Ijazah yang Tersesat, Negara yang Kesasar

Budiawan Satupena Kudus

admin

- Redaksi

Kamis, 20 November 2025 - 12:58 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ijazah yang Tersesat, Negara yang Kesasar. FOTO : HN

Ijazah yang Tersesat, Negara yang Kesasar. FOTO : HN

Di sebuah negara kepulauan yang katanya gemar gotong royong, ada satu benda paling misterius sepanjang sejarah republik: selembar ijazah seorang presiden.

Benda itu begitu sakti, hingga:
* polisi sibuk,
* jaksa tegang,
* hakim serius,
* aktivis masuk penjara,
* kampus ketakutan,
* dan rakyat… ya, rakyat cuma disuruh percaya.

Ijazahnya sendiri?
Oh, jangan manja.
Itu barang langka, Bung.
Lebih susah ditemukan daripada Badak Jawa.

Drama 10 Tahun: Nasional Tapi Tidak Rasional

Kasus ini sudah berjalan lebih dari sepuluh tahun, menjadikannya salah satu sinetron terpanjang setelah Tukang Bubur Naik Haji.

Ibarat tayangan religi Ramadhan, setiap tahun selalu ada episode baru:
* Ada yang bertanya → ditangkap.
* Ada yang meneliti → diperiksa.
* Ada yang membandingkan foto → dibungkam.
* Ada yang menganalisis format ijazah → tiba-tiba tersandung pasal karet.

Sementara itu, dokumen yang bisa mengakhiri drama dengan pertunjukan lima menit di depan kamera tetap diperlakukan seperti rahasia negara paling sensitif.

Mungkin lebih sensitif daripada harga BBM.

UGM: Dari Kampus Kerakyatan Menjadi Kampus Kebingungan

Di tengah panggung sandiwara ini, UGM—kampus yang pernah menjadi kebanggaan intelektual Jawa—tiba-tiba terlihat seperti operator parkir:

“Masuk sini boleh, keluar kapan ya? Tergantung bos besar.”

Pihak kampus bergantian memberikan pernyataan:
* Ada yang bilang Jokowi lulus,
* ada yang bilang tidak,
* ada dosen bicara,
* lalu dosennya menarik ucapan,
* lalu pernyataan diperbaiki,
* lalu diperhalus lagi,
* sampai akhirnya publik bingung: ini kampus atau dapur politik?

Kasihan UGM,
ketika gelar akademiknya lebih stabil daripada penjelasan mereka sendiri.

Aparat Hukum: Lembut ke yang Berkuasa, Garang ke yang Bertanya

Di negara yang katanya demokratis,
bertanya soal ijazah presiden bisa membuat Anda:
* diperiksa,
* ditangkap,
* dijadikan tersangka,
* bahkan dipenjara.

Padahal yang ditanya hanyalah selembar kertas.

Andaikan aparat hukum menjaga perbatasan negara seketat menjaga foto ijazah,
mungkin kita sudah jadi macan Asia.

Tapi sayangnya, kita hanya macan kertas.
Mirip ijazah yang diperdebatkan itu.

Kalau Asli, Tunjukkan. Kalau Tidak Ditunjukkan, Jangan Marah Kalau Ada yang Bertanya.

Ini logikanya seperti ini:
* orang nanya KTP Anda, Anda keluarkan KTP; selesai.
* orang nanya sertifikat rumah Anda, Anda tunjukkan; selesai.
* orang nanya ijazah presiden, negara mengerahkan pasal pencemaran nama baik.

Aneh, bukan?

Selembar dokumen yang katanya “asli dan sah” dijaga lebih kuat daripada emas di Bank Indonesia.

Logika yang sehat bertanya:
“Kalau benar lulus UGM tahun 1985, apa sulitnya menunjukkan?”

Mungkin sulit.
Mungkin sangat sulit.
Mungkin lebih sulit daripada membangun IKN.

Energi Bangsa yang Terbuang Percuma

Bayangkan:
10 tahun x
ribuan jam debat publik x
puluhan orang dipidanakan x
kampus dibikin bingung x
aparat hukum difungsikan sebagai satpam ijazah

Energi nasional terbuang sia-sia.

Seperti kata seorang netizen bijak di grup WA:
“Mana ada kekuasaan boleh kalah dari akal sehat?”

Ah, benar juga.
Di republik ini, akal sehat sering dianggap oposan.

Penutup: Ijazah Adalah Simbol, Bukan Sekedar Kertas

Ini bukan sekadar soal kuliah di UGM atau tidak. Ini soal kepemimpinan yang menolak transparansi,
institusi pendidikan yang gamang,
dan hukum yang bekerja seperti tukang parkir: siapa yang punya kuasa, dia yang dapat tempat terbaik.

Di tengah semuanya, rakyat hanya ingin kepastian.

Bukan kepastian hukum—itu terlalu mewah.
Cukup kepastian bahwa negara ini masih punya keberanian untuk mengatakan:

“Benar ya benar, salah ya salah.”

Sayangnya,
hingga hari ini,
ijazah itu masih menghilang entah ke mana.

Mungkin sedang skripsian ulang.
Siapa tahu.

Penulis : Drs. Suripno. Mstr

Editor : Redaksi

Sumber Berita: haikunnews.id

Berita Terkait

Iran Menemukan Titik Lemah Mematikan Militer AS, Financial Times Inggris Mengonfirmasi-Di Balik Teheran Tampaknya Ada Arahan dari Sosok Ahli!
Strategi Korektif Nasional untuk Memutus Kezaliman Struktural: Jalan Amanah, Keadilan, dan Keberanian Moral (Seri-3)
Membangkitkan Keberanian Moral Orang Baik dalam Menghadapi Kezaliman Struktural
Apakah Indonesia Masih Berdaulat. Dari “Uang Republik Indonesia” ke “Uang Bank Indonesia”: Jejak Sunyi Hilangnya Kedaulatan Moneter Bangsa
PERANG DI BAWAH KUBAH: Paradoks Starlink: Ketika “Satelit” Elon Musk Ditaklukkan oleh Fisika Atmosfer dan Logika Perang Darat Iran
Transportasi Perkotaan Indonesia dalam Paradigma Profetik
PERINGATAN ZAMAN : Sangkan Paraning Dumadi sebagai Kompas Ontologis–Etis di Era “Kuantum”: Dari Krisis Makna ke Kebangkitan Amanah (Seri 1)
Mengikat Konstitusi dengan Nilai Langit: Amandemen Konstitusi untuk Menegakkan Negara Hukum yang Berbasis Kebenaran dan Keadilan (Seri-1)
Berita ini 213 kali dibaca
Dilarang Mengambil dan/atau Menayangkan Ulang Sebagian Atau Keseluruhan Artikel di atas untuk Konten Akun Media Sosial Komersil Tanpa Seizin Redaksi HaikunNews.Id.

Berita Terkait

Jumat, 13 Maret 2026 - 18:46 WIB

Iran Menemukan Titik Lemah Mematikan Militer AS, Financial Times Inggris Mengonfirmasi-Di Balik Teheran Tampaknya Ada Arahan dari Sosok Ahli!

Sabtu, 7 Februari 2026 - 07:52 WIB

Membangkitkan Keberanian Moral Orang Baik dalam Menghadapi Kezaliman Struktural

Minggu, 1 Februari 2026 - 12:23 WIB

Apakah Indonesia Masih Berdaulat. Dari “Uang Republik Indonesia” ke “Uang Bank Indonesia”: Jejak Sunyi Hilangnya Kedaulatan Moneter Bangsa

Jumat, 23 Januari 2026 - 00:04 WIB

PERANG DI BAWAH KUBAH: Paradoks Starlink: Ketika “Satelit” Elon Musk Ditaklukkan oleh Fisika Atmosfer dan Logika Perang Darat Iran

Minggu, 18 Januari 2026 - 00:18 WIB

Transportasi Perkotaan Indonesia dalam Paradigma Profetik

Berita Terbaru

Iran

Internasional

Iran “Batu Sandungan” Berat Bagi Dinasti Rothschild

Minggu, 8 Mar 2026 - 19:32 WIB

Pemimpin Adil dan Beriman vs Pemimpin Zalim dan Tidak Beriman. FOTO : Ilustrasi

Tarbiyah

Pemimpin Adil dan Beriman vs Pemimpin Zalim dan Tidak Beriman

Selasa, 17 Feb 2026 - 19:18 WIB