Pengantar
- Mengarungi zaman edan, pesan para pinisepuh bahwa kebeningan hati sangat diperlukan agar hati senantiasa sabar, penuh rasa syukur, ihlas dan ridha.
- Sehubungan dengan hal tersebut mari kita renungkan makna dan urgensinya, khususnya menghadapi zaman edan.
I. SABAR DAN SYUKUR: MAKNA, PENTINGNYA, DAN HUBUNGANNYA
A. Makna dan Dalil
1. Sabar berasal dari akar kata ṣabara yang berarti menahan diri, meneguhkan hati, dan tidak berkeluh kesah dalam menghadapi cobaan. Allah berfirman:
“Hai orang-orang yang beriman, mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan salat, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah [2]: 153)
2. Menurut Tafsir Ibn Katsir, sabar meliputi tiga dimensi:
* (1) sabar dalam ketaatan,
* (2) sabar menjauhi maksiat,
* (3) sabar menghadapi takdir yang pahit.
3. Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa sabar adalah “menahan gejolak hawa nafsu agar tunduk pada akal dan syariat.”
4. Sementara syukur, dari akar kata syakara, bermakna menampakkan nikmat dengan pujian dan amal. Allah berfirman:
“Jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu; tetapi jika kamu kufur, sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” (QS. Ibrahim [14]: 7)
5. Dalam Tafsir Al-Maraghi, syukur terdiri dari tiga bentuk:
* (1) syukur dengan hati — menyadari sumber nikmat dari Allah,
* (2) syukur dengan lisan — memuji Allah,
* (3) syukur dengan amal — menggunakan nikmat sesuai kehendak Allah.
B. Urgensinya
- Keduanya adalah dua sayap iman. Rasulullah ﷺ bersabda: “Sungguh menakjubkan perkara seorang mukmin. Semua urusannya baik baginya. Jika ia mendapat kesenangan, ia bersyukur, maka itu baik baginya; jika ia tertimpa kesusahan, ia bersabar, maka itu pun baik baginya.” (HR. Muslim).
- Sabar menjaga iman dari guncangan, sementara syukur menjaga hati dari kesombongan dan kufur nikmat.
- Keduanya saling melengkapi — sabar melindungi dari keputusasaan, syukur menumbuhkan harapan.
C. Hubungan Sabar dan Syukur
- Ibn Qayyim Al-Jauziyyah dalam Madarij as-Salikin menulis: “Sabar dan syukur adalah dua penopang iman; ibarat dua sayap bagi seekor burung. Iman tidak akan terbang kecuali dengannya.”
- Sabar diperlukan saat musibah, syukur saat nikmat; namun keduanya berpadu dalam satu kesadaran: segala sesuatu berasal dari Allah dan akan kembali kepada-Nya.
- Ketika seorang mukmin bersabar dalam kesempitan dan bersyukur dalam kelapangan, ia menapaki maqam orang beriman sejati — yaitu hidup dengan kesadaran tauhid, bahwa baik nikmat maupun musibah adalah kasih Allah dalam bentuk berbeda.
II. IHLAS DAN RIDHA: MAKNA, PENTINGNYA, DAN HUBUNGANNYA?
A. Makna dan Dalil
1. Ihlas (al-ikhlāṣ) berarti memurnikan niat semata-mata karena Allah, tanpa pamrih duniawi. Firman Allah:
“Padahal mereka tidak diperintahkan kecuali supaya menyembah Allah dengan ikhlas menaatinya dalam (menjalankan) agama.” (QS. Al-Bayyinah [98]: 5)
3. Tafsir Al-Qurthubi menjelaskan bahwa ikhlas adalah “menyingkirkan segala motif selain Allah dari amal.”
4. Imam Al-Ghazali menambahkan: “Ihlas adalah ketika engkau menyembunyikan amal kebaikan sebagaimana engkau menyembunyikan keburukan.”
5. Ridha adalah ketenangan hati menerima segala ketentuan Allah tanpa penolakan batin. Firman Allah:
“Allah ridha terhadap mereka dan mereka pun ridha kepada-Nya.” (QS. Al-Bayyinah [98]: 8)
6. Menurut Tafsir Ibn Katsir, ridha adalah maqam tertinggi seorang mukmin — yaitu saat hatinya damai dengan semua takdir Allah, baik yang tampak sebagai nikmat maupun ujian.
B. Urgensinya
1. Ihlas adalah ruh amal, ridha adalah buahnya. Rasulullah ﷺ bersabda:
“Sesungguhnya Allah tidak melihat rupa dan harta kalian, tetapi melihat hati dan amal kalian.” (HR. Muslim)
2. Tanpa ikhlas, amal kehilangan nilai; tanpa ridha, ibadah menjadi berat. Ihlas membebaskan dari kepura-puraan, ridha menenangkan dari keluh kesah. Keduanya menuntun manusia menuju keseimbangan batin antara usaha dan pasrah.
C. Hubungan Ihlas dan Ridha
1. Ihlas melahirkan ridha; siapa yang beramal hanya karena Allah akan tenang menerima hasilnya. Ridha memperkuat ikhlas karena hati yang tenang tidak lagi menuntut balasan.
2. Ibn ‘Athaillah As-Sakandari berkata dalam Al-Hikam:
“Ridha terhadap Allah adalah buah dari pengetahuanmu akan kelembutan takdir-Nya.”
III. MAQAM TERTINGGI: BERSYUKUR DALAM PENDERITAAN
Biasanya, sabar diperuntukkan bagi penderitaan, dan syukur bagi anugerah. Namun, ketika seseorang mampu bersyukur di tengah penderitaan, berarti ia telah melampaui maqam sabar menuju maqam ridha bahkan maqam ma‘rifah.
B. Dalil dan Tafsir
- Allah berfirman: “Dan sungguh akan Kami uji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka berkata: ‘Innā lillāhi wa innā ilaihi rāji‘ūn.’ Mereka itulah yang mendapat rahmat dan petunjuk dari Tuhannya.” (QS. Al-Baqarah [2]: 155–157).
- Dalam Tafsir Al-Qurthubi, dikatakan bahwa kalimat Innā lillāhi… adalah puncak syukur, karena hamba menyadari segala sesuatu milik Allah. Dengan kesadaran itu, kehilangan pun menjadi tanda kasih Allah yang sedang “menyapa” hamba-Nya dengan cara lain.
- Rasulullah ﷺ bersabda: “Sungguh menakjubkan keadaan seorang mukmin. Semua urusannya baik baginya. Jika mendapat kesenangan, ia bersyukur; jika mendapat kesusahan, ia bersabar. Itulah keistimewaan seorang mukmin.” (HR. Muslim)
- Namun, menurut Imam Al-Ghazali dalam Ihyā’ ‘Ulūmiddīn, ada derajat lebih tinggi:
- Sabar mereka adalah syukur; ujian bagi mereka adalah tanda cinta.
- Inilah maqam ridha bi al-qadha’ — ketika hati tidak menolak takdir, bahkan melihatnya sebagai karunia.
C. Maqam Ridha dan Ma‘rifah
- Ridha berarti hati senang terhadap kehendak Allah. Dalam Tafsir Fakhruddin Ar-Razi, ayat “Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada-Nya” (QS. Al-Bayyinah: 8) menunjukkan pertukaran cinta antara hamba dan Tuhan.
- Ketika seseorang telah mencapai maqam ini, syukurnya tidak lagi bergantung pada bentuk lahiriah nikmat, tetapi pada keberadaan Allah yang selalu bersamanya. Mereka bersyukur bukan karena nikmat dunia, tetapi karena diberi kesempatan merasakan kehadiran Allah dalam setiap peristiwa.
- Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani berkata:
- Rumi menulis dengan puitis:
IV. RELEVANSI UNTUK MENGARUNGI ZAMAN EDAN
A. Makna Zaman Edan
1. Dalam Serat Kalatidha karya Ranggawarsita, “zaman edan”6 digambarkan sebagai masa di mana kebenaran disembunyikan, kejujuran tidak dihargai, dan kemunafikan dijunjung tinggi. Ini paralel dengan sabda Rasulullah ﷺ:
“Akan datang tahun-tahun penuh tipu daya; orang jujur dianggap pendusta, pendusta dipercaya, yang amanah dianggap khianat, dan yang khianat diberi amanah.” (HR. Ahmad)
2. Zaman ini adalah masa krisis moral dan spiritual. Dalam keadaan demikian, sabar, syukur, ikhlas, dan ridha bukan sekadar teori, tetapi senjata ruhani untuk bertahan di tengah kekacauan nilai.
B. Peran Keempat Nilai
1. Sabar menahan diri dari reaksi emosional terhadap kezaliman dan godaan kekuasaan.
2. Syukur menjaga hati agar tetap tenang dan tidak tamak ketika dunia bergelimang harta.
3. Ihlas meluruskan niat agar amal dan perjuangan tidak ternoda kepentingan diri.
4. Ridha menumbuhkan kedamaian batin di tengah kekacauan sosial dan politik, sebab ia yakin keadilan Allah pasti datang.
5. Sosrokartono pernah menulis:
Urip iku urup; urup iku sabar, syukur, lan ridha marang kersaning Gusti. (Hidup itu nyala, nyala itu : sabar, syukur, dan ridha terhadap apapun takdir Allah)
V. PENUTUP
- Sabar, syukur, ikhlas, dan ridha bukan sekadar empat sifat mulia, tetapi empat pilar kokoh yang menopang keteguhan iman di tengah ujian zaman.
- Ketika dunia dikuasai oleh kepalsuan dan kemunafikan, keempat nilai ini menjadi jalan menuju keselamatan batin dan kemerdekaan jiwa.
- Sabar menuntun manusia untuk tetap teguh meski diterpa badai penderitaan; syukur menjaga hati agar tidak lalai saat menerima kenikmatan; ikhlas membersihkan niat dari pamrih duniawi; dan ridha melahirkan kedamaian sejati karena ia melihat kasih Allah di balik setiap takdir.
- Mereka yang mampu bersyukur bahkan dalam penderitaan telah mencapai maqam tertinggi—maqam ridha dan ma‘rifah—di mana kebaikan dan keburukan tidak lagi diukur dengan ukuran dunia, melainkan dengan kedekatan kepada Allah.
- Di tengah “zaman edan” yang menguji iman, keempat nilai ini adalah obor penerang:
* menuntun para pemimpin agar adil,
* mengingatkan ulama agar jujur,
* mengarahkan cendekiawan agar ikhlas; dan
* menghidupkan rakyat agar sabar dan bersyukur dalam setiap keadaan. - Semoga setiap insan yang membaca dan menghayati nilai-nilai ini senantiasa diberi kekuatan untuk menjalani takdirnya dengan kesabaran yang indah, kesyukuran yang tulus, keikhlasan yang murni, dan keridhaan yang menenteramkan.
“Hasbunallāhu wa ni‘mal wakīl, ni‘mal maulā wa ni‘man nashīr.”
Cukuplah Allah menjadi Penolong kami, sebaik-baik Pelindung dan sebaik-baik Penolong.
Āmīn yā Rabbal ‘ālamīn.
Penulis : Drs. Suripno. Mstr (Dosen Institut Transportasi dan Logistik di Trisakti)
Editor : Redaksi
Sumber Berita: haikunnews.id







