OPINI – Perang modern sedang memberikan pelajaran yang sangat mahal kepada dunia.
Ukuran kekuatan militer tidak lagi cukup dihitung dari berapa banyak kapal induk, pesawat tempur, pangkalan militer, atau platform bernilai miliaran dolar yang dimiliki suatu negara.
Konflik Iran–Amerika Serikat pada 2026 memperlihatkan sesuatu yang jauh lebih penting: negara yang mampu menguasai teknologi, membangun industri pertahanannya sendiri, menyebarkan kekuatannya, serta menghasilkan senjata dalam jumlah besar dapat menciptakan biaya yang sangat tinggi bagi lawan yang secara konvensional jauh lebih kuat.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Iran menghadapi berbagai bentuk sanksi Amerika Serikat sejak 1979. Namun, tekanan panjang tersebut tidak menghentikan pembangunan kemampuan rudal, drone, pertahanan udara, dan industri militernya.
Hasilnya terlihat dalam perang yang sedang berlangsung.
Laporan pemerintah AS yang dikutip Associated Press (AP) menyebut serangan Iran telah merusak atau menghancurkan ratusan bangunan di fasilitas militer Amerika Serikat di Timur Tengah. Jalur logistik Amerika Serikat bahkan harus disesuaikan. Sejumlah MQ-9 Reaper dan pesawat tanker KC-135 juga dilaporkan hilang atau mengalami kerusakan.
Reuters pada 15 September 2026 melaporkan estimasi Congressional Budget Office bahwa biaya perang telah mencapai sekitar US$38 miliar per 1 Agustus 2026 dan dapat bertambah sekitar US$3 miliar setiap bulan. Konflik tersebut juga memberikan tekanan besar terhadap persediaan munisi presisi Amerika Serikat.
Artinya, pelajaran strategisnya bukan bahwa kapal induk sudah tidak berguna.
Pelajarannya adalah:
Jangan pernah mempertaruhkan pertahanan negara hanya pada sejumlah kecil platform yang sangat besar, sangat mahal, dan sangat sulit diganti ketika perang berlangsung.
LALU, APA HUBUNGANNYA DENGAN GIUSEPPE GARIBALDI?
Indonesia memang telah menerima ITS Giuseppe Garibaldi dari Italia. Komisi I DPR menyetujui hibah tersebut pada 20 Juli 2026. Nilai hibah yang dicatat dalam persetujuan DPR adalah €54.022.426,67.
Kapal itu berangkat dari Taranto pada 24 Agustus dan telah tiba di Tanjung Priok pada 18 September 2026 setelah menempuh sekitar 6.870 mil laut. Dengan demikian, informasi yang menyebut kapal tersebut baru akan tiba pada 20 September sudah tidak mutakhir.
Giuseppe Garibaldi juga bukan kapal baru. Usianya telah melampaui empat dekade dan memang memerlukan retrofit atau modernisasi. ANTARA melaporkan perkiraan biaya retrofit sekitar Rp7,2 triliun hingga Rp16,8 triliun, tergantung konfigurasi yang akhirnya dipilih.
Di sinilah pertanyaan publik yang seharusnya diajukan bukan:
“Apakah kapal induk itu gagah?”
Tetapi:
“Berapa rupiah kemampuan pertahanan yang kita peroleh dari setiap rupiah uang negara yang dikeluarkan?”
Itulah ukuran yang lebih relevan.
Giuseppe Garibaldi mempunyai potensi kegunaan. Kementerian Pertahanan menyebut kapal tersebut dapat membawa belasan helikopter, memungkinkan empat helikopter lepas landas secara simultan, dan dapat dioptimalkan untuk Operasi Militer Selain Perang, termasuk penanggulangan bencana dan distribusi logistik. Pemerintah juga melihatnya sebagai sarana peningkatan kemampuan industri pertahanan nasional.
Karena itu, persoalannya bukan sekadar “kapal tua versus kapal baru”.
Persoalan strategis yang jauh lebih penting adalah biaya peluang (opportunity cost).
Dengan biaya retrofit, operasi, pemeliharaan, pelatihan awak, suku cadang, fasilitas pangkalan, dan sistem udara yang menyertainya, apakah Indonesia memperoleh kemampuan pertahanan yang lebih besar dibandingkan apabila sumber daya yang sama digunakan untuk memperkuat kombinasi fregat, kapal selam, rudal antikapal berbasis darat, UAV/UCAV, USV, UUV, pertahanan udara, ISR, satelit, peperangan elektronik, dan jaringan sensor nasional?
Pertanyaan tersebut harus dijawab melalui biaya siklus hidup (life-cycle cost) selama 20–30 tahun, bukan hanya berdasarkan nilai hibah pada hari kapal diserahkan.
Penulis : Laksma TNI (Purn.) Jaya Darmawan
Editor : Tim Redaksi
Sumber Berita: HaikunNews
Halaman : 1 2 3 Selanjutnya








