Pengantar
- Zaman ini memperlihatkan paradoks besar: kemajuan material berjalan cepat, tetapi kematangan moral dan spiritual justru mundur.
- Krisis kepemimpinan, ketidakadilan hukum, rusaknya lingkungan, dan normalisasi kebohongan bukanlah peristiwa terpisah, melainkan manifestasi kolektif dari hilangnya kesadaran manusia tentang asal-usul, tujuan hidup, dan pertanggungjawaban akhir.
- Konsep Sangkan Paraning Dumadi—kesadaran tentang dari mana manusia berasal, untuk apa ia hidup, dan ke mana ia akan kembali merupakan kerangka etik dan ontologis yang sangat relevan untuk membaca krisis zaman ini.
- Dalam Islam, konsep ini sepenuhnya sejalan dengan ajaran tauhid, amanah, dan hisab.
- Ketika kesadaran ini diabaikan, lahirlah kerusakan struktural yang berujung pada konsekuensi teologis dan sosial, bahkan telsh terjadi bencana di prov. Aceh, SUMUT, dan SUMBAR sebagai akibat perbuatan manusia.
I. Kerangka Ontologis:
1. Mengapa Sangkan Paraning Dumadi Bersifat Fundamental
Sangkan Paraning Dumadi bukan ajaran moral permukaan, melainkan kesadaran ontologis—kesadaran tentang hakikat keberadaan manusia. Ia menjawab tiga pertanyaan paling mendasar dalam hidup:
- Sangkan – Dari mana manusia berasal?
- Paran – Untuk apa manusia hidup?
- Dumadi – Bagaimana manusia menjalani hidup dan mempertanggungjawabkannya?
2. Dalam filsafat Jawa, manusia yang kehilangan tiga kesadaran ini disebut kesasar urip—hidup berjalan, tetapi kehilangan arah makna.
3. Dalam Islam, kondisi ini disebut ghaflah, yaitu kelalaian hati yang menjadi sumber kesesatan akal dan rusaknya perilaku sosial.[1]
II. Pendalaman Makna Setiap Unsur dan Dampaknya Bila Diabaikan
1. Lupa Sangkan: Akar Kesombongan dan Penyalahgunaan Kuasa
Kesadaran sangkan menegaskan bahwa:
- hidup adalah pemberian,
- kekuasaan adalah titipan,
- ilmu adalah amanah.
Ketika sangkan dilupakan, manusia:
- menuhankan dirinya sendiri,
- merasa tidak perlu tunduk pada kebenaran di luar kepentingannya,
- memandang jabatan sebagai legitimasi absolut.
- Dalam perspektif Al-Qur’an, lupa terhadap asal penciptaan adalah pintu kesombongan dan penolakan terhadap kebenaran.[2]
- Secara sosial, lupa sangkan melahirkan pemimpin yang otoriter, elite yang rakus, dan sistem yang menindas tanpa rasa bersalah.
2. Menyimpang dari Paran: Hilangnya Orientasi Hidup dan ?Etika Publik
- Paran menegaskan bahwa hidup memiliki tujuan transenden, bukan sekadar keberhasilan duniawi.
- Ketika paran diselewengkan:
- tujuan hidup direduksi menjadi kekuasaan, kekayaan, dan citra;
- keadilan dikorbankan demi stabilitas;
- penderitaan manusia lain dianggap biaya pembangunan.
Al-Qur’an secara tegas membantah anggapan bahwa manusia hidup tanpa tujuan dan tanpa pertanggungjawaban.[3]
Inilah sebabnya masyarakat modern sering tampak “berhasil”, tetapi rapuh secara moral dan batin.
3. Merusak Dumadi: Ketika Proses Kehidupan Kehilangan Amanah
Dumadi bukan hanya “hidup”, tetapi cara hidup.
Ia menuntut bahwa:
- proses harus benar,
- cara harus bermartabat,
- jalan harus sejalan dengan nilai kebenaran.
Ketika dumadi dirusak:
- kebohongan dilegalkan,
- manipulasi dinormalkan,
- hukum diperalat.
- Dalam Islam, setiap fase kehidupan adalah amanah yang akan dimintai pertanggungjawaban secara rinci.[4]
- Kerusakan proses pasti melahirkan kehancuran hasil, meskipun tertunda.
III. Tanda-Tanda Nyata Ketidakpahaman Sangkan Paraning Dumadi Menurut Peran Sosial
1. Pemimpin dan Penguasa
Tanda-tandanya:
- merasa kebal kritik dan koreksi moral;
- membenarkan ketidakadilan atas nama kepentingan negara;
- memusatkan kekuasaan tanpa akuntabilitas.
- Secara teologis, kepemimpinan yang tercerabut dari amanah adalah sebab turunnya murka Allah dan keruntuhan bangsa.[5]
2. Ulama dan Cendekiawan
Tanda-tandanya:
- diam terhadap kezaliman sistemik;
- membungkus ketidakadilan dengan dalil atau teori;
- takut kehilangan fasilitas lebih besar daripada takut kehilangan kebenaran.
* Ulama klasik menegaskan bahwa ilmu yang tidak mengantarkan kepada Allah justru menjadi hijab paling berbahaya.[6]
3. Aparat dan Penegak Hukum
Tanda-tandanya:
- hukum dijalankan transaksional;
- keadilan kalah oleh prosedur;
- keberanian hanya muncul terhadap yang lemah.
Rasulullah ﷺ memperingatkan bahwa mayoritas penegak hukum yang tidak adil berada dalam kebinasaan.[7]
4. Masyarakat Umum
Tanda-tandanya:
- apatis terhadap ketidakadilan;
- membenarkan kebohongan demi kenyamanan;
- memisahkan moral dari kehidupan sosial.
Al-Qur’an mengingatkan bahwa azab sosial tidak hanya menimpa pelaku kezaliman, tetapi juga mereka yang membiarkannya.[8]
IV. Konsekuensi Teologis: Dari Dunia hingga Akhirat
Mengabaikan sangkan, paran, dan dumadi melahirkan hukum ilahiah yang bekerja bertahap:
- Kematian hati sebelum kematian jasad
- Hilangnya keberkahan hidup meski tampak makmur
- Kerusakan sosial dan ekologis sebagai teguran
- Runtuhnya kepercayaan publik terhadap institusi
- Hisab yang berat dan penyesalan abadi
Imam Al-Ghazali menyebut keadaan ini sebagai kerugian eksistensial terbesar manusia—hidup, tetapi gagal sebagai manusia.[9]
V. Penutup – Peringatan yang Tidak Boleh Diabaikan
Renungan ini adalah peringatan zaman, bukan sekadar refleksi intelektual.
Sangkan Paraning Dumadi adalah bahasa Nusantara untuk kebenaran universal Islam:
- Manusia berasal dari Allah, hidup dalam amanah, dan akan kembali untuk dimintai pertanggungjawaban.
- Jika kesadaran ini terus diabaikan, maka krisis yang datang bukan hanya ekonomi atau politik, melainkan kehancuran makna hidup dan murka Tuhan yang bekerja melalui sejarah.
—
Catatan Kaki.
[1] Al-Ghazali, Ihya’ ‘Ulumuddin, Bab Ghaflah wa at-Tafakkur.
[2] QS. Fathir: 3; tafsir Ibnu Katsir.
[3] QS. Al-Mu’minun: 115; tafsir Al-Qurthubi.
[4] QS. At-Takatsur: 8.
[5] QS. Hud: 113.
[6] Ibnu ‘Athaillah As-Sakandari, Al-Hikam.
[7] Hadis tentang tiga golongan hakim.
[8] QS. Al-Anfal: 25.
[9] Al-Ghazali, Bidayatul Hidayah.
Penulis : Drs. Suripno. Mstr
Editor : Redaksi
Sumber Berita: haikunnews.id







