Mengenal Sufi Agung Wanita Rabi’ah Al Adawiyyah (Seri-2)

admin

- Redaksi

Minggu, 14 Desember 2025 - 09:49 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Mengenal Sufi Agung Wanita Rabi'ah Al-Adawiyah. FOTO : HN/Ilustrasi

Mengenal Sufi Agung Wanita Rabi'ah Al-Adawiyah. FOTO : HN/Ilustrasi

IV. Prinsip Dasar: Penderitaan sebagai Jalan Cinta

Rābi‘ah memandang sakit, derita, dan kesempitan hidup bukan azab, tetapi:

1. “Tanda perhatian Allah terhadap hamba yang dicintai-Nya.”

Dalam munajatnya, ia berkata: “Jika Engkau memberi nikmat, aku menerimanya. Jika Engkau memberi musibah, aku menerimanya.
Karena bagiku, Engkau adalah segalanya.”

Di sini terlihat bahwa penderitaan tidak menghalangi cinta—bahkan menjadikannya matang.

 

 V. Ajaran Rābi‘ah tentang SABAR

1. Sabar adalah buah cinta kepada Allah

Menurut Rābi‘ah, orang yang betul-betul mencintai Allah:

  • tidak mempersoalkan apa yang datang dari-Nya,
  • tidak memprotes takdir,
  • sabar bukan karena dipaksa, tetapi karena paham siapa yang memberi ujian.

Ia berkata: “Sabar itu indah bila engkau tahu dari siapa ujian itu datang”.

Ini berbeda dari sabar biasa: sabar Rābi‘ah adalah sabar yang penuh kerinduan.

2. Sabar dalam penderitaan adalah tingkat awal menuju ridha

Bagi Rābi‘ah, sabar bukan tujuan akhir. Itu tangga pertama menuju:

  • ridha (menerima),
  • mahabbah (mencintai),
  • uns (merasa dekat dengan Allah).

Ia berkata: “Setelah sabar datanglah ridha, setelah ridha datanglah cinta”.

3. Sabar yang tidak berharap imbalan

Sabar menurut Rābi‘ah bukan sabar yang menunggu “balasan” di surga.

Ia tidak memohon surga, tidak takut neraka — ia hanya ingin Allah.

“Sabar adalah ketika lidah diam, hati tenang, dan jiwa melihat hanya Allah.

 

VI. Ajaran Rābi‘ah tentang SAKIT

1. Sakit adalah bentuk kasih sayang Allah

Ada riwayat ketika Rābi‘ah sakit, muridnya bertanya:

“Mengapa engkau tidak memohon kesembuhan?”

Dia menjawab:

“Tuhanku tahu apa yang terbaik bagiku. Jika Dia menghendaki aku sakit, maka aku mencintai apa yang Dia kehendaki.”

Sakit dipandang sebagai cara Allah membersihkan hati, mendidik jiwa, dan mengangkat derajat.

2. Sakit memperkuat kerinduan kepada Allah

Baginya, sakit bukan penghalang ibadah, tetapi sarana memperhalus hati.

Ia berkata:

“Sakit adalah tamu dari Tuhanku. Maka aku memuliakannya selama ia tinggal.”

Sakit = pelajaran + penghapusan dosa + peningkatan maqam.

3. Sakit adalah kesempatan untuk total bersandar kepada Allah

Dalam kondisi sakit, semua penopang dunia melemah.
Inilah momen di mana jiwa kembali murni kepada Allah.

Rābi‘ah berkata:

“Jika aku sehat, aku sibuk dengan ibadah. Jika aku sakit, aku sibuk dengan Allah.”

Ini puncak tawakkal.

 

VII. Ajaran Rābi‘ah tentang PENDERITAAN

1. Penderitaan bukan hukuman, tetapi proses pemurnian

Rābi‘ah memandang dunia sebagai “madrasah cinta”, dan penderitaan adalah:

  • latihan kesabaran,
  • ujian keikhlasan,
  • cermin kelemahan diri,

Cara Allah mengajar seorang hamba untuk kembali kepada-Nya.

Ia menyatakan:

“Tidak ada yang pahit bagi hati yang telah merasakan manisnya mengenal Allah.”

Penderitaan menjadi ringan karena hati penuh cahaya.

2. Penderitaan mengajarkan untuk tidak bergantung pada selain Allah

Menurutnya, penderitaan sering hadir untuk:

* memotong ikatan dunia,

* menghancurkan kesombongan,

* menyingkap hakikat diri.

Ia berkata:

> Allah mencintai hamba yang tidak lagi bergantung selain kepada-Nya.

3. Penderitaan adalah kehormatan bagi pecinta Allah

Bagi orang yang mencintai Allah, penderitaan bukan beban — melainkan bukti perhatian.

Rābi‘ah berkata:

> Aku tidak melihat penderitaan kecuali sebagai hadiah.
Sebab segala sesuatu dari Kekasihku tidak mungkin buruk bagiku.

Ajaran ini mencerminkan taslim (penyerahan total).

4. Penderitaan menyingkap hakikat niat

Ujian memperlihatkan:

* apakah kita beribadah demi Allah,

* atau demi dunia,

* atau demi surga.

Jika seseorang tetap istiqamah dalam penderitaan, artinya ia benar-benar ikhlas.

VIII. Hubungan Sabar–Sakit–Penderitaan dalam Satu Konsep

Bagi Rābi‘ah:

1️⃣ Sakit = cara Allah melembutkan hati

2️⃣ Penderitaan = cara Allah mendidik dan menyucikan

3️⃣ Sabar = respon hati seorang pecinta Allah

4️⃣ Ridha = maqam setelah sabar

5️⃣ Cinta = puncak perjalanan spiritual

🌸 IX. Inti Ajaran Rābi‘ah mengenai penderitaan

Dapat diringkas dalam satu kalimat masyhurnya:

> Tuhanku, segala yang dari-Mu adalah baik bagiku

Bersambung Seri-3

Penulis : Drs. Suripno. Mstr

Editor : Redaksi

Sumber Berita: haikunnews.id

Berita Terkait

Tujuh Tingkatan Wujud (Maqāmāt An-Nafs) dan Urgensinya Bagi Orang Berilmu di Zaman Sekarang
Indikator Kezaliman Individual dan Struktural Beserta Dalilnya (Seri-2)
Kezaliman Individual dan Kezaliman Struktural Dalam Perspektif Al Quran, Hadis, dan Ulama: Akar Masalah, Tanggung Jawab Moral, dan Konsekuensi Illahiyah (Seri-1)
REFORMASI PEMILU ; Langkah Awal Amandemen UUD 1945 dan Pembangunan Sistem Hukum Indonesia Berbasis Kebenaran dan Keadilan Allah
Hakikat Ilmu dalam Tradisi Ulama Klasik dan Keunggulannya atas Filsafat Ilmu Modern
Kelembutan Hati dan Tangisan yang Bermuara pada Cinta Kepada Allah sebagai Bekal Mengarungi Zaman Edan
Mengenang Sufi Agung Wanita Rabi’ah Al Adawiyyah dan Ajarannya (Seri-7)
Amanah Pemimpin Beriman, dan Kewajiban Menegakkan Kebenaran Allah serta Keadilan Allah
Berita ini 4 kali dibaca
Dilarang Mengambil dan/atau Menayangkan Ulang Sebagian Atau Keseluruhan Artikel di atas untuk Konten Akun Media Sosial Komersil Tanpa Seizin Redaksi HaikunNews.Id.

Berita Terkait

Selasa, 17 Februari 2026 - 19:33 WIB

Tujuh Tingkatan Wujud (Maqāmāt An-Nafs) dan Urgensinya Bagi Orang Berilmu di Zaman Sekarang

Selasa, 3 Februari 2026 - 10:19 WIB

Indikator Kezaliman Individual dan Struktural Beserta Dalilnya (Seri-2)

Selasa, 3 Februari 2026 - 10:08 WIB

Kezaliman Individual dan Kezaliman Struktural Dalam Perspektif Al Quran, Hadis, dan Ulama: Akar Masalah, Tanggung Jawab Moral, dan Konsekuensi Illahiyah (Seri-1)

Senin, 12 Januari 2026 - 01:21 WIB

REFORMASI PEMILU ; Langkah Awal Amandemen UUD 1945 dan Pembangunan Sistem Hukum Indonesia Berbasis Kebenaran dan Keadilan Allah

Sabtu, 10 Januari 2026 - 07:43 WIB

Hakikat Ilmu dalam Tradisi Ulama Klasik dan Keunggulannya atas Filsafat Ilmu Modern

Berita Terbaru

Pemimpin Adil dan Beriman vs Pemimpin Zalim dan Tidak Beriman. FOTO : Ilustrasi

Tarbiyah

Pemimpin Adil dan Beriman vs Pemimpin Zalim dan Tidak Beriman

Selasa, 17 Feb 2026 - 19:18 WIB