Jiwa Bertahta dalam Raga: Dimensi Ruhani Manusia Menurut Syekh Abdul Qadir Al-Jailani, Dalil Syariat dan Relevansi Zaman Kini

Renungan Menjelan Subuh 15 November 2025

admin

- Redaksi

Sabtu, 15 November 2025 - 13:14 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Jiwa Bertahta dalam Raga: Dimensi Ruhani Manusia menurut Syekh Abdul Qadir al-Jailani, Dalil Syariat, dan Relevansi Zaman Kini. FOTO : IST

Jiwa Bertahta dalam Raga: Dimensi Ruhani Manusia menurut Syekh Abdul Qadir al-Jailani, Dalil Syariat, dan Relevansi Zaman Kini. FOTO : IST

Pengantar

  1. Dalam beberapa hari ini renungan kita menitik veratakan pada upaya mempersiapkan diri kita untuk mengarungi zaman edan, pagi ini kita belajar mengenal diri kita.
  2. Pengenalan sepuntas diri kita, kita sadar bahwa mita terdiri atas unsur ruhani dan unsur jasmani, sehingga hanya dikatakan manusia bila masih terdiri atas unsur ruhani dan unsur jasmani yang menyatu.
  3. Untuk mengenal lebih dalam diri kita kita pilih judul tersebut untuk kita renungkab sebagai upaya mengkaji diri.

I. Makna “Jiwa Bertahta dalam Raga” dalam Sirr al-Asrār

A. Makna Umum

Dalam Sirr al-Asrār, Syekh Abdul Qadir al-Jailani menjelaskan bahwa manusia memiliki dua sisi eksistensi:

1. Raga (jasad) yang bersifat tanah, fana, tunduk pada hukum fisik.

2. Jiwa/ruh yang berasal dari alam malakut, suci, dan menjadi pusat kesadaran serta kedekatan dengan Allah.
3. “Jiwa bertahta dalam raga” berarti:

* Ruh adalah raja yang memerintah, sementara tubuh adalah kerajaan yang harus tunduk.

* Bila ruh yang memimpin, manusia menuju hidayah;
* sebaliknya bila tubuh yang menguasai, hawa nafsu, manusia jatuh hamba hawa nafsu.

4. Jasad adalah mkendaraan; ruh adalah pengemudinya.
5. Syekh Abdul Qadir menegaskan bahwa ruh memiliki maqām tertinggi, dan tugas manusia adalah mendisiplinkan jasad agar kembali tunduk pada cahaya ruh.

B. Dalil Al-Qur’an dan Tafsir

1. Ruh sebagai unsur ilahi

QS Al-Hijr 15:29 : “Aku tiupkan ke dalamnya ruh-Ku.”
Tafsir Ibn Katsir: ruh manusia berasal “min jihati al-tasyrif”—mendapat kehormatan dari Allah, bukan berarti bagian dari zat Allah, tetapi dimuliakan.

Ini menunjukkan ruh sebagai pemimpin internal dalam diri manusia.

2. Ruh lebih tinggi daripada jasad

QS As-Sajdah 32:9 : “Kemudian Dia menyempurnakannya dan meniupkan ruh-Nya kepadanya.”
Tafsir Ath-Thabari: ruh adalah sumber kesadaran, akal, dan kemampuan membedakan hak dan batil.

Jasad hanyalah bentuk kosong sebelum ruh masuk.

3. Pertarungan ruh–nafsu

QS Yusuf 12:53 : “Sesungguhnya nafsu selalu menyuruh kepada kejahatan.”

Tafsir Al-Qurtubi: nafsu ammarah adalah musuh internal ruh, yang menarik manusia ke dunia.

Sedangkan ruh menarik ke langit.

4. Keutamaan mensucikan ruh

QS Asy-Syams 91:9–10 : “Sungguh beruntung orang yang mensucikan jiwanya; sungguh rugi orang yang mengotorinya.”

Tafsir Al-Baghawi: yang beruntung adalah yang membiarkan ruh memimpin dan menundukkan hawa nafsu.

5. Hati sebagai tahta ruh

QS Al-Hajj 22:46 : “Sesungguhnya bukan mata itu yang buta, tetapi hati yang di dalam dada.”

Tafsir Al-Jalalain: hati (qalb) adalah singgasana ruh, tempat turunnya cahaya Allah.

C. Hadis

1. Hadis tentang hati sebagai raja Nabi ﷺ bersabda:
“Dalam tubuh ada segumpal daging. Jika ia baik, baiklah seluruh tubuh. Jika ia rusak, rusaklah seluruh tubuh. Itulah hati.” (HR. Bukhari Muslim)

→ Hati = pusat ruhani → tahta ruh.

2. Hadis tentang kejernihan ruh “Sesungguhnya Allah tidak melihat rupa kalian, tetapi hati dan amal kalian.” (HR. Muslim)

3. Hadis tentang ruh sebagai cahaya “Ruh-ruh itu ibarat pasukan yang berkumpul; yang saling mengenal cenderung bersatu.” (HR. Bukhari)

Semua menunjukkan bahwa ruh adalah pengendali, raga adalah sarana.

II. Pendapat Imam Al-Ghazali

Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumiddin menjelaskan bahwa manusia terdiri dari empat elemen:

* Jasad (materi)

* Nafs (keinginan bawah)

* Aql (fungsi ruhani)

* Ruh (fitrah ilahi)

Menurut beliau:

1. Ruh adalah pemimpin
,
Ruh adalah inti manusia, pengawal dari dunia malakut.

Jasad adalah alat, seperti kuda bagi penunggangnya.

Jika penunggang kuat → kuda patuh.
Jika penunggang lemah ?→ kuda liar dan menjerumuskan.

2. Hati sebagai istana ruh

Dalam Misykat al-Anwar, ia menyebut qalbu sebagai tempat pantulan cahaya Allah, sehingga ruh dapat “bertahta”.

3. Tazkiyah sebagai syarat ruh memimpin

Al-Ghazali menegaskan ruh hanya bisa bertahta bila:

* Nafsu dimatikan dari syahwat

* Hati dibersihkan dari riya, hasad, sum‘ah

* Zikir dan tafakur menjadi makanan ruhani

* Syariat menjadi pagar

* Makrifat menjadi tujuan

4. Ruh memiliki derajat perjalanan (suluk)

a. Nafs Ammarah
b. Nafs Lawwamah
c. Nafs Mulhamah
d. Nafs Muthmainnah
e. Nafs Radhiyah
f. Nafs Mardhiyyah
g. Nafs Kamilah

“Jiwa bertahta dalam raga” tercapai saat seseorang mencapai mutmainnah ke atas.

III. Relevansi Konsep Ini dengan Zaman Sekarang

1. Zaman materialisme

Dunia modern mengagungkan tubuh, harta, kekuasaan, dan sensualitas. Jasad menjadi “raja”, ruh menjadi “tawanan”.

Tanda-tanda:

* Hidup dikuasai ambisi materi

* Kecemasan, depresi meningkat

* Hilangnya makna hidup
* Agama diperlakukan sebagai budaya, bukan kesadaran ruhani
* Korupsi, kezaliman, arogansi jabatan
* Neo-otoritarianisme moral dan politik

Konsep “ruh bertahta dalam raga” menjadi obat krisis eksistensial.

2. Untuk ulama, cendekiawan, dan pemimpin

* Jiwa harus menjadi pemimpin, bukan ambisi, kepentingan kelompok, atau hawa nafsu kekuasaan.

* Pengetahuan harus dipimpin oleh kebijaksanaan ruhani, bukan politik transaksional.

* Keteguhan moral lahir dari hati yang dipenuhi cahaya ruhani.

3. Untuk rakyat dan generasi muda

* Mereka butuh pendidikan ruhani, bukan hanya teknis.

* Pengendalian diri, adab digital, dan etika sosial lahir bila ruh memimpin.

* Kebiasaan tafakur, zikir, dan mensucikan jiwa adalah investasi masa depan.

4. Untuk kehidupan berbangsa

* Bangsa akan rusak bila nafsu kolektif menguasai sistem, hukum, ekonomi, dan politik.
* Ruhani bangsa (nilai kejujuran, amanah, ?keadilan) harus bertahta agar: hukum adil, pemimpin amanah, birokrasi jujur , rakyat terjaga dari kezaliman

Seperti prinsip ulama besar:
“Siapa yang menguasai ruhnya, dia menguasai5 dunia; siapa dikuasai nafsunya, dia diperbudak dunia.”

IV. PENUTUP

1. inti dari ajaran Syekh Abdul Qadir, Al-Ghazali, dan dalil syariat adalah: manusia hanya sampai pada kemuliaan ketika ruhnya menjadi raja dan jasad tunduk sebagai hamba.

2. Pada zaman penuh kegaduhan, fitnah, ketidakadilan, dan kemabukan dunia, membiarkan nafsu memimpin adalah awal kehancuran.?

* Menduakan ruh → menistakan amanah Allah.
* Mengangkat ruh sebagai pemimpin → menyalakan cahaya hidup

Penulis : Drs. Suripno. Mstr (Dosen Institut Transportasi dan Logistik di Trisakti)

Editor : Redaksi

Sumber Berita: haikunnews.id

Berita Terkait

Rantai Kerusakan Sosial: Ulama–Cendekiawan, Pemimpin dan Rakyat
Pesan Profetik: Seruan Langit Untuk Bumi
Guru Sejati dalam Falsafah Jawa dan Padanannya dalam Ajaran Islam Untuk Memahami Falsafah Sangkan Paraning Dumadi sebagai Penuntun dalam Mengarungi Zaman Edan (Seri-2)
Filsafat Ilmu : Ontologi, Epistemologi dan Aksiologi Sebagai Fondasi Berpikir dan Bertindak Cendekiawan Berbasis Nilai Langit
Kecerdasan Buatan di Persimpangan Nur dan Zulmat: Antara Bisikan Syaitan dan Ilham Malaikat
Arah Peradaban Hukum Berbasis Kebenaran Allah dan Keadilan Allah (Seri-4)
Mengenang Sufi Agung Wanita Rabi’ah Al Adawiyyah dan Ajarannya (Seri – 6)
Atas Banjir Bandang Sumatera: Peringatan Allah atas Pengkhianatan Amanah dan Kerusakan Tata Kelola
Berita ini 16 kali dibaca
Dilarang Mengambil dan/atau Menayangkan Ulang Sebagian Atau Keseluruhan Artikel di atas untuk Konten Akun Media Sosial Komersil Tanpa Seizin Redaksi HaikunNews.Id.

Berita Terkait

Selasa, 3 Februari 2026 - 10:30 WIB

Rantai Kerusakan Sosial: Ulama–Cendekiawan, Pemimpin dan Rakyat

Jumat, 16 Januari 2026 - 14:34 WIB

Pesan Profetik: Seruan Langit Untuk Bumi

Kamis, 15 Januari 2026 - 19:41 WIB

Guru Sejati dalam Falsafah Jawa dan Padanannya dalam Ajaran Islam Untuk Memahami Falsafah Sangkan Paraning Dumadi sebagai Penuntun dalam Mengarungi Zaman Edan (Seri-2)

Selasa, 6 Januari 2026 - 18:57 WIB

Filsafat Ilmu : Ontologi, Epistemologi dan Aksiologi Sebagai Fondasi Berpikir dan Bertindak Cendekiawan Berbasis Nilai Langit

Kamis, 1 Januari 2026 - 19:02 WIB

Kecerdasan Buatan di Persimpangan Nur dan Zulmat: Antara Bisikan Syaitan dan Ilham Malaikat

Berita Terbaru

Iran

Internasional

Iran “Batu Sandungan” Berat Bagi Dinasti Rothschild

Minggu, 8 Mar 2026 - 19:32 WIB

Pemimpin Adil dan Beriman vs Pemimpin Zalim dan Tidak Beriman. FOTO : Ilustrasi

Tarbiyah

Pemimpin Adil dan Beriman vs Pemimpin Zalim dan Tidak Beriman

Selasa, 17 Feb 2026 - 19:18 WIB