Mengenal Sufi Agung Wanita Rabi’ah Al-Adawiyah (Seri-1)

11 Desember 2025

admin

- Redaksi

Sabtu, 13 Desember 2025 - 08:35 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Mengenal Sufi Agung Wanita Rabi'ah Al-Adawiyah. FOTO : HN/Ilustrasi

Mengenal Sufi Agung Wanita Rabi'ah Al-Adawiyah. FOTO : HN/Ilustrasi

Pengantar

  1. Berikut disampaikan riwayat hidup dan ajaran paling terkenal dari Sufi Agung perempuan : Rābi‘ah al-‘Adawiyyah — tokoh yang dianggap sebagai ibu spiritual tasawuf cinta Ilahi (mahabbah ilāhiyyah).
  2. Dengan mempelsjari ini kita akan jadiksn bekal mensikapi zaman edan, agar kita tidak tersesat hidup didunia.

I. Riwayat Hidup Rābi‘ah al-‘Adawiyyah

1. Nama lengkap

Rābi‘ah binti Ismā‘īl al-‘Adawiyyah al-Baṣriyyah (± 95–185 H / 714–801 M)

Tokoh sufi perempuan terbesar dalam sejarah Islam, lahir di Basrah (Irak).

2. Kondisi kelahiran & keluarga

Riwayat menyebut keluarganya sangat miskin tetapi saleh. Ia anak keempat dari empat bersaudara — karena itu dinamakan Rābi‘ah (yang keempat).

Beberapa riwayat menyebut:

  • Pada malam kelahirannya, rumahnya tidak memiliki lampu atau minyak, ayahnya keluar meminta pertolongan tetangga.
  • Dalam mimpi, ayahnya melihat Nabi ﷺ yang menyampaikan bahwa putrinya kelak akan menjadi wanita suci yang dimuliakan Allah.

3. Masa kecil & ujian hidup

Setelah kedua orangtuanya wafat, Basrah dilanda kelaparan hebat. Dalam kekacauan itu, Rābi‘ah kecil diculik dan dijual sebagai budak.

Ia bekerja sangat berat, tetapi tetap:

  • menjaga ibadah malam,
  • berpuasa,
  • terus berdzikir.

Majikannya suatu malam melihat cahaya yang memancar dari kamarnya, dan mendengar ia bermunajat. Majikannya tersentuh dan akhirnya membebaskannya.

Sejak itu, Rābi‘ah hidup sepenuhnya untuk ibadah dan zikir.

4. Hidup sebagai zahidah

Setelah merdeka, Rābi‘ah menolak:

  • semua lamaran pernikahan,
  • harta,
  • kedudukan.

Ia memilih hidup sederhana, hanya makan bila ada sedikit makanan, dan seluruh waktunya dipenuhi:

  • salat malam,
  • munajat,
  • riyāḍah (latihan jiwa),
  • dakwah kepada para murid.

5. Wafat

Rābi‘ah wafat sekitar 801 M, dalam usia ± 80–90 tahun, dimakamkan di Basrah. Namanya kemudian menjadi simbol mahabbah (cinta Ilahi) dalam tasawuf.

II. Ajaran Terkemuka Rābi‘ah al-‘Adawiyyah

Ajaran beliau menjadi dasar tasawuf mahabbah dan mempengaruhi ulama besar seperti:

  • al-Junaid al-Baghdadi
  • al-Ghazali
  • AIbn al-Faridh
  • Jalaluddin Rumi

Berikut inti ajaran masyhurnya.

1. Mahabbah Ilahi – Cinta kepada Allah sebagai tujuan tertinggi

Ajaran paling terkenal dari Rābi‘ah adalah bahwa ibadah tertinggi dilakukan bukan karena takut neraka, bukan karena ingin surga, tetapi karena cinta kepada Allah.

🌹 Doanya yang paling terkenal:

Ilāhī, aku tidak menyembah-Mu karena takut neraka,dan bukan karena ingin surga. Aku menyembah-Mu semata-mata karena aku mencintai-Mu.
Jika aku menyembah-Mu karena takut neraka, bakarlah aku di dalamnya.
Jika aku menyembah-Mu karena menginginkan surga, haramkanlah surga itu bagiku.
Tetapi jika aku menyembah-Mu karena cinta, maka jangan jauhkan aku dari keindahan-Mu.”

Inilah puncak konsep ikhlas dan mahabbah dalam tasawuf.

2. Dzikir dan munajat tanpa henti

Rābi‘ah terkenal dengan munajat-munajatnya yang menggambarkan:

* kelembutan hati,

* kerinduan kepada Allah,

* cinta yang sangat mendalam.

Contohnya:

Tuhanku, malam bagiku adalah waktu bermunajat kepada-Mu, dan siangku adalah untuk mencari ridha-Mu.”

3. Zuhud dan menjauhi dunia

Bagi Rābi‘ah, dunia bukan musuh — tetapi penghalang bagi hati yang ingin fokus kepada Allah.

Ia berkata:

Dunia adalah penghalang bagi mereka yang mencintai-Nya. Bila engkau sudah memiliki Allah, apa lagi yang kau cari?”

4. Cinta Ilahi lebih tinggi dari ibadah yang penuh pamrih

Rābi‘ah mengkritik ibadah yang didasarkan pada:

* ketakutan semata,

* mengharap balasan dunia atau akhirat.

Baginya:

Cinta sejati tidak meminta balasan.

Inilah ajaran yang mengubah wajah tasawuf di seluruh dunia.

5. Konsep dua jenis cinta: ḥubb al-hawā dan ḥubb al-haqq

Beliau membedakan:

a. Cinta hawa nafsu (ḥubb al-hawā) – cinta yang mementingkan diri

Cinta terhadap:

* dunia,

* kenikmatan,

* pujian,

* balasan.

b. Cinta Ilahi (ḥubb al-ḥaqq) – cinta sejati yang murni

Ditandai oleh:

* kerinduan kepada Allah,

* kejujuran hati,

* tidak menuntut apa pun dari Allah,

* rela terhadap qadha’-Nya.

6. Totalitas tawakal dan ridha

Rābi‘ah mengajarkan bahwa:

Ridha adalah puncak dari cinta.”

Jika seseorang benar-benar mencintai Allah, ia akan:

* ridha dengan ujian,

* ridha dengan kemiskinan,

* ridha dengan sakit,

* ridha dengan ketentuan Allah.

7. Perempuan bisa menjadi wali besar

Ajarannya juga menegaskan bahwa kedudukan spiritual tidak bergantung pada jenis kelamin, tetapi pada kesucian hati.

Ia berkata:

Di hadapan Allah, keadaan bukan ditentukan oleh rupa, tetapi oleh hati.

III. Pengaruh Rābi‘ah dalam Tasawuf dan Peradaban Islam

  1. Ia menjadi pelopor tasawuf cinta (ʿishq) yang kemudian dikembangkan oleh Rumi, Attar, dan Ibn Arabi.
  2. Menjadi bukti bahwa perempuan memiliki ruang sangat besar dalam dunia spiritual Islam.
  3. Membentuk paradigma bahwa tujuan hidup adalah Allah itu sendiri, bukan pemberian-Nya.

BERSAMBUNG SERI-2

Penulis : Drs. Suripno. Mstr

Editor : Redaksi

Sumber Berita: haikunnews.id

Berita Terkait

Tujuh Tingkatan Wujud (Maqāmāt An-Nafs) dan Urgensinya Bagi Orang Berilmu di Zaman Sekarang
Indikator Kezaliman Individual dan Struktural Beserta Dalilnya (Seri-2)
Kezaliman Individual dan Kezaliman Struktural Dalam Perspektif Al Quran, Hadis, dan Ulama: Akar Masalah, Tanggung Jawab Moral, dan Konsekuensi Illahiyah (Seri-1)
REFORMASI PEMILU ; Langkah Awal Amandemen UUD 1945 dan Pembangunan Sistem Hukum Indonesia Berbasis Kebenaran dan Keadilan Allah
Hakikat Ilmu dalam Tradisi Ulama Klasik dan Keunggulannya atas Filsafat Ilmu Modern
Kelembutan Hati dan Tangisan yang Bermuara pada Cinta Kepada Allah sebagai Bekal Mengarungi Zaman Edan
Mengenang Sufi Agung Wanita Rabi’ah Al Adawiyyah dan Ajarannya (Seri-7)
Amanah Pemimpin Beriman, dan Kewajiban Menegakkan Kebenaran Allah serta Keadilan Allah
Berita ini 24 kali dibaca
Dilarang Mengambil dan/atau Menayangkan Ulang Sebagian Atau Keseluruhan Artikel di atas untuk Konten Akun Media Sosial Komersil Tanpa Seizin Redaksi HaikunNews.Id.

Berita Terkait

Selasa, 17 Februari 2026 - 19:33 WIB

Tujuh Tingkatan Wujud (Maqāmāt An-Nafs) dan Urgensinya Bagi Orang Berilmu di Zaman Sekarang

Selasa, 3 Februari 2026 - 10:19 WIB

Indikator Kezaliman Individual dan Struktural Beserta Dalilnya (Seri-2)

Selasa, 3 Februari 2026 - 10:08 WIB

Kezaliman Individual dan Kezaliman Struktural Dalam Perspektif Al Quran, Hadis, dan Ulama: Akar Masalah, Tanggung Jawab Moral, dan Konsekuensi Illahiyah (Seri-1)

Senin, 12 Januari 2026 - 01:21 WIB

REFORMASI PEMILU ; Langkah Awal Amandemen UUD 1945 dan Pembangunan Sistem Hukum Indonesia Berbasis Kebenaran dan Keadilan Allah

Sabtu, 10 Januari 2026 - 07:43 WIB

Hakikat Ilmu dalam Tradisi Ulama Klasik dan Keunggulannya atas Filsafat Ilmu Modern

Berita Terbaru

Pemimpin Adil dan Beriman vs Pemimpin Zalim dan Tidak Beriman. FOTO : Ilustrasi

Tarbiyah

Pemimpin Adil dan Beriman vs Pemimpin Zalim dan Tidak Beriman

Selasa, 17 Feb 2026 - 19:18 WIB