IRAN MENGAJARKAN SATU HAL: KEMANDIRIAN ADALAH SENJATA
Pelajaran terbesar Iran justru bukan rudalnya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Bukan pula drone-nya.
Yang paling penting adalah kemampuan memproduksi dan mempertahankan sistemnya sendiri di bawah tekanan eksternal.
Sebuah negara yang membeli seratus senjata tetapi tidak mampu memproduksi suku cadang, amunisi, sensor, dan komponennya sendiri akan menghadapi ketergantungan ketika rantai pasok terputus.
Sebaliknya, sistem yang lebih sederhana tetapi dapat dibuat dalam jumlah ribuan unit di dalam negeri mempunyai nilai strategis yang berbeda.
Perang modern semakin menjadi pertarungan antara:
cost of attack versus cost of interception.
Jika sebuah drone atau rudal yang relatif murah memaksa lawan menggunakan interceptor yang bernilai jauh lebih mahal, perang berubah menjadi persoalan matematika industri.
Siapa yang mampu memproduksi, mengganti, dan mengisi kembali persediaan paling cepat, dialah yang memiliki ketahanan lebih panjang.
INDONESIA MEMERLUKAN “PORCUPINE MARITIME STRATEGY”
Indonesia berbeda secara geografis dari Iran. Karena itu, kita tidak perlu meniru Iran secara mentah.
Kita perlu mengambil cara berpikirnya.
Indonesia memiliki lebih dari 17.000 pulau, tiga ALKI, choke points strategis, wilayah laut yang sangat luas, serta garis pantai yang sangat panjang.
Geografi seperti itu justru memungkinkan Indonesia membangun kekuatan pertahanan yang tersebar dan sulit dilumpuhkan sekaligus.
Bayangkan apabila Indonesia membangun jaringan pertahanan maritim yang terdiri atas ribuan drone udara dan laut, rudal antikapal mobile berbasis pulau, radar pantai, passive sensors, satelit penginderaan, kapal cepat rudal, kapal selam, fregat, cyber-electronic warfare, dan pusat komando yang semuanya terhubung dalam satu maritime domain awareness network.
Musuh tidak cukup menghancurkan satu kapal.
Ia harus menghadapi sebuah kepulauan yang menjadi satu sistem pertahanan.
Itulah deterrence.
TETAPI ADA SATU KEKELIRUAN LAIN YANG HARUS DIHINDARI
Kita juga jangan mempertentangkan kapal perang dengan kapal niaga seolah-olah Indonesia harus memilih salah satunya.
Negara maritim besar membutuhkan keduanya.
Kapal perang menjaga jalur perdagangan.
Kapal niaga menghasilkan aktivitas ekonomi yang membuat jalur tersebut bernilai untuk dipertahankan.
Pelajaran konflik Timur Tengah bahkan memperkuat hubungan tersebut. Ketegangan di Selat Hormuz telah mengganggu lalu lintas kapal dan pasar energi global. Reuters melaporkan lalu lintas komoditas melalui Hormuz turun drastis dibandingkan kondisi sebelum perang.
Karena itu, konsep kekuatan laut Indonesia seharusnya berdiri di atas dua kaki:
Penulis : Laksma TNI (Purn.) Jaya Darmawan
Editor : Tim Redaksi
Sumber Berita: HaikunNews
Halaman : 1 2 3 Selanjutnya








