Ketika Kekuasaan Membentuk Kepribadian

Kajian Psikologi Klinis dan Psikologi Kepemimpinan tentang Bahaya Kekuasaan Tanpa Koreksi

admin

- Redaksi

Minggu, 20 September 2026 - 00:30 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

🙏 Saudara-saudara kita di Nusa Tenggara Timur tengah dirundung duka karena gempa M 7,7. Mari kita mengulurkan tangan untuk membantu meringankan beban yang sedang mereka hadapi. Kirim bantuan Anda melalui tautan
+ Donasi

Kajian Psikologi Klinis dan Psikologi Kepemimpinan tentang Bahaya Kekuasaan Tanpa Koreksi. (FOTO : Dok. Istimewa)

Kajian Psikologi Klinis dan Psikologi Kepemimpinan tentang Bahaya Kekuasaan Tanpa Koreksi. (FOTO : Dok. Istimewa)

Fenomena yang Sering Disebut Hubris Syndrome

Ada konsep yang memiliki keterkaitan dengan fenomena tersebut, yaitu hubris syndrome—sebuah hipotesis mengenai perubahan perilaku atau kepribadian yang dapat muncul setelah seseorang memperoleh kekuasaan besar atau mengalami keberhasilan luar biasa dalam waktu lama.

Literatur ilmiah menggambarkan sejumlah karakteristik yang dikaitkan dengan konsep ini, antara lain kebanggaan yang berlebihan, grandiositas, kecenderungan merendahkan orang lain, serta menurunnya kemampuan menilai realitas secara proporsional.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Sejumlah peneliti mengusulkan bahwa fenomena tersebut berbeda dari gangguan kepribadian yang telah terbentuk sejak masa muda karena perubahan itu dipandang muncul setelah seseorang memperoleh kekuasaan besar.

Namun, perlu diberikan garis tebal:

Hubris syndrome bukan diagnosis resmi dalam sistem klasifikasi gangguan mental WHO.

Literatur mengenai konsep tersebut sendiri menyebut bahwa hubris syndrome belum masuk ke dalam sistem klasifikasi diagnostik resmi.

Karena itu, istilah tersebut lebih tepat digunakan sebagai kerangka untuk memahami risiko psikologis yang mungkin berkaitan dengan kekuasaan, bukan sebagai alat untuk mendiagnosis seseorang dari jauh.

Mengapa Pola “Komandan–Staf–Komandan” Masuk Akal?

Dari sudut pandang psikologi organisasi, pola Komandan → Staf → Komandan merupakan gagasan yang menarik.

Ketika menjadi komandan, seseorang belajar:

  • mengambil keputusan;
  • memikul tanggung jawab;
  • memimpin;
  • memberi arahan dan perintah.

Ketika kembali menjadi staf, ia dipaksa belajar:

  • mendengarkan;
  • menerima keputusan orang lain;
  • memberikan saran yang mungkin ditolak;
  • bekerja tanpa selalu menjadi pusat perhatian;
  • serta menyadari bahwa organisasi tidak berputar di sekeliling dirinya.

Kemudian, ketika kembali menjadi komandan, idealnya ia membawa dua pengalaman sekaligus: pengalaman memerintah dan pengalaman diperintah.

Dalam konteks tersebut, rotasi jabatan dapat berfungsi sebagai semacam reality check organisasi.

Bukan berarti rotasi jabatan pasti mencegah munculnya persoalan psikologis. Namun, secara kelembagaan, rotasi dapat membantu mencegah seseorang terlalu lama hidup dalam lingkungan yang hanya memberikan afirmasi terhadap kekuasaannya.

Bagaimana dengan Seseorang yang Tiba-Tiba Kehilangan Kekuasaan?

Pada bagian ini, ilmu psikologi meminta kita untuk berhati-hati.

Kehilangan jabatan secara mendadak memang dapat menjadi stresor psikologis yang berat, terutama apabila identitas seseorang selama bertahun-tahun sangat melekat pada pangkat, kekuasaan, status, dan penghormatan.

Namun, tidak tepat secara klinis untuk menyimpulkan bahwa seseorang dalam kondisi tersebut pasti mengalami gangguan jiwa dan tidak mungkin pulih.

Respons manusia sangat beragam.

Ada yang mengalami depresi, kecemasan, kemarahan, rasa dipermalukan, atau krisis identitas. Ada pula yang mampu beradaptasi dan menjalani perubahan tersebut secara sehat.

Gangguan mental pada umumnya juga memiliki berbagai pilihan penanganan dan pengobatan yang efektif.

Karena itu, pertanyaan yang lebih ilmiah bukan:

“Apakah dia sakit jiwa?”

Melainkan:

“Apakah pengalaman kehilangan kekuasaan tersebut membuat pola perilakunya berubah secara menetap, maladaptif, dan mengganggu kemampuannya menjalankan fungsi secara sehat?”

Itulah pertanyaan yang jauh lebih tepat dalam perspektif klinis.

Penulis : Laksma TNI (Purn.) Jaya Darmawan

Editor : Tim Redaksi

Sumber Berita: HaikunNews

Berita Terkait

Iran Menemukan Titik Lemah Mematikan Militer AS, Financial Times Inggris Mengonfirmasi-Di Balik Teheran Tampaknya Ada Arahan dari Sosok Ahli!
Strategi Korektif Nasional untuk Memutus Kezaliman Struktural: Jalan Amanah, Keadilan, dan Keberanian Moral (Seri-3)
Membangkitkan Keberanian Moral Orang Baik dalam Menghadapi Kezaliman Struktural
Apakah Indonesia Masih Berdaulat. Dari “Uang Republik Indonesia” ke “Uang Bank Indonesia”: Jejak Sunyi Hilangnya Kedaulatan Moneter Bangsa
PERANG DI BAWAH KUBAH: Paradoks Starlink: Ketika “Satelit” Elon Musk Ditaklukkan oleh Fisika Atmosfer dan Logika Perang Darat Iran
Transportasi Perkotaan Indonesia dalam Paradigma Profetik
PERINGATAN ZAMAN : Sangkan Paraning Dumadi sebagai Kompas Ontologis–Etis di Era “Kuantum”: Dari Krisis Makna ke Kebangkitan Amanah (Seri 1)
Mengikat Konstitusi dengan Nilai Langit: Amandemen Konstitusi untuk Menegakkan Negara Hukum yang Berbasis Kebenaran dan Keadilan (Seri-1)
Berita ini 51 kali dibaca
Dilarang Mengambil dan/atau Menayangkan Ulang Sebagian Atau Keseluruhan Artikel di atas untuk Konten Akun Media Sosial Komersil Tanpa Seizin Redaksi HaikunNews.Id.

Berita Terkait

Minggu, 20 September 2026 - 00:30 WIB

Ketika Kekuasaan Membentuk Kepribadian

Jumat, 13 Maret 2026 - 18:46 WIB

Iran Menemukan Titik Lemah Mematikan Militer AS, Financial Times Inggris Mengonfirmasi-Di Balik Teheran Tampaknya Ada Arahan dari Sosok Ahli!

Sabtu, 7 Februari 2026 - 08:10 WIB

Strategi Korektif Nasional untuk Memutus Kezaliman Struktural: Jalan Amanah, Keadilan, dan Keberanian Moral (Seri-3)

Sabtu, 7 Februari 2026 - 07:52 WIB

Membangkitkan Keberanian Moral Orang Baik dalam Menghadapi Kezaliman Struktural

Minggu, 1 Februari 2026 - 12:23 WIB

Apakah Indonesia Masih Berdaulat. Dari “Uang Republik Indonesia” ke “Uang Bank Indonesia”: Jejak Sunyi Hilangnya Kedaulatan Moneter Bangsa

Berita Terbaru

Kajian Psikologi Klinis dan Psikologi Kepemimpinan tentang Bahaya Kekuasaan Tanpa Koreksi. (FOTO : Dok. Istimewa)

Republik

Ketika Kekuasaan Membentuk Kepribadian

Minggu, 20 Sep 2026 - 00:30 WIB

Indonesia Harus Belajar dari Iran. (FOTO : Haikun)

Editorial

Indonesia Harus Belajar dari Iran

Sabtu, 19 Sep 2026 - 16:24 WIB