Fenomena yang Sering Disebut Hubris Syndrome
Ada konsep yang memiliki keterkaitan dengan fenomena tersebut, yaitu hubris syndrome—sebuah hipotesis mengenai perubahan perilaku atau kepribadian yang dapat muncul setelah seseorang memperoleh kekuasaan besar atau mengalami keberhasilan luar biasa dalam waktu lama.
Literatur ilmiah menggambarkan sejumlah karakteristik yang dikaitkan dengan konsep ini, antara lain kebanggaan yang berlebihan, grandiositas, kecenderungan merendahkan orang lain, serta menurunnya kemampuan menilai realitas secara proporsional.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Sejumlah peneliti mengusulkan bahwa fenomena tersebut berbeda dari gangguan kepribadian yang telah terbentuk sejak masa muda karena perubahan itu dipandang muncul setelah seseorang memperoleh kekuasaan besar.
Namun, perlu diberikan garis tebal:
Hubris syndrome bukan diagnosis resmi dalam sistem klasifikasi gangguan mental WHO.
Literatur mengenai konsep tersebut sendiri menyebut bahwa hubris syndrome belum masuk ke dalam sistem klasifikasi diagnostik resmi.
Karena itu, istilah tersebut lebih tepat digunakan sebagai kerangka untuk memahami risiko psikologis yang mungkin berkaitan dengan kekuasaan, bukan sebagai alat untuk mendiagnosis seseorang dari jauh.
Mengapa Pola “Komandan–Staf–Komandan” Masuk Akal?
Dari sudut pandang psikologi organisasi, pola Komandan → Staf → Komandan merupakan gagasan yang menarik.
Ketika menjadi komandan, seseorang belajar:
- mengambil keputusan;
- memikul tanggung jawab;
- memimpin;
- memberi arahan dan perintah.
Ketika kembali menjadi staf, ia dipaksa belajar:
- mendengarkan;
- menerima keputusan orang lain;
- memberikan saran yang mungkin ditolak;
- bekerja tanpa selalu menjadi pusat perhatian;
- serta menyadari bahwa organisasi tidak berputar di sekeliling dirinya.
Kemudian, ketika kembali menjadi komandan, idealnya ia membawa dua pengalaman sekaligus: pengalaman memerintah dan pengalaman diperintah.
Dalam konteks tersebut, rotasi jabatan dapat berfungsi sebagai semacam reality check organisasi.
Bukan berarti rotasi jabatan pasti mencegah munculnya persoalan psikologis. Namun, secara kelembagaan, rotasi dapat membantu mencegah seseorang terlalu lama hidup dalam lingkungan yang hanya memberikan afirmasi terhadap kekuasaannya.
Bagaimana dengan Seseorang yang Tiba-Tiba Kehilangan Kekuasaan?
Pada bagian ini, ilmu psikologi meminta kita untuk berhati-hati.
Kehilangan jabatan secara mendadak memang dapat menjadi stresor psikologis yang berat, terutama apabila identitas seseorang selama bertahun-tahun sangat melekat pada pangkat, kekuasaan, status, dan penghormatan.
Namun, tidak tepat secara klinis untuk menyimpulkan bahwa seseorang dalam kondisi tersebut pasti mengalami gangguan jiwa dan tidak mungkin pulih.
Respons manusia sangat beragam.
Ada yang mengalami depresi, kecemasan, kemarahan, rasa dipermalukan, atau krisis identitas. Ada pula yang mampu beradaptasi dan menjalani perubahan tersebut secara sehat.
Gangguan mental pada umumnya juga memiliki berbagai pilihan penanganan dan pengobatan yang efektif.
Karena itu, pertanyaan yang lebih ilmiah bukan:
“Apakah dia sakit jiwa?”
Melainkan:
“Apakah pengalaman kehilangan kekuasaan tersebut membuat pola perilakunya berubah secara menetap, maladaptif, dan mengganggu kemampuannya menjalankan fungsi secara sehat?”
Itulah pertanyaan yang jauh lebih tepat dalam perspektif klinis.
Penulis : Laksma TNI (Purn.) Jaya Darmawan
Editor : Tim Redaksi
Sumber Berita: HaikunNews
Halaman : 1 2 3 Selanjutnya








