Berita Berseri: Bencana Zaman Para Nabi dan Pesan Untuk Dunia Modern (Part 11-15)

admin

- Redaksi

Selasa, 16 Desember 2025 - 12:18 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Berita Berseri: Bencana Zaman Para Nabi dan Pesan Untuk Dunia Modern. FOTO : HAIKUNNEWS

Berita Berseri: Bencana Zaman Para Nabi dan Pesan Untuk Dunia Modern. FOTO : HAIKUNNEWS

PART 11 — Indonesia di Atas “Meja Getar” Dunia: Negeri dengan 295 Sesar Aktif dan 127 Gunung Api Hidup

HaikunNews.id — Tidak ada negara di dunia yang berdiri di atas fondasi geologi sekompleks Indonesia. Dengan :

  • 295 sesar aktif,
  • 127 gunung api hidup,
  • tiga lempeng besar (Indo-Australia, Eurasia, Pasifik),
  • dua busur vulkanik,
  • dan lima zona megathrust raksasa,

Indonesia pada dasarnya adalah negara yang berdiri di atas meja getar raksasa.

Para ahli menyebut: “Indonesia bukan bertanya apakah akan terjadi bencana, tetapi kapan.”

Namun yang mengejutkan bukan hanya potensi alamnya, tetapi bagaimana kerusakan moral, politik, dan lingkungan membuat ancaman itu semakin mematikan.

Mirip seperti kaum terdahulu :

  • ketika pemimpin zalim,
  • hukum diperjualbelikan,
  • rakyat saling menipu,
  • penyimpangan dan perjudian merajalela,

maka bencana bukan sekadar fenomena geologi—tetapi sunnatullah kehancuran peradaban.

PART 12 — Megathrust Jawa & Sumatera: Ancaman Tsunami 20–34 Meter yang Diabaikan

Para peneliti internasional sejak 2020–2024 telah berulang kali memperingatkan bahwa :

  • Megathrust Selat Sunda,
  • Megathrust Jawa bagian selatan,
  • dan Megathrust Sumatera

memiliki potensi menghasilkan gempa 8,7–9,1 SR yang dapat memicu tsunami hingga 20–34 meter.

Simulasi paling ekstrem menunjukkan :

  • pesisir Banten dapat lenyap dalam 15 menit,
  • Pangandaran–Cilacap dapat rata oleh air,
  • sebagian pesisir Lampung, Bengkulu, Padang, dan Aceh dapat tenggelam.

Namun kesiapsiagaan nasional masih jauh dari memadai :

  • sirine tsunami rusak,
  • jalur evakuasi tidak jelas,
  • tata ruang kacau karena kepentingan proyek,
  • reklamasi memperburuk dampak gelombang,
  • korupsi membuat anggaran mitigasi menguap.

Di zaman Nabi Nuh, kaum yang menolak kebenaran dihancurkan oleh air.
Di Indonesia, air bukan hanya ancaman alam—tetapi akibat keserakahan manusia menjarah hutan dan pesisir.

PART 13 — Kerusakan Moral dan Politik: Ketika Indonesia Mengulangi Pola Kaum Luth, ‘Ad, dan Madyan

Sejarah nabi-nabi menunjukkan pola yang konsisten :

✔ Jika moral masyarakat rusak → datang bencana sosial.

✔ Jika pemimpin zalim → datang bencana politik.

✔ Jika alam dirusak → datang bencana ekologis.

Indonesia hari ini menunjukkan ketiga-tiganya :

1. Moral publik menurun tajam

  • judi online merajalela,
  • LGBTQ dinormalisasi,
  • seks bebas meningkat,
  • media penuh konten maksiat.

Ini mirip kaum Luth: penyimpangan menjadi gaya hidup.

2. Politik penuh kebohongan dan pengkhianatan

  • hukum dikendalikan oligarki,
  • jabatan dibeli,
  • yang salah dibenarkan, yang benar dihukum.

Ini mirip kaum ‘Ad dan Fir’aun: kekuasaan menciptakan ketidakadilan.

3. Ekonomi dikuasai kelompok kecil

  • mafia timbangan modern,
  • monopoli pangan,
  • kartel impor,
  • eksploitasi SDA tak terkendali.

Ini mirip kaum Madyan: ekonomi dikuasai penipu dan pemodal rakus.

Jika pola-pola ini dibiarkan, sejarah selalu menunjukkan bahwa :

bencana akan datang bukan hanya dari bumi, tetapi dari keruntuhan peradaban itu sendiri.

PART 14 — Indonesia Menghadapi Masa “Tahrib”: Kemungkinan Perubahan Besar Akibat Krisis Total

Dalam studi sejarah peradaban, ada fase yang disebut tahrib—masa kehancuran dan perombakan total—yang terjadi ketika :

  1. bangsa kehilangan integritas moral,
  2. pemimpin berkhianat kepada amanah,
  3. hukum kehilangan wibawa,
  4. rakyat tidak lagi takut pada dosa,
  5. alam rusak disebabkan eksploitasi.

Indonesia kini menunjukkan tanda-tanda menuju fase tersebut :

  • konflik politik horizontal,
  • skandal korupsi yang tidak pernah berhenti,
  • banjir bandang susul menyusul,
  • tanah longsor di mana-mana,
  • laut mulai menenggelamkan pesisir,
  • anak muda kehilangan arah moral,
  • pendidikan rusak oleh politisasi,
  • runtuhnya kepercayaan publik pada lembaga negara.

Dalam sejarah para nabi, fase “tahrib” adalah masa ketika Allah mengambil alih peringatan terakhir lewat bencana besar.

Megathrust dapat menjadi salah satu pemicu, bukan semata karena alam, tetapi karena:

peradaban sudah terlalu jauh dari nilai kebenaran dan keadilan.

PART 15 — Jalan Selamat: Peradaban Indonesia Harus Memilih Antara Taubat Kolektif atau Kehancuran Alamiah

Serial ini berakhir dengan satu pesan penting:
Indonesia masih memiliki kesempatan untuk selamat.

Sejarah para nabi menunjukkan:

Bangsa akan diselamatkan jika :

  • pemimpin bertaubat dan mengembalikan keadilan,
  • rakyat memperbaiki moral,
  • ekonomi dibersihkan dari riba dan penipuan,
  • hukum ditegakkan dengan benar,
  • alam dijaga, bukan dirusak,
  • kemaksiatan tidak dinormalisasi.

Semua ini bukan retorika.
Ini adalah faktor-faktor pembentuk daya tahan peradaban.

Indonesia masih bisa memilih untuk :

✔ Membangun pemerintahan yang jujur,

✔ Mengembalikan hukum pada kebenaran,

✔ Menjaga hutan dan laut,

✔ Membersihkan media dari kerusakan moral,

✔ Menghapus mafia dan oligarki,

✔ Memperbaiki akhlak generasi muda.

Jika tidak…

Maka sejarah para nabi mengajarkan bahwa Allah tidak membiarkan suatu bangsa terus hidup dalam kezhaliman. Bencana alam hanya menjadi alat untuk meruntuhkan peradaban yang sudah rapuh dari dalam.

Indonesia sedang diuji: memperbaiki diri atau mengulangi sejarah kehancuran bangsa-bangsa terdahulu.

**Baca disini bagian Part 6 – 10

Penulis : Laksma TNI (Purn) Jaya Darmawan, M.Tr.Opsla

Editor : Redaksi

Sumber Berita: haikunnews.id

Berita Terkait

Rantai Kerusakan Sosial: Ulama–Cendekiawan, Pemimpin dan Rakyat
Pesan Profetik: Seruan Langit Untuk Bumi
Guru Sejati dalam Falsafah Jawa dan Padanannya dalam Ajaran Islam Untuk Memahami Falsafah Sangkan Paraning Dumadi sebagai Penuntun dalam Mengarungi Zaman Edan (Seri-2)
Filsafat Ilmu : Ontologi, Epistemologi dan Aksiologi Sebagai Fondasi Berpikir dan Bertindak Cendekiawan Berbasis Nilai Langit
Kecerdasan Buatan di Persimpangan Nur dan Zulmat: Antara Bisikan Syaitan dan Ilham Malaikat
Arah Peradaban Hukum Berbasis Kebenaran Allah dan Keadilan Allah (Seri-4)
Mengenang Sufi Agung Wanita Rabi’ah Al Adawiyyah dan Ajarannya (Seri – 6)
Atas Banjir Bandang Sumatera: Peringatan Allah atas Pengkhianatan Amanah dan Kerusakan Tata Kelola
Berita ini 32 kali dibaca
Dilarang Mengambil dan/atau Menayangkan Ulang Sebagian Atau Keseluruhan Artikel di atas untuk Konten Akun Media Sosial Komersil Tanpa Seizin Redaksi HaikunNews.Id.

Berita Terkait

Selasa, 3 Februari 2026 - 10:30 WIB

Rantai Kerusakan Sosial: Ulama–Cendekiawan, Pemimpin dan Rakyat

Jumat, 16 Januari 2026 - 14:34 WIB

Pesan Profetik: Seruan Langit Untuk Bumi

Kamis, 15 Januari 2026 - 19:41 WIB

Guru Sejati dalam Falsafah Jawa dan Padanannya dalam Ajaran Islam Untuk Memahami Falsafah Sangkan Paraning Dumadi sebagai Penuntun dalam Mengarungi Zaman Edan (Seri-2)

Selasa, 6 Januari 2026 - 18:57 WIB

Filsafat Ilmu : Ontologi, Epistemologi dan Aksiologi Sebagai Fondasi Berpikir dan Bertindak Cendekiawan Berbasis Nilai Langit

Kamis, 1 Januari 2026 - 19:02 WIB

Kecerdasan Buatan di Persimpangan Nur dan Zulmat: Antara Bisikan Syaitan dan Ilham Malaikat

Berita Terbaru

Iran

Internasional

Iran “Batu Sandungan” Berat Bagi Dinasti Rothschild

Minggu, 8 Mar 2026 - 19:32 WIB

Pemimpin Adil dan Beriman vs Pemimpin Zalim dan Tidak Beriman. FOTO : Ilustrasi

Tarbiyah

Pemimpin Adil dan Beriman vs Pemimpin Zalim dan Tidak Beriman

Selasa, 17 Feb 2026 - 19:18 WIB