Jika Orang Seperti Ini Menjadi Pemimpin Negara
Persoalannya menjadi jauh lebih serius karena konsekuensi keputusan seorang pemimpin negara tidak berhenti pada dirinya sendiri.
Kekuasaan politik yang sangat besar, apabila bertemu dengan overconfidence, intoleransi terhadap kritik, kebutuhan akan pengakuan berlebihan, rendahnya empati, serta lingkungan yang hanya mengatakan “ya”, secara institusional dapat meningkatkan risiko keputusan yang kurang terkoreksi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Karena itu, persoalan terpenting bukan menebak kesehatan mental seorang pemimpin.
Yang lebih aman bagi suatu negara adalah membangun sistem yang tetap bekerja sekalipun pemimpinnya memiliki kelemahan manusiawi.
Demokrasi dan tata kelola modern seharusnya tidak bergantung pada asumsi bahwa pemimpin selalu bijaksana.
Ia membutuhkan rem terhadap kekuasaan.
Mekanismenya dapat mencakup:
- pembatasan masa kekuasaan;
- pembagian kekuasaan dan checks and balances;
- penasihat profesional yang berani menyampaikan pendapat berbeda;
- kebebasan akademik dan pers;
- pengawasan parlemen dan lembaga hukum;
- proses pengambilan keputusan berbasis data;
- mekanisme red team yang secara khusus mencari kelemahan suatu keputusan;
- rotasi jabatan;
- perlindungan bagi pemberi kritik dan whistleblower;
- serta budaya organisasi yang membedakan antara loyalitas kepada pemimpin dan loyalitas kepada negara.
Kekuasaan Membutuhkan Koreksi
Prinsip yang dapat ditarik dari pengalaman tersebut sebenarnya sederhana:
Kekuasaan yang sehat bukan kekuasaan yang tidak pernah dibantah. Kekuasaan yang sehat adalah kekuasaan yang menyediakan ruang agar pemegang kekuasaan dapat dikoreksi.
Sebab, manusia yang terlalu lama hanya mendengar “Siap, benar” berisiko semakin sulit mendengar “Mohon izin, keputusan ini keliru.”
Pada tingkat negara, mekanisme koreksi tersebut menjadi semakin penting. Mekanisme itu membantu memastikan bahwa kelemahan manusiawi seorang pemegang kekuasaan tidak berkembang menjadi kesalahan kebijakan yang harus ditanggung oleh jutaan orang.
Jadi, pelajaran dari pola “Komandan → Staf → Komandan → Staf” bukan bahwa seorang komandan pasti mengalami gangguan jiwa apabila terlalu lama memimpin.
Pelajaran yang lebih kuat secara ilmiah adalah:
“Setiap pemegang kekuasaan memerlukan periode, lingkungan, dan sistem yang memaksanya kembali mendengar, dikritik, diuji, dan berhadapan dengan kenyataan. Sebab, kekuasaan tanpa koreksi bukan hanya dapat mengubah cara seseorang memimpin—ia juga dapat mengubah cara seseorang melihat dirinya sendiri.”
Referensi
World Health Organization (WHO) — ICD-11 Clinical Descriptions and Diagnostic Requirements.
PubMed Central — Kajian ilmiah mengenai Hubris Syndrome.
Penulis : Laksma TNI (Purn.) Jaya Darmawan
Editor : Tim Redaksi
Sumber Berita: HaikunNews








