebagai tanda bahwa dirinya tidak memiliki kesalahan.
Di sinilah kekuasaan dapat mulai memengaruhi persepsi seseorang terhadap dirinya sendiri.
Dari “Saya Memimpin” Menjadi “Saya Selalu Benar”
Apabila tidak terdapat mekanisme koreksi, pada sebagian orang dapat berkembang kecenderungan seperti merasa dirinya paling benar, semakin sulit menerima kritik, sangat defensif ketika dibantah, meremehkan bawahan, membutuhkan pengakuan secara berlebihan, semakin yakin terhadap penilaiannya sendiri, mengalami berkurangnya empati, menganggap loyalitas kepada dirinya sama dengan loyalitas kepada organisasi, serta semakin sulit membedakan kepentingan pribadi, kepentingan jabatan, dan kepentingan institusi.
Namun, ciri-ciri tersebut tidak dengan sendirinya merupakan diagnosis gangguan jiwa atau gangguan kepribadian.
Dalam ilmu klinis, suatu sifat baru menjadi persoalan diagnostik apabila membentuk pola yang menetap, kaku, maladaptif, dan menyebabkan gangguan bermakna dalam fungsi interpersonal, sosial, atau pekerjaan.
Dengan kata lain:
Arogan bukan otomatis gangguan jiwa.
Ego yang tinggi bukan otomatis penyakit mental.
Tidak suka dikritik bukan otomatis gangguan kepribadian.
Namun, apabila pola-pola tersebut menjadi ekstrem, menetap, kaku, dan merusak fungsi kehidupan, barulah diperlukan penilaian klinis oleh tenaga profesional.
Penulis : Laksma TNI (Purn.) Jaya Darmawan
Editor : Tim Redaksi
Sumber Berita: HaikunNews
Halaman : 1 2 3 Selanjutnya








