Kata Pengantar
- Di tengah perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan krisis orientasi moral manusia modern, pembicaraan tentang filsafat kembali menjadi penting. Filsafat bukan sekadar kumpulan teori abstrak, melainkan upaya mendasar manusia untuk memahami hakikat realitas, kebenaran, ilmu, nilai, dan tujuan hidup.
- Dalam tradisi akademik modern, dikenal istilah ilmu filsafat dan filsafat ilmu; sedangkan dalam tradisi peradaban Islam berkembang apa yang lazim disebut filsafat Islam. Ketiganya saling berkaitan, tetapi tidak identik.
- Kerap terjadi kekaburan istilah:
* filsafat dipahami hanya sebagai “cara berpikir bebas”,
* filsafat ilmu disamakan dengan metodologi penelitian, dan
* filsafat Islam dianggap sekadar reproduksi filsafat Yunani dalam bahasa Arab. - Padahal, secara historis maupun substantif, masing-masing memiliki objek, ruang lingkup, orientasi, serta metode yang berbeda. Karena itu, diperlukan penjelasan yang lebih rinci agar pembedaan dan hubungan di antara ketiganya menjadi jelas, terutama bagi pengembangan ilmu, pendidikan, dan pembinaan cara pandang manusia yang utuh.
- Renungan ini menjelaskan secara sistematis pengertian ilmu filsafat, filsafat ilmu, dan filsafat Islam, termasuk ruang lingkup, metode, tokoh, dan relevansinya bagi kehidupan intelektual dan spiritual.
Ringkasan Eksekutif
- Ilmu filsafat adalah disiplin induk yang membahas persoalan- persoalan paling mendasar tentang realitas, pengetahuan, nilai, akal, bahasa, manusia, dan tujuan hidup melalui penalaran rasional, kritis, radikal, dan sistematis. Dari ilmu filsafat lahir banyak cabang, seperti metafisika, epistemologi, logika, etika, estetika, dan filsafat sosial-politik.[1].
- Filsafat ilmu adalah cabang khusus dari filsafat yang mengkaji hakikat ilmu pengetahuan: apa objek ilmu, bagaimana ilmu diperoleh, bagaimana kebenaran ilmiah diuji, apa batas-batas ilmu, dan untuk apa ilmu digunakan. Dengan demikian, filsafat ilmu bukan ilmu empiris, tetapi refleksi kritis atas dasar-dasar ilmu.[2]
- Filsafat Islam adalah tradisi pemikiran filosofis yang tumbuh dalam peradaban Islam melalui dialog antara akal, wahyu, realitas, dan pengalaman spiritual. Ia tidak identik dengan sekadar penerjemahan warisan Yunani, karena di dalamnya terjadi proses seleksi, integrasi, kritik, dan Islamisasi konsep-konsep filsafat sehingga selaras dengan prinsip tauhid.[3].
- Perbedaan mendasar di antara ketiganya terletak pada titik tekan :
* Ilmu filsafat membahas seluruh persoalan dasar kehidupan dan realitas;
* filsafat ilmu secara khusus membahas ilmu pengetahuan;
* sedangkan filsafat Islam merupakan pengembangan filsafat dalam horizon wahyu, akal, dan visi keislaman.. - Namun, ketiganya bertemu dalam satu titik: pencarian kebenaran yang dilakukan secara reflektif, argumentatif, dan bertanggung jawab.[4]
I. ILMU FILSAFAT
1.1. Apa yang Dimaksud dengan Ilmu Filsafat
Secara etimologis, kata filsafat berasal dari bahasa Yunani philosophia, gabungan dari philo (cinta) dan sophia (kebijaksanaan). Maka filsafat pada mulanya dipahami sebagai “cinta kepada kebijaksanaan”. Pengertian ini menunjukkan bahwa filsafat bukan semata-mata pengetahuan teknis, tetapi usaha manusia untuk mencari hikmah terdalam tentang realitas dan kehidupan.[5]
Secara terminologis, ilmu filsafat adalah disiplin yang mempelajari persoalan-persoalan paling mendasar dan universal mengenai keberadaan, pengetahuan, nilai, akal, bahasa, manusia, Tuhan, dan kehidupan, dengan menggunakan penalaran yang radikal, logis, kritis, sistematis, dan menyeluruh. Disebut “radikal” karena filsafat berusaha menelusuri akar persoalan, bukan berhenti pada gejala permukaan. Disebut “sistematis” karena pemikirannya disusun dalam hubungan yang tertib dan koheren. Disebut “universal” karena pertanyaan filsafat menyangkut hal-hal yang bersifat umum dan mendasar.[6].
Dalam sejarah intelektual, ilmu filsafat sering disebut sebagai induk ilmu (mother of sciences), sebab pada masa awal hampir semua cabang ilmu lahir dari refleksi filsafat. Fisika, biologi, politik, psikologi, bahkan logika dan etika, mula-mula berkembang di dalam rahim filsafat sebelum kemudian menjadi disiplin mandiri.[7].
Karena itu, ilmu filsafat tidak identik dengan ilmu pengetahuan empiris. Ilmu empiris mengkaji fakta-fakta tertentu dengan metode observasi dan eksperimen, sedangkan filsafat mengajukan pertanyaan yang lebih mendasar: apa hakikat fakta itu, bagaimana manusia mengetahui, apakah semua pengetahuan dapat dibuktikan secara empiris, dan apa nilai moral penggunaan ilmu tersebut.[8].
Dengan demikian, ilmu filsafat berfungsi sebagai kerangka reflektif yang membantu manusia memahami landasan terdalam dari ilmu, moral, hukum, agama, dan kebudayaan
1.2. Ciri-Ciri Utama Ilmu Filsafat
Ilmu filsafat memiliki beberapa ciri pokok yang membedakannya dari cara berpikir biasa.
- Pertama, filsafat bersifat kritis. Ia tidak menerima sesuatu begitu saja, tetapi mengujinya dengan nalar. Sikap kritis ini bukan berarti menolak semua hal, melainkan memeriksa dasar, alasan, dan konsistensinya.[9]
- Kedua, filsafat bersifat radikal. Kata radikal berasal dari radix yang berarti akar. Filsafat selalu bertanya sampai ke dasar: apa hakikat manusia, apa arti adil, apa dasar kebenaran, mengapa sesuatu ada, dan bukan tidak ada.[10]
- Ketiga, filsafat bersifat sistematis. Pemikiran filosofis tidak acak, tetapi tersusun dalam jalinan konsep yang saling terkait. Karena itu, argumen filsafat menuntut ketertiban berpikir.[11]
- Keempat, filsafat bersifat rasional. Artinya, penjelasan filsafat bertumpu pada alasan-alasan yang dapat dipertanggung- jawabkan, bukan sekadar dugaan, emosi, atau tradisi tanpa dasar.[12]
- Kelima, filsafat bersifat reflektif dan kontemplatif. Ia mendorong manusia tidak hanya mengetahui sesuatu, tetapi juga merenungkannya secara mendalam.[13]
Ciri-ciri ini membuat filsafat menjadi instrumen penting untuk membentuk cara berpikir dewasa, hati-hati, dan tidak mudah terjebak pada fanatisme dangkal.
1.3. Ruang Lingkup Ilmu Filsafat
Ruang lingkup ilmu filsafat sangat luas karena mencakup pertanyaan-pertanyaan dasar tentang seluruh kenyataan. Secara klasik, ruang lingkup itu dapat dijelaskan melalui cabang-cabang utamanya.
1.3.1 Metafisika
Metafisika membahas hakikat keberadaan. Ia bertanya: apa itu ada, apa sebab pertama, apa hakikat alam semesta, apakah Tuhan ada, bagaimana hubungan jiwa dan raga, dan apa struktur terdalam realitas.[14]
1.3.2 Epistemologi
Epistemologi membahas pengetahuan. Pertanyaan pokoknya: apa itu pengetahuan, dari mana pengetahuan diperoleh, apa sumbernya, bagaimana membedakan pengetahuan yang benar dari yang salah, dan apa batas kemampuan akal manusia.[15]
1.3.3 Logika
Logika membahas kaidah penalaran yang benar. Ia mengajarkan bagaimana menyusun argumentasi yang valid, menghindari sesat pikir, serta membedakan kesimpulan yang sah dan yang tidak sah.[16]
1.3.4 Etika
Etika membahas baik dan buruk, kewajiban moral, keutamaan, keadilan, tanggung jawab, dan tujuan .tindakan manusia. Etika tidak hanya menanyakan “apa yang terjadi”, tetapi “apa yang seharusnya dilakukan”.[17]
1.3.5 Estetika
Estetika membahas keindahan, seni, rasa, pengalaman artistik, dan ukuran-ukuran keindahan.[18]
1.3.6 Aksiologi
Aksiologi sering dipahami sebagai cabang yang membahas nilai, mencakup etika dan estetika, serta pertanyaan mengenai manfaat, tujuan, dan orientasi nilai dalam kehidupan manusia.[19]
1.3.7 Filsafat Khusus
Selain cabang umum, berkembang pula filsafat-filsafat khusus seperti filsafat ilmu, filsafat hukum, filsafat politik, filsafat pendidikan, filsafat agama, filsafat bahasa, dan filsafat sejarah.[20]
Dari sini tampak bahwa ilmu filsafat merupakan medan refleksi yang sangat luas, bahkan dapat menyentuh hampir seluruh aspek kehidupan manusia.
II. FILSAFAT ILMU
2.1. Apa yang Dimaksud dengan Filsafat Ilmu
Filsafat ilmu adalah cabang filsafat yang secara khusus merefleksikan hakikat ilmu pengetahuan. Ia tidak melakukan eksperimen laboratorium, tidak pula mengumpulkan data lapangan sebagai tujuan utama, tetapi menelaah dasar-dasar konseptual, metodologis, dan nilai dari ilmu.[21].
Secara sederhana, jika ilmu pengetahuan bertanya “bagaimana fenomena bekerja?”, maka filsafat ilmu bertanya “apa itu ilmu, bagaimana ia dibangun, mengapa metode tertentu dianggap sah, sejauh mana kebenarannya, dan untuk apa ilmu digunakan?”.[22].
Karena itu, filsafat ilmu dapat disebut sebagai refleksi filosofis atas aktivitas ilmiah. Ia menelaah: hakikat objek ilmu, prosedur memperoleh pengetahuan ilmiah, validitas teori, struktur penjelasan ilmiah, perkembangan paradigma ilmu, hubungan ilmu dengan nilai dan masyarakat.[23]
Dalam tradisi modern, filsafat ilmu berkembang pesat ketika ilmu pengetahuan menjadi sangat spesialis. Spesialisasi yang tinggi justru membuat manusia memerlukan refleksi mendasar: apakah ilmu selalu netral? apakah semua yang dapat dilakukan secara teknis boleh dilakukan secara moral? apakah kebenaran ilmiah bersifat final? apa hubungan ilmu dengan kekuasaan?[24]
Filsafat ilmu lahir untuk menjawab persoalan-persoalan tersebut.
2.2. Ruang Lingkup Filsafat Ilmu
Secara umum, ruang lingkup filsafat ilmu sering dijelaskan melalui tiga dimensi besar: ontologi, epistemologi, dan aksiologi ilmu.
2.2.1 Ontologi Ilmu
Ontologi ilmu membahas apa yang menjadi objek ilmu. Setiap ilmu memiliki objek material dan objek formal. Fisika mengkaji gejala alam-benda, biologi mengkaji makhluk hidup, sosiologi mengkaji masyarakat. Filsafat ilmu bertanya lebih jauh: apakah realitas yang diteliti itu sungguh independen dari pengamat? apakah hanya yang empiris yang dapat disebut objek ilmu? bagaimana kedudukan entitas teoritis yang tidak tampak langsung?[25].
2.2.2 Epistemologi Ilmu
Epistemologi ilmu membahas cara ilmu memperoleh pengetahuan yang sah. Di sini dibicarakan observasi, eksperimen, hipotesis, verifikasi, falsifikasi, induksi, deduksi, model, teori, dan paradigma.[26]
Karl Popper, misalnya, menolak anggapan bahwa teori ilmiah dibuktikan secara final; baginya, teori ilmiah harus terbuka untuk dibantah (falsifiable).[27] Thomas Kuhn menunjukkan bahwa perkembangan ilmu tidak selalu linier, tetapi berlangsung melalui pergantian paradigma.[28].
2.2.3 Aksiologi Ilmu
Aksiologi ilmu membahas untuk apa ilmu digunakan dan nilai apa yang menyertainya. Pertanyaan ini sangat penting karena ilmu dapat dipakai untuk kemaslahatan ataupun kerusakan. Teknologi nuklir, kecerdasan buatan, rekayasa genetika, dan media digital memperlihatkan bahwa ilmu tidak cukup dipahami dari sisi teknis, tetapi juga dari sisi moral, sosial, dan kemanusiaan.[29]
Dengan demikian, filsafat ilmu menjaga agar ilmu tidak kehilangan arah etik dan tidak berubah menjadi alat dominasi yang buta nilai.
III. Hubungan dan Perbedaan antara Ilmu Filsafat dan Filsafat Ilmu
Ilmu filsafat dan filsafat ilmu berhubungan sangat erat, tetapi berbeda tingkat dan fokusnya. Ilmu filsafat adalah bidang induk yang membahas seluruh persoalan mendasar tentang realitas, pengetahuan, dan nilai. Filsafat ilmu adalah salah satu cabangnya yang secara khusus membahas ilmu pengetahuan.[30]
Dengan kata lain, semua filsafat ilmu termasuk bagian dari filsafat, tetapi tidak semua filsafat adalah filsafat ilmu. Metafisika, etika, estetika, dan filsafat politik tetap bagian dari ilmu filsafat, walaupun bukan filsafat ilmu.[31]
Perbedaannya dapat dijelaskan begini: ketika seseorang bertanya “apa hakikat kebenaran?”, itu termasuk wilayah filsafat umum; tetapi ketika ia bertanya “apa yang membuat suatu teori ilmiah dianggap benar?”, itu masuk wilayah filsafat ilmu. Ketika seseorang bertanya “apa tujuan hidup manusia?”, itu filsafat umum; tetapi ketika ia bertanya “apakah sains netral secara nilai?”, itu filsafat ilmu.[32]
Jadi, filsafat ilmu lebih sempit secara objek, tetapi sangat penting dalam dunia akademik modern karena ia menilai fondasi ilmu yang dipakai dalam pendidikan, penelitian, kebijakan, dan teknologi.
IV. Filsafat Islam
4.1. Apa yang Dimaksud dengan Filsafat Islam
Filsafat Islam adalah tradisi pemikiran filosofis yang tumbuh dan berkembang dalam peradaban Islam dengan memanfaatkan akal secara mendalam, tetapi tetap berada dalam horizon wahyu, tauhid, dan pandangan hidup Islam.[33].
Istilah ini sering dipahami secara sempit sebagai karya para filosof Muslim yang terpengaruh Yunani, seperti Al-Kindi, Al-Farabi, Ibn Sina, dan Ibn Rushd. Pemahaman ini ada benarnya secara historis, tetapi tidak cukup. Filsafat Islam tidak berhenti pada penerimaan gagasan Yunani, sebab dalam kenyataannya para pemikir Muslim melakukan seleksi, sintesis, koreksi, bahkan kritik mendasar terhadap warisan tersebut.[34].
Filsafat Islam bertolak dari keyakinan bahwa akal adalah anugerah Allah, dan wahyu adalah petunjuk tertinggi. Akal tidak dimatikan, tetapi juga tidak didewakan. Karena itu, filsafat Islam berusaha mempertemukan antara: akal dan wahyu, dunia fisik dan metafisik, ilmu dan hikmah, etika dan metafisika, manusia dan tujuan transendennya.[35].
Dalam tradisi Islam, filsafat juga beririsan dengan kalam, tasawuf, ushul fiqh, dan hikmah. Karena itu, lanskap filsafat Islam lebih luas daripada sekadar “falsafah” dalam arti peripatetik.[36]
4.2. Ruang Lingkup Filsafat Islam
Ruang lingkup filsafat Islam mencakup berbagai persoalan mendasar, namun semuanya dibaca dalam kerangka tauhid.
4.2.1 Ilahiyyat
Ilahiyyat membahas Tuhan:/ keberadaan-Nya, sifat-sifat-Nya, hubungan-Nya dengan alam, dan posisi-Nya sebagai sebab pertama sekaligus tujuan akhir.[37]
4.2.2 Kosmologi
Kosmologi Islam membahas alam semesta sebagai ciptaan yang teratur, bermakna, dan menunjuk kepada Sang Pencipta. Alam tidak dipahami sebagai realitas mandiri yang lepas dari Tuhan.[38]
4.2.3 Filsafat Jiwa
Pembahasan ini mencakup hakikat jiwa, hubungan jiwa-raga, akal, nafs, ruh, kebahagiaan, dan kesempurnaan manusia.[39]
4.2.4 Etika dan Politik
Filsafat Islam membahas akhlak, kebajikan, keadilan, kebahagiaan, masyarakat utama, kepemimpinan, dan tujuan negara. Dalam hal ini tampak pengaruh dan transformasi dari warisan Yunani, khususnya pada Al-Farabi dan Ibn Rushd, tetapi selalu dalam penyesuaian dengan pandangan Islam.[40]
4.2.5 Epistemologi
Filsafat Islam juga membahas sumber ilmu. Berbeda dari tradisi rasionalisme murni, epistemologi Islam mengakui akal, indera, khabar yang benar, dan bagi sebagian tradisi, intuisi atau kasyf yang sah sebagai sumber pengetahuan dalam hirarki tertentu.[41]
4.2.6 Hikmah dan Penyucian Diri
Dalam sebagian perkembangan, terutama pada Al-Ghazali dan Mulla Sadra, filsafat tidak dipisahkan secara keras dari penyucian jiwa. Pengetahuan sejati menuntut kejernihan hati selain ketajaman akal.[42]
Ini menunjukkan bahwa filsafat Islam memiliki wajah yang lebih integral: intelektual sekaligus spiritual.
4.3. Ciri Khas Filsafat Islam
Yang membuat filsafat Islam khas bukan sekadar karena ditulis oleh orang Islam atau dalam bahasa Arab, tetapi karena beberapa ciri pokok.
- Pertama, ia berlandaskan tauhid. Realitas dipahami sebagai ciptaan yang bersumber dari Allah dan kembali kepada-Nya.[43].
- Kedua, ia mengakui keabsahan akal, tetapi menempatkannya dalam relasi dengan wahyu. Akal dihormati sebagai alat memahami, bukan sebagai otoritas absolut yang berdiri sendiri tanpa batas.[44].
- Ketiga, ia memandang ilmu sebagai jalan menuju hikmah dan bukan hanya penguasaan teknis.[45].
- Keempat, filsafat Islam cenderung lebih terbuka pada dimensi etis dan spiritual. Pengetahuan tidak dipisahkan sepenuhnya dari pembentukan jiwa.[46].
- Kelima, ia berupaya mengintegrasikan berbagai sumber pengetahuan: nalar, pengalaman, tradisi keilmuan, dan petunjuk ilahi.[47].
- Dengan demikian, filsafat Islam tidak identik dengan filsafat Barat klasik maupun modern, walaupun dapat berdialog dengannya.
V. Hubungan antara Ilmu Filsafat, Filsafat Ilmu, dan Filsafat Islam
Ketiga istilah ini sebaiknya dipahami dalam hubungan bertingkat, bukan dipertentangkan secara kaku. Ilmu filsafat adalah medan umum refleksi rasional mengenai realitas, pengetahuan, dan nilai. Filsafat ilmu adalah cabang dari ilmu filsafat yang memusatkan perhatian pada ilmu pengetahuan. Sedangkan filsafat Islam adalah pengembangan kegiatan berfilsafat dalam cakrawala pandangan hidup Islam.[48].
Karena itu:
ilmu filsafat memberi kerangka besar berpikir, filsafat ilmu memberi refleksi kritis terhadap ilmu pengetahuan,filsafat Islam memberi orientasi tauhid, etika, dan integrasi wahyu-akal terhadap kegiatan berpikir filosofis.[49].
Dalam praktiknya, seorang pemikir Muslim bisa sekaligus bergerak dalam tiga ranah ini. Ia dapat berfilsafat secara umum, membahas ilmu pengetahuan secara filosofis, dan tetap menafsirkan semuanya dari horizon Islam. Al-Ghazali adalah contoh penting: ia menguasai logika dan filsafat, mengkritik sebagian tesis metafisika filosof, membahas epistemologi, dan mengintegrasikan pencarian ilmu dengan tazkiyatun nafs.[50]
VI. Relevansi bagi Dunia Akademik dan Kehidupan Kontemporer
Di zaman modern, manusia menghadapi banjir data, percepatan teknologi, spesialisasi ilmu, dan krisis makna. Dalam konteks ini, ketiga bidang tadi sangat relevan. Ilmu filsafat penting agar manusia tidak hanya pintar, tetapi juga bijak; tidak hanya tahu cara, tetapi juga mengerti tujuan.[51].
Filsafat ilmu penting agar ilmu pengetahuan tidak diperlakukan seperti agama baru yang tak boleh dikritik. Ia membantu kita menyadari kekuatan dan keterbatasan sains, serta menguji implikasi etik dan sosial dari teknologi.[52].
Filsafat Islam penting agar umat Islam tidak terjebak pada dikotomi palsu antara akal dan wahyu, antara ilmu modern dan agama. Tradisi filsafat Islam menunjukkan bahwa berpikir mendalam, kritis, dan rasional dapat berjalan bersama dengan iman, akhlak, dan orientasi transenden.[53].
Dalam pendidikan, ketiganya dapat membentuk manusia yang: cakap berpikir, jernih dalam menilai, sadar batas ilmu, bertanggung jawab secara moral, dan tidak kehilangan orientasi ketuhanan.[54]
VII. Penutup
Ilmu filsafat, filsafat ilmu, dan filsafat Islam adalah tiga bidang yang saling terkait tetapi mempunyai fokus masing-masing. Ilmu filsafat merupakan payung besar yang membahas hakikat realitas, pengetahuan, dan nilai. Filsafat ilmu adalah cabang khusus yang merefleksikan dasar, metode, validitas, dan tujuan ilmu pengetahuan. Adapun filsafat Islam adalah tradisi filsafat yang tumbuh dalam peradaban Islam dengan menjadikan akal sebagai alat penting, namun tetap dibimbing oleh tauhid dan wahyu.
Memahami ketiganya secara tepat sangat penting, terutama pada masa ketika ilmu berkembang sangat cepat tetapi manusia kerap kehilangan arah moral dan spiritual. Tanpa filsafat, ilmu dapat menjadi dangkal. Tanpa filsafat ilmu, sains dapat menjadi arogan. Tanpa filsafat Islam, umat beriman dapat terjebak pada pemisahan yang keliru antara intelektualitas dan ketundukan kepada Allah.
Karena itu, penguatan kajian filsafat, filsafat ilmu, dan filsafat Islam layak dipandang sebagai kebutuhan strategis dalam pembinaan intelektual, etika, dan peradaban.
Catatan Kaki
[1] K. Bertens, Ringkasan Sejarah Filsafat (Yogyakarta: Kanisius, 1998), 11–16.
[2] Jujun S. Suriasumantri, Filsafat Ilmu: Sebuah Pengantar Populer (Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 2007), 33–40.
[3] Majid Fakhry, A History of Islamic Philosophy, 3rd ed. (New York: Columbia University Press, 2004), xxi–xxv.
[4] Oliver Leaman, An Introduction to Classical Islamic Philosophy (Cambridge: Cambridge University Press, 2001), 1–8.
[5] K. Bertens, Pengantar Filsafat (Yogyakarta: Kanisius, 1991), 3–5.
[6] The Liang Gie, Pengantar Filsafat Ilmu (Yogyakarta: Liberty, 2004), 7–12.
[7] Frederick Copleston, A History of Philosophy, Vol. 1: Greece and Rome (New York: Doubleday, 1993), 13–20.
[8] Jujun S. Suriasumantri, Filsafat Ilmu, 17–24.
[9] Louis O. Kattsoff, Pengantar Filsafat, terj. Soejono Soemargono (Yogyakarta: Tiara Wacana, 2004), 8–12.
[10] K. Bertens, Pengantar Filsafat, 17–20.
[11] The Liang Gie, Pengantar Filsafat Ilmu, 14–16.
[12] Harold H. Titus, Marilyn S. Smith, dan Richard T. Nolan, Persoalan-Persoalan Filsafat, terj. H. M. Rasjidi (Jakarta: Bulan Bintang, 1984), 5–9.
[13] Louis O. Kattsoff, Pengantar Filsafat, 15–18.
[14] Frederick Copleston, A History of Philosophy, Vol. 1, 285–320.
[15] Robert Audi, ed., The Cambridge Dictionary of Philosophy, 2nd ed. (Cambridge: Cambridge University Press, 1999), entri “Epistemology.”
[16] Irving M. Copi and Carl Cohen, Introduction to Logic, 14th ed. (Boston: Pearson, 2011), 3–9.
[17] William K. Frankena, Ethics (Englewood Cliffs: Prentice-Hall, 1973), 1–7.
[18] Monroe C. Beardsley, Aesthetics: Problems in the Philosophy of Criticism (Indianapolis: Hackett, 1981), 1–10.
[19] Jujun S. Suriasumantri, Filsafat Ilmu, 50–56.
[20] Harold H. Titus et al., Persoalan-Persoalan Filsafat, 10–18.
[21] Peter Godfrey-Smith, Theory and Reality: An Introduction to the Philosophy of Science (Chicago: University of Chicago Press, 2003), 1–7.
[22] A. F. Chalmers, What Is This Thing Called Science? 4th ed. (Indianapolis: Hackett, 2013), xix–xxv.
[23] Jujun S. Suriasumantri, Filsafat Ilmu, 33–67.
[24] Thomas S. Kuhn, The Structure of Scientific Revolutions, 4th ed. (Chicago: University of Chicago Press, 2012), 1–12.
[25] The Liang Gie, Pengantar Filsafat Ilmu, 85–97.
[26] A. F. Chalmers, What Is This Thing Called Science?, 1–25.
[27] Karl Popper, The Logic of Scientific Discovery (London: Routledge, 2002), 18–27.
[28] Thomas S. Kuhn, The Structure of Scientific Revolutions, 52–65.
[29] Jujun S. Suriasumantri, Filsafat Ilmu, 68–79.
[30] The Liang Gie, Pengantar Filsafat Ilmu, 1–6.
[31] K. Bertens, Pengantar Filsafat, 21–25.
[32] Peter Godfrey-Smith, Theory and Reality, 1–10.
[33] Majid Fakhry, A History of Islamic Philosophy, 1–10.
[34] Oliver Leaman, An Introduction to Classical Islamic Philosophy, 9–20.
[35] Seyyed Hossein Nasr, Islamic Philosophy from Its Origin to the Present (Albany: SUNY Press, 2006), 15–24.
[36] M. M. Sharif, ed., A History of Muslim Philosophy, Vol. 1 (Wiesbaden: Otto Harrassowitz, 1963), 7–19.
[37] Al-Farabi, Ara’ Ahl al-Madinah al-Fadilah, terj. Richard Walzer (Oxford: Clarendon Press, 1985), 31–45.
[38] Seyyed Hossein Nasr, An Introduction to Islamic Cosmological Doctrines (Albany: SUNY Press, 1993), 1–12.
[39] Ibn Sina, Kitab al-Nafs dalam al-Shifa’, sebagaimana dibahas dalam Majid Fakhry, A History of Islamic Philosophy, 149–170.
[40] Majid Fakhry, A History of Islamic Philosophy, 107–120, 277–290.
[41] Harun Nasution, Falsafah dan Mistisisme dalam Islam (Jakarta: Bulan Bintang, 1995), 19–31.
[42] Abu Hamid al-Ghazali, al-Munqidz min al-Dalal, terj. R. J. McCarthy (Louisville: Fons Vitae, 2000), 54–72.
[43] Seyyed Hossein Nasr, Islamic Philosophy from Its Origin to the Present, 21–28.
[44] Oliver Leaman, An Introduction to Classical Islamic Philosophy, 96–110.
[45] M. M. Sharif, A History of Muslim Philosophy, Vol. 1, 55–61.
[46] Abu Hamid al-Ghazali, Ihya’ ‘Ulum al-Din (Beirut: Dar al-Ma‘rifah, tt.), Juz I, 11–20.
[47] Harun Nasution, Falsafah dan Mistisisme dalam Islam, 35–42.
[48] Majid Fakhry, A History of Islamic Philosophy, xxi–xxv.
[49] Seyyed Hossein Nasr, Islamic Philosophy from Its Origin to the Present, 29–38.
[50] Abu Hamid al-Ghazali, al-Munqidz min al-Dalal, 54–72.
[51] K. Bertens, Pengantar Filsafat, 1–3.
[52] Jujun S. Suriasumantri, Filsafat Ilmu, 68–79.
[53] Seyyed Hossein Nasr, Islamic Philosophy from Its Origin to the Present, 303–315.
[54] M. Amin Abdullah, Islam sebagai Ilmu: Epistemologi, Metodologi, dan Etika (Bandung: Mizan, 2006), 45–60.
Dilanjutkan Seri – 2
Penulis : Si Burung Pipit
Editor : Tim Redaksi
Sumber Berita: haikunnews.id






