Kata Pengantar
- Dalam beberapa renungan subuh menapak awal tahun 2026, telah diangkat beberapa isu yang luas hubungan nilai laingit dengan kebijakan publik dan pembangunan sistem hukum di Indonesia untuk memancing para pakar untuk memikirkan masa depan NKRI.
- Kemudian secara substansial keilmuan dengan merenungkan filsafat ilmu dari filosof barat dihadapkan dengan hakekat ilmu yang dibawan ulama klasik terutama Imam Al Gazali, dengan maksud agar dapat dilakukan harmonisasi keilmuan antara barat dan timur barat dan timur.
- Kemudian diperdalam dengan menghubungan filsafat Islam dihadapkan dengan peradaban saintifik spiritual khususnya teori dan fisika kuantum, untuk membutikan keterbatasan ilmu manusia.
- Selanjut berikut ini sudah memasuki keilmuan metafisik sebagai fondasi keilmuan sebagai bekal penghambaan sekaligus wakil Allah di bumi
I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
- Segala bangunan ilmu, teknologi, dan kebijakan pada hakikatnya berdiri di atas satu fondasi yang sering luput disadari, yakni cara manusia memandang realitas.
- Di titik inilah metafisika menempati posisi yang tidak tergantikan.
- Metafisika bukanlah ilmu pinggiran, apalagi sekadar spekulasi abstrak yang terpisah dari kehidupan nyata. Ia adalah *fondasi terdalam dari seluruh sistem pengetahuan, yang menjawab pertanyaan- pertanyaan paling mendasar: apa hakikat yang sungguh-sungguh ada, dari mana asal manusia, untuk apa ilmu dan kekuasaan digunakan, serta ke mana arah akhir perjalanan hidup ini.
- Sejarah peradaban menunjukkan bahwa setiap masyarakat yang besar dan berdaya tahan selalu memiliki kerangka metafisika yang kokoh. Peradaban Yunani membangunnya melalui filsafat, peradaban Islam melalui tauhid dan wahyu, sementara Nusantara mengungkapkan- nya melalui kearifan batin dan simbol-simbol budaya.
- Namun dalam perjalanan modernitas, metafisika kerap dipinggirkan. Ilmu direduksi menjadi yang terukur, teknologi dilepaskan dari nilai, dan manusia dipandang semata sebagai entitas biologis dan ekonomi.
- Akibatnya, lahirlah paradoks zaman modern: kemajuan ilmu dan teknologi berjalan beriringan dengan krisis makna, rapuhnya jiwa, dan kaburnya orientasi hidup.
- Kecerdasan buatan berkembang pesat, namun kebijaksanaan justru tertinggal. Data melimpah, tetapi kebenaran semakin sulit dikenali. Kekuasaan semakin terpusat, sementara tanggung jawab moral semakin menghilang.
- Cara pandang inilah yang menentukan :* apakah ilmu akan menjadi cahaya atau sekadar alat,
* apakah teknologi akan melayani kemanusiaan atau justru menundukkannya, serta
* apakah kekuasaan akan dijalankan sebagai amanah atau berubah menjadi dominasi.
B. Maksud
- Renungan ini disusun dimaksudkan sebagai ikhtiar akademik sekaligus spiritual untuk menempatkan kembali metafisika pada posisinya yang semestinya: bukan sebagai wacana elitis, melainkan sebagai landasan makna, etika, dan ketahanan jiwa.
- Metafisika yang dibahas dalam naskah ini bukan metafisika kering yang berhenti pada abstraksi rasional, melainkan metafisika yang:
* Berakar pada ajaran Islam, dengan tauhid sebagai pusat realitas;
* Berdialog kritis dengan filsafat Barat klasik dan modern;
* Terbuka terhadap temuan fisika kuantum yang menggugurkan reduksionisme materialistik;
* Memberi kerangka etis bagi pemanfaatan kecerdasan buatan (AI);
* Terintegrasi dengan olah rasa dan olah jiwa;
* Selaras dengan kearifan lokal Nusantara, khususnya ajaran kebatinan Jawa;
* Berujung pada tasawuf sebagai jalan penyucian jiwa dan peneguhan akhlak. - Dalam perspektif Islam, metafisika tidak pernah berdiri netral dan bebas nilai. Ia selalu terikat pada pengakuan bahwa Allah adalah al-Ḥaqq, Realitas Mutlak, sementara seluruh ciptaan bersifat nisbi dan bergantung.
- Karena itu, pengetahuan metafisik dalam Islam bukan sekadar upaya memahami realitas, tetapi juga sarana membentuk manusia yang sadar akan amanah kekhalifahannya. Ilmu yang tidak mengantar pada tanggung jawab moral dipandang sebagai hijab, bukan cahaya.
- Tasawuf dalam konteks ini ditempatkan bukan sebagai pelarian dari dunia, melainkan sebagai penghayatan metafisika dalam kehidupan nyata—yakni proses menundukkan ego, menjernihkan rasa, dan mengarahkan seluruh potensi akal, hati, dan teknologi agar tetap berada dalam orbit kehendak Ilahi.
- Sementara itu, kebatinan Jawa dipahami secara kritis dan proporsional sebagai bahasa budaya yang, bila dibaca dengan jernih, mengandung pesan kesadaran asal-usul dan tujuan hidup yang tidak bertentangan dengan tauhid.
- Keseluruhan pembahasan dalam6 Renungan ini akhirnya diarahkan pada konteks zaman yang sering disebut sebagai zaman edan—suatu fase ketika kebenaran sering terbalik, kepantasan dikaburkan, dan keberanian moral menjadi barang langka.
- Dalam situasi seperti ini, manusia tidak cukup hanya mengandalkan kecerdasan intelektual, legalitas formal, atau kecanggihan teknologi. Yang dibutuhkan adalah keteguhan metafisik, kejernihan batin, dan orientasi hidup yang lurus kepada Allah.
C. Tujuan
Dengan demikian, renungan ini diharapkan dapat berfungsi sebagai bekal intelektual- spiritual:
- bagi ilmuwan, agar ilmunya tidak kehilangan arah;
- bagi pengambil kebijakan, agar kekuasaannya tetap berpijak pada amanah;
- bagi ulama dan cendekiawan, agar tidak bungkam di hadapan penyimpangan;
- serta bagi generasi penerus, agar tidak hanyut dalam arus zaman tanpa kompas makna.
- Akhirnya, naskah ini disusun dengan kesadaran penuh akan keterbatasan manusia dan keluasan hikmah Allah. Ia bukan klaim kebenaran final, melainkan undangan untuk berpikir lebih dalam, merasa lebih jernih, dan berjalan lebih lurus. Semoga ikhtiar ini menjadi bagian dari upaya bersama untuk mengembalikan ilmu kepada cahaya, teknologi kepada etika, dan peradaban kepada tujuan hakikinya.
Dilanjut seri-2
Penulis : Suripno si burung Pipit
Editor : Tim Redaksi
Sumber Berita: haikunnews.id







