Peringatan Zaman

Sangkan Paraning Dumadi sebagai Kesadaran Ontologis, Etika Publik, dan Peringatan Ilahiah bagi Bangsa

admin

- Redaksi

Kamis, 18 Desember 2025 - 10:43 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Sangkan Paraning Dumadi sebagai Kesadaran Ontologis, Etika Publik, dan Peringatan Ilahiah bagi Bangsa. FOTO : Ilustrasi AI

Sangkan Paraning Dumadi sebagai Kesadaran Ontologis, Etika Publik, dan Peringatan Ilahiah bagi Bangsa. FOTO : Ilustrasi AI

Pengantar

  1. Zaman ini memperlihatkan paradoks besar: kemajuan material berjalan cepat, tetapi kematangan moral dan spiritual justru mundur.
  2. Krisis kepemimpinan, ketidakadilan hukum, rusaknya lingkungan, dan normalisasi kebohongan bukanlah peristiwa terpisah, melainkan manifestasi kolektif dari hilangnya kesadaran manusia tentang asal-usul, tujuan hidup, dan pertanggungjawaban akhir.
  3. Konsep Sangkan Paraning Dumadi—kesadaran tentang dari mana manusia berasal, untuk apa ia hidup, dan ke mana ia akan kembali merupakan kerangka etik dan ontologis yang sangat relevan untuk membaca krisis zaman ini.
  4. Dalam Islam, konsep ini sepenuhnya sejalan dengan ajaran tauhid, amanah, dan hisab.
  5. Ketika kesadaran ini diabaikan, lahirlah kerusakan struktural yang berujung pada konsekuensi teologis dan sosial, bahkan telsh terjadi bencana di prov. Aceh, SUMUT, dan SUMBAR sebagai akibat perbuatan manusia.

I. Kerangka Ontologis:
1. Mengapa Sangkan Paraning Dumadi Bersifat Fundamental

Sangkan Paraning Dumadi bukan ajaran moral permukaan, melainkan kesadaran ontologis—kesadaran tentang hakikat keberadaan manusia. Ia menjawab tiga pertanyaan paling mendasar dalam hidup:

  • Sangkan – Dari mana manusia berasal?
  • Paran – Untuk apa manusia hidup?
  • Dumadi – Bagaimana manusia menjalani hidup dan mempertanggungjawabkannya?

2. Dalam filsafat Jawa, manusia yang kehilangan tiga kesadaran ini disebut kesasar urip—hidup berjalan, tetapi kehilangan arah makna.
3. Dalam Islam, kondisi ini disebut ghaflah, yaitu kelalaian hati yang menjadi sumber kesesatan akal dan rusaknya perilaku sosial.[1]

II. Pendalaman Makna Setiap Unsur dan Dampaknya Bila Diabaikan

1. Lupa Sangkan: Akar Kesombongan dan Penyalahgunaan Kuasa

Kesadaran sangkan menegaskan bahwa:

  • hidup adalah pemberian,
  • kekuasaan adalah titipan,
  • ilmu adalah amanah.

Ketika sangkan dilupakan, manusia:

  • menuhankan dirinya sendiri,
  • merasa tidak perlu tunduk pada kebenaran di luar kepentingannya,
  • memandang jabatan sebagai legitimasi absolut.
  • Dalam perspektif Al-Qur’an, lupa terhadap asal penciptaan adalah pintu kesombongan dan penolakan terhadap kebenaran.[2]
  • Secara sosial, lupa sangkan melahirkan pemimpin yang otoriter, elite yang rakus, dan sistem yang menindas tanpa rasa bersalah.

2. Menyimpang dari Paran: Hilangnya Orientasi Hidup dan ?Etika Publik

  • Paran menegaskan bahwa hidup memiliki tujuan transenden, bukan sekadar keberhasilan duniawi.
  • Ketika paran diselewengkan:
  • tujuan hidup direduksi menjadi kekuasaan, kekayaan, dan citra;
  • keadilan dikorbankan demi stabilitas;
  • penderitaan manusia lain dianggap biaya pembangunan.

Al-Qur’an secara tegas membantah anggapan bahwa manusia hidup tanpa tujuan dan tanpa pertanggungjawaban.[3]
Inilah sebabnya masyarakat modern sering tampak “berhasil”, tetapi rapuh secara moral dan batin.

3. Merusak Dumadi: Ketika Proses Kehidupan Kehilangan Amanah

Dumadi bukan hanya “hidup”, tetapi cara hidup.
Ia menuntut bahwa:

  • proses harus benar,
  • cara harus bermartabat,
  • jalan harus sejalan dengan nilai kebenaran.

Ketika dumadi dirusak:

  • kebohongan dilegalkan,
  • manipulasi dinormalkan,
  • hukum diperalat.
  • Dalam Islam, setiap fase kehidupan adalah amanah yang akan dimintai pertanggungjawaban secara rinci.[4]
  • Kerusakan proses pasti melahirkan kehancuran hasil, meskipun tertunda.

III. Tanda-Tanda Nyata Ketidakpahaman Sangkan Paraning Dumadi Menurut Peran Sosial

1. Pemimpin dan Penguasa

Tanda-tandanya:

  • merasa kebal kritik dan koreksi moral;
  • membenarkan ketidakadilan atas nama kepentingan negara;
  • memusatkan kekuasaan tanpa akuntabilitas.
  • Secara teologis, kepemimpinan yang tercerabut dari amanah adalah sebab turunnya murka Allah dan keruntuhan bangsa.[5]

2. Ulama dan Cendekiawan

Tanda-tandanya:

  • diam terhadap kezaliman sistemik;
  • membungkus ketidakadilan dengan dalil atau teori;
  • takut kehilangan fasilitas lebih besar daripada takut kehilangan kebenaran.

* Ulama klasik menegaskan bahwa ilmu yang tidak mengantarkan kepada Allah justru menjadi hijab paling berbahaya.[6]

3. Aparat dan Penegak Hukum

Tanda-tandanya:

  • hukum dijalankan transaksional;
  • keadilan kalah oleh prosedur;
  • keberanian hanya muncul terhadap yang lemah.

Rasulullah ﷺ memperingatkan bahwa mayoritas penegak hukum yang tidak adil berada dalam kebinasaan.[7]

4. Masyarakat Umum

Tanda-tandanya:

  • apatis terhadap ketidakadilan;
  • membenarkan kebohongan demi kenyamanan;
  • memisahkan moral dari kehidupan sosial.

Al-Qur’an mengingatkan bahwa azab sosial tidak hanya menimpa pelaku kezaliman, tetapi juga mereka yang membiarkannya.[8]

 

IV. Konsekuensi Teologis: Dari Dunia hingga Akhirat

Mengabaikan sangkan, paran, dan dumadi melahirkan hukum ilahiah yang bekerja bertahap:

  1. Kematian hati sebelum kematian jasad
  2. Hilangnya keberkahan hidup meski tampak makmur
  3. Kerusakan sosial dan ekologis sebagai teguran
  4. Runtuhnya kepercayaan publik terhadap institusi
  5. Hisab yang berat dan penyesalan abadi

Imam Al-Ghazali menyebut keadaan ini sebagai kerugian eksistensial terbesar manusia—hidup, tetapi gagal sebagai manusia.[9]

 

V. Penutup – Peringatan yang Tidak Boleh Diabaikan

Renungan ini adalah peringatan zaman, bukan sekadar refleksi intelektual.
Sangkan Paraning Dumadi adalah bahasa Nusantara untuk kebenaran universal Islam:

  • Manusia berasal dari Allah, hidup dalam amanah, dan akan kembali untuk dimintai pertanggungjawaban.
  • Jika kesadaran ini terus diabaikan, maka krisis yang datang bukan hanya ekonomi atau politik, melainkan kehancuran makna hidup dan murka Tuhan yang bekerja melalui sejarah.

Catatan Kaki.

[1] Al-Ghazali, Ihya’ ‘Ulumuddin, Bab Ghaflah wa at-Tafakkur.
[2] QS. Fathir: 3; tafsir Ibnu Katsir.
[3] QS. Al-Mu’minun: 115; tafsir Al-Qurthubi.
[4] QS. At-Takatsur: 8.
[5] QS. Hud: 113.
[6] Ibnu ‘Athaillah As-Sakandari, Al-Hikam.
[7] Hadis tentang tiga golongan hakim.
[8] QS. Al-Anfal: 25.
[9] Al-Ghazali, Bidayatul Hidayah.

Penulis : Drs. Suripno. Mstr

Editor : Redaksi

Sumber Berita: haikunnews.id

Berita Terkait

Strategi Korektif Nasional untuk Memutus Kezaliman Struktural: Jalan Amanah, Keadilan, dan Keberanian Moral (Seri-3)
Membangkitkan Keberanian Moral Orang Baik dalam Menghadapi Kezaliman Struktural
Apakah Indonesia Masih Berdaulat. Dari “Uang Republik Indonesia” ke “Uang Bank Indonesia”: Jejak Sunyi Hilangnya Kedaulatan Moneter Bangsa
PERANG DI BAWAH KUBAH: Paradoks Starlink: Ketika “Satelit” Elon Musk Ditaklukkan oleh Fisika Atmosfer dan Logika Perang Darat Iran
Transportasi Perkotaan Indonesia dalam Paradigma Profetik
PERINGATAN ZAMAN : Sangkan Paraning Dumadi sebagai Kompas Ontologis–Etis di Era “Kuantum”: Dari Krisis Makna ke Kebangkitan Amanah (Seri 1)
Mengikat Konstitusi dengan Nilai Langit: Amandemen Konstitusi untuk Menegakkan Negara Hukum yang Berbasis Kebenaran dan Keadilan (Seri-1)
Mengikat Konstitusi dengan Nilai Langit: Amandemen Konstitusi untuk Menegakkan Negara Hukum yang Berbasis Kebenaran dan Keadilan (Seri-2)
Berita ini 5 kali dibaca
Dilarang Mengambil dan/atau Menayangkan Ulang Sebagian Atau Keseluruhan Artikel di atas untuk Konten Akun Media Sosial Komersil Tanpa Seizin Redaksi HaikunNews.Id.

Berita Terkait

Sabtu, 7 Februari 2026 - 08:10 WIB

Strategi Korektif Nasional untuk Memutus Kezaliman Struktural: Jalan Amanah, Keadilan, dan Keberanian Moral (Seri-3)

Sabtu, 7 Februari 2026 - 07:52 WIB

Membangkitkan Keberanian Moral Orang Baik dalam Menghadapi Kezaliman Struktural

Minggu, 1 Februari 2026 - 12:23 WIB

Apakah Indonesia Masih Berdaulat. Dari “Uang Republik Indonesia” ke “Uang Bank Indonesia”: Jejak Sunyi Hilangnya Kedaulatan Moneter Bangsa

Jumat, 23 Januari 2026 - 00:04 WIB

PERANG DI BAWAH KUBAH: Paradoks Starlink: Ketika “Satelit” Elon Musk Ditaklukkan oleh Fisika Atmosfer dan Logika Perang Darat Iran

Minggu, 18 Januari 2026 - 00:18 WIB

Transportasi Perkotaan Indonesia dalam Paradigma Profetik

Berita Terbaru

Pemimpin Adil dan Beriman vs Pemimpin Zalim dan Tidak Beriman. FOTO : Ilustrasi

Tarbiyah

Pemimpin Adil dan Beriman vs Pemimpin Zalim dan Tidak Beriman

Selasa, 17 Feb 2026 - 19:18 WIB