Indonesia Harus Belajar dari Iran

Membangun Kekuatan, Bukan Sekadar Membeli Kegagahan

admin

- Redaksi

Sabtu, 19 September 2026 - 16:24 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

🙏 Saudara-saudara kita di Nusa Tenggara Timur tengah dirundung duka karena gempa M 7,7. Mari kita mengulurkan tangan untuk membantu meringankan beban yang sedang mereka hadapi. Kirim bantuan Anda melalui tautan
+ Donasi

Indonesia Harus Belajar dari Iran. (FOTO : Haikun)

Indonesia Harus Belajar dari Iran. (FOTO : Haikun)

SEA POWER = NAVAL POWER + MARITIME ECONOMIC POWER

TNI Angkatan Laut yang kuat tanpa industri maritim nasional yang kuat akan sangat mahal untuk dipertahankan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Sebaliknya, armada niaga raksasa tanpa kemampuan pertahanan akan rentan ketika jalur perdagangan terganggu.

Maka, Indonesia memerlukan pembangunan simultan: TNI AL yang modern, industri galangan nasional, armada niaga nasional, pelabuhan, logistik, industri komponen, SDM pelaut, pembiayaan maritim, serta teknologi pertahanan yang semakin mandiri.

DARI “BELANJA PERTAHANAN” MENJADI “INDUSTRI PERTAHANAN”

Inilah perubahan paradigma yang paling penting.

Jangan bertanya:

“Senjata apa yang dapat kita beli?”

Mulailah bertanya:

“Senjata apa yang dapat kita kuasai teknologinya, produksi sendiri, rawat sendiri, isi ulang sendiri, dan kembangkan sendiri selama 30 tahun?”

Setiap pembelian alutsista besar semestinya menghasilkan minimal empat keuntungan sekaligus:

kekuatan tempur + transfer teknologi + pekerjaan industri nasional + kemampuan produksi domestik.

Jika uang negara keluar tetapi teknologi, lapangan kerja, suku cadang, dan kemampuan produksi tetap berada di luar negeri, maka sebagian besar multiplier effect pertahanan juga pergi ke luar negeri.

Sebaliknya, apabila pembelian asing digunakan sebagai jembatan menuju kemandirian, impor dapat menjadi investasi teknologi.

Karena itulah, Giuseppe Garibaldi sebaiknya dinilai dengan ukuran tersebut: bukan berdasarkan kemegahan bentuknya, melainkan apakah program itu menghasilkan teknologi, doktrin, SDM, kemampuan penerbangan laut, pengalaman operasi kapal besar, dan kapasitas industri nasional yang nilainya sepadan dengan seluruh biaya sepanjang umur operasinya.

INDONESIA 2045: JANGAN HANYA KUAT DI LAUT — KUASAI EKONOMI LAUT

Indonesia perlu mempunyai fregat modern.

Indonesia membutuhkan kapal selam.

Indonesia membutuhkan rudal.

Indonesia membutuhkan drone.

Indonesia mungkin pula mempunyai kebutuhan terhadap kapal penerbangan tertentu.

Tetapi Indonesia juga membutuhkan ratusan, bahkan ribuan, kapal niaga nasional yang membawa produk Indonesia menggunakan bendera Indonesia, diawaki pelaut Indonesia, diasuransikan melalui ekosistem keuangan Indonesia, diperbaiki di galangan Indonesia, dan menghasilkan devisa bagi Indonesia.

Karena sea power tidak lahir hanya dari meriam.

Ia lahir dari kombinasi kapal perang, kapal dagang, industri, teknologi, pelabuhan, manusia, modal, dan kemampuan negara menguasai rantai logistiknya sendiri.

Iran menunjukkan bahwa tekanan eksternal dapat mendorong pembangunan kapasitas domestik. Amerika Serikat menunjukkan bahwa bahkan negara dengan kekuatan militer sangat besar tetap dapat menghadapi biaya tinggi ketika berhadapan dengan serangan rudal dan drone dalam jumlah besar.

Konflik 2026 belum selesai, sehingga sejarah belum memberikan vonis siapa yang “menang”. Namun, biaya dan kerusakan yang sudah terdokumentasi cukup untuk menjadi bahan pelajaran strategis.

Dan bagi Indonesia, pelajarannya bukan:

“Jadilah Iran.”

Melainkan:

“Jadilah Indonesia yang mampu membuat kekuatannya sendiri.”

Negara kepulauan terbesar di dunia tidak seharusnya selamanya menjadi pasar teknologi maritim negara lain.

Kita harus menjadi produsen teknologi maritim dunia.

Kita tidak perlu memilih antara negara maritim kaya atau negara maritim kuat.

Target Indonesia harus lebih tinggi:

NEGARA MARITIM YANG KAYA, MANDIRI, DAN KUAT

Dan ukuran keberhasilan pertahanan bukanlah seberapa gagah sebuah kapal ketika bersandar di dermaga.

Ukuran sesungguhnya adalah seberapa lama Republik ini mampu bertahan, memproduksi, berlayar, berdagang, dan melawan ketika suatu hari pasokan dari luar negeri berhenti.

Itulah pelajaran perang modern yang layak dipikirkan Indonesia menuju 2045.

Penulis : Laksma TNI (Purn.) Jaya Darmawan

Editor : Tim Redaksi

Sumber Berita: HaikunNews

Berita Terkait

Empat Hari yang Mengguncang Supremasi Militer Dunia: Ketika Iran Menantang Dominasi Amerika di Asia Barat
Megathrust Nusantara: Ancaman Senyap yang Terus Mendesak-Analisis Lengkap Untuk Indonesia
Berita ini 18 kali dibaca
Dilarang Mengambil dan/atau Menayangkan Ulang Sebagian Atau Keseluruhan Artikel di atas untuk Konten Akun Media Sosial Komersil Tanpa Seizin Redaksi HaikunNews.Id.

Berita Terkait

Sabtu, 19 September 2026 - 16:24 WIB

Indonesia Harus Belajar dari Iran

Senin, 23 Maret 2026 - 19:18 WIB

Empat Hari yang Mengguncang Supremasi Militer Dunia: Ketika Iran Menantang Dominasi Amerika di Asia Barat

Jumat, 12 Desember 2025 - 22:47 WIB

Megathrust Nusantara: Ancaman Senyap yang Terus Mendesak-Analisis Lengkap Untuk Indonesia

Berita Terbaru

Kajian Psikologi Klinis dan Psikologi Kepemimpinan tentang Bahaya Kekuasaan Tanpa Koreksi. (FOTO : Dok. Istimewa)

Republik

Ketika Kekuasaan Membentuk Kepribadian

Minggu, 20 Sep 2026 - 00:30 WIB

Indonesia Harus Belajar dari Iran. (FOTO : Haikun)

Editorial

Indonesia Harus Belajar dari Iran

Sabtu, 19 Sep 2026 - 16:24 WIB