Indonesia Harus Belajar dari Iran

Membangun Kekuatan, Bukan Sekadar Membeli Kegagahan

admin

- Redaksi

Sabtu, 19 September 2026 - 16:24 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

🙏 Saudara-saudara kita di Nusa Tenggara Timur tengah dirundung duka karena gempa M 7,7. Mari kita mengulurkan tangan untuk membantu meringankan beban yang sedang mereka hadapi. Kirim bantuan Anda melalui tautan
+ Donasi

Indonesia Harus Belajar dari Iran. (FOTO : Haikun)

Indonesia Harus Belajar dari Iran. (FOTO : Haikun)

IRAN MENGAJARKAN SATU HAL: KEMANDIRIAN ADALAH SENJATA

Pelajaran terbesar Iran justru bukan rudalnya.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Bukan pula drone-nya.

Yang paling penting adalah kemampuan memproduksi dan mempertahankan sistemnya sendiri di bawah tekanan eksternal.

Sebuah negara yang membeli seratus senjata tetapi tidak mampu memproduksi suku cadang, amunisi, sensor, dan komponennya sendiri akan menghadapi ketergantungan ketika rantai pasok terputus.

Sebaliknya, sistem yang lebih sederhana tetapi dapat dibuat dalam jumlah ribuan unit di dalam negeri mempunyai nilai strategis yang berbeda.

Perang modern semakin menjadi pertarungan antara:

cost of attack versus cost of interception.

Jika sebuah drone atau rudal yang relatif murah memaksa lawan menggunakan interceptor yang bernilai jauh lebih mahal, perang berubah menjadi persoalan matematika industri.

Siapa yang mampu memproduksi, mengganti, dan mengisi kembali persediaan paling cepat, dialah yang memiliki ketahanan lebih panjang.

INDONESIA MEMERLUKAN “PORCUPINE MARITIME STRATEGY”

Indonesia berbeda secara geografis dari Iran. Karena itu, kita tidak perlu meniru Iran secara mentah.

Kita perlu mengambil cara berpikirnya.

Indonesia memiliki lebih dari 17.000 pulau, tiga ALKI, choke points strategis, wilayah laut yang sangat luas, serta garis pantai yang sangat panjang.

Geografi seperti itu justru memungkinkan Indonesia membangun kekuatan pertahanan yang tersebar dan sulit dilumpuhkan sekaligus.

Bayangkan apabila Indonesia membangun jaringan pertahanan maritim yang terdiri atas ribuan drone udara dan laut, rudal antikapal mobile berbasis pulau, radar pantai, passive sensors, satelit penginderaan, kapal cepat rudal, kapal selam, fregat, cyber-electronic warfare, dan pusat komando yang semuanya terhubung dalam satu maritime domain awareness network.

Musuh tidak cukup menghancurkan satu kapal.

Ia harus menghadapi sebuah kepulauan yang menjadi satu sistem pertahanan.

Itulah deterrence.

TETAPI ADA SATU KEKELIRUAN LAIN YANG HARUS DIHINDARI

Kita juga jangan mempertentangkan kapal perang dengan kapal niaga seolah-olah Indonesia harus memilih salah satunya.

Negara maritim besar membutuhkan keduanya.

Kapal perang menjaga jalur perdagangan.

Kapal niaga menghasilkan aktivitas ekonomi yang membuat jalur tersebut bernilai untuk dipertahankan.

Pelajaran konflik Timur Tengah bahkan memperkuat hubungan tersebut. Ketegangan di Selat Hormuz telah mengganggu lalu lintas kapal dan pasar energi global. Reuters melaporkan lalu lintas komoditas melalui Hormuz turun drastis dibandingkan kondisi sebelum perang.

Karena itu, konsep kekuatan laut Indonesia seharusnya berdiri di atas dua kaki:

Penulis : Laksma TNI (Purn.) Jaya Darmawan

Editor : Tim Redaksi

Sumber Berita: HaikunNews

Berita Terkait

Empat Hari yang Mengguncang Supremasi Militer Dunia: Ketika Iran Menantang Dominasi Amerika di Asia Barat
Megathrust Nusantara: Ancaman Senyap yang Terus Mendesak-Analisis Lengkap Untuk Indonesia
Berita ini 18 kali dibaca
Dilarang Mengambil dan/atau Menayangkan Ulang Sebagian Atau Keseluruhan Artikel di atas untuk Konten Akun Media Sosial Komersil Tanpa Seizin Redaksi HaikunNews.Id.

Berita Terkait

Sabtu, 19 September 2026 - 16:24 WIB

Indonesia Harus Belajar dari Iran

Senin, 23 Maret 2026 - 19:18 WIB

Empat Hari yang Mengguncang Supremasi Militer Dunia: Ketika Iran Menantang Dominasi Amerika di Asia Barat

Jumat, 12 Desember 2025 - 22:47 WIB

Megathrust Nusantara: Ancaman Senyap yang Terus Mendesak-Analisis Lengkap Untuk Indonesia

Berita Terbaru

Kajian Psikologi Klinis dan Psikologi Kepemimpinan tentang Bahaya Kekuasaan Tanpa Koreksi. (FOTO : Dok. Istimewa)

Republik

Ketika Kekuasaan Membentuk Kepribadian

Minggu, 20 Sep 2026 - 00:30 WIB

Indonesia Harus Belajar dari Iran. (FOTO : Haikun)

Editorial

Indonesia Harus Belajar dari Iran

Sabtu, 19 Sep 2026 - 16:24 WIB