Bencana Susul-Menyusul

admin

- Redaksi

Kamis, 11 Desember 2025 - 17:47 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

ILUSTRASI : Bencana Susul-Menyusul

ILUSTRASI : Bencana Susul-Menyusul

BENCANA SUSUL-MENYUSUL

1. Apakah bencana hanyalah fenomena alam atau azab Tuhan..?

Dalam tradisi Islam (dan agama-agama Semitik secara umum), kedua penjelasan ini tidak saling meniadakan. Bencana bisa fenomena alamiah, bisa peringatan, bisa konsekuensi moral, dan bisa tanda rapuhnya peradaban.

Al-Qur’an sendiri menjelaskan dua lapisan hukum :

(A) Hukum kausalitas alam

Allah menjadikan dunia ini bekerja dengan hukum alam :

  • Jika hutan digunduli → banjir dan longsor terjadi.
  • Jika garis patahan aktif bergerak → gempa dan tsunami terjadi.
  • Jika manusia merusak lingkungan → ekosistem runtuh.

Ini disebut: sunnatullah kauniyyah (hukum alam).

Al-Qur’an menegaskan : “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut akibat perbuatan tangan manusia…” (QS. Ar-Rum: 41)

Artinya: kerusakan alam akibat ulah manusia adalah realitas yang pasti terjadi, bukan “murni azab”, melainkan akibat logis dari pelanggaran manusia terhadap keseimbangan bumi.

(B) Hukum moral (sunnatullah tasyri’iyyah)

Al-Qur’an juga menjelaskan bahwa moralitas suatu bangsa, terutama pemimpinnya, mempengaruhi nasib kolektif masyarakat.

Ketika :

  • kezaliman merajalela,
  • hukum dibengkokkan,
  • suap dianggap biasa,
  • kebohongan menjadi budaya kekuasaan,
  • rakyat ditindas,
  • syirik dan penyimpangan moral merata,

Maka suatu bangsa rentan dihancurkan oleh bencana, konflik, atau keruntuhan internal.

“Dan jika Allah menghendaki kebinasaan suatu negeri, maka diperintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (agar mereka durhaka), lalu mereka benar-benar berbuat durhaka…” (QS. Al-Isra: 16)

Ini bukan semata “azab”, tetapi konsekuensi sosial-politik dan spiritual dari peradaban yang menyimpang.

2. Pelajaran dari sejarah manusia

Sejarah menunjukkan pola yang sama, lintas agama dan lintas budaya :

Nabi Nuh

Kaumnya hancur bukan hanya karena banjir, tetapi karena :

  • kesombongan kolektif,
  • kezaliman,
  • kerusakan moral,
  • menolak nasihat,
  • meremehkan kebenaran.

Nabi Luth

Kaumnya musnah bukan semata karena homo­seksual, tapi karena :

  • kezaliman pada tamu,
  • kekerasan sosial,
  • moralitas masyarakat yang runtuh sistemik,
  • pemimpin yang membiarkan kejahatan.

Kerajaan Babilonia, Mesir, Makkah Jahiliyah

Peradaban runtuh karena kemewahan, keserakahan, dan pengkhianatan pemimpin.

Bangsa-bangsa besar modern

Bencana besar banyak terjadi ketika lingkungan rusak, kesenjangan menggila, dan integritas negara melemah :

  • Jepang hancur tahun 2011 oleh gempa-tsunami karena zona seismik megathrust.
  • Filipina, Pakistan, India → banjir ekstrem akibat perubahan iklim.
  • Turki → gempa besar akibat struktur bangunan korup.

Polanya universal : Kezaliman + kerusakan alam = bencana besar.

3. Indonesia: Apakah bencana beruntun saat ini sekadar fenomena alam..?

Secara ilmiah :

Indonesia memang berada pada :

  • cincin api (ring of fire),
  • pertemuan 3 lempeng besar,
  • jalur megathrust aktif (Sunda, Maluku, Sulawesi),
  • wilayah paling basah di dunia.

Ditambah :

  • deforestasi ekstrem,
  • 1,6 juta hektar hutan hilang per tahun (puncaknya),
  • alih fungsi DAS,
  • tata ruang hancur,
  • sungai disempitkan,
  • kota dibangun tanpa studi geo-hazard.

Secara ilmiah → bencana pasti meningkat.

Secara spiritual dan moral :

Bangsa Indonesia juga sedang menghadapi :

  • pemimpin yang menyelewengkan kekuasaan,
  • hukum tajam ke bawah tumpul ke atas,
  • korupsi struktural,
  • kehancuran amanah,
  • maraknya fitnah, kebohongan, manipulasi,
  • perjudian online yang legal secara diam-diam,
  •  budaya hedonisme,
  • syirik, perzinahan, dan penyimpangan moral dipromosikan.

Ini membuat masyarakat secara moral dan sosial rapuh, sama seperti bangsa-bangsa yang pernah dihancurkan dalam sejarah.

4. Apakah ini azab..? Atau peringatan..?

Dalam tafsir klasik :

  • Azab adalah pemusnahan total.
  • Bala adalah bencana untuk menguji kesabaran orang baik dan mengingatkan orang zalim.
  • Peringatan adalah teguran awal sebelum kehancuran.

Yang terjadi di Indonesia saat ini lebih mirip peringatan dan bala, karena :

  • Negara belum musnah,
  • Masih ada orang baik,
  • Peluang taubat nasional masih terbuka.

Tetapi jika :

  • kezaliman dibiarkan,
  • kerusakan alam terus berlanjut,
  • pemimpin tak berubah,
  • syirik dan kejahatan sosial semakin dilegalkan,

maka bencana akan meningkat secara intensitas dan frekuensi, hingga menuju megathrust besar — ini bukan hanya prediksi ilmiah, tetapi pola sejarah peradaban.

5. Mengapa bencana terasa “susul menyusul”..?

Karena tiga faktor menyatu :

(1) Kerusakan lingkungan sistemik : 30 tahun deforestasi → sistem hidrologi rusak → Aceh, Sumut, Sumbar banjir berulang.

(2) Perubahan iklim global : Atmosfer memanas → curah hujan ekstrem meningkat 2–4 kali lipat.

(3) Keruntuhan moral dan tata kelola negara

  • tata ruang dilanggar,
  • tambang liar dilegalkan,
  • hutan dijual ke oligarki,
  • penegakan hukum diperdagangkan,
  • sumpah jabatan dilanggar.

Bangsa yang pemimpinnya zalim → rakyatnya menderita dalam banyak ayat dan sejarah.

6. Kesimpulan yang paling jujur dan seterang-terangnya

Bencana di Indonesia saat ini adalah kombinasinya :

  1. Fenomena alam yang memang rawan (geologi).
  2. Akibat dari kerusakan lingkungan oleh manusia (ekologi).
  3. Peringatan moral dan sosial dari Allah (spiritual).
  4. Konsekuensi kezaliman pemimpin dan keruntuhan akhlak masyarakat (sosiologis-historis).

Jika manusia dan pemimpin terus :

  • curang,
  • berbohong,
  • zalim,
  • merusak alam,
  • enyekutukan Allah,
  • menormalisasi kemaksiatan,

Maka bencana tidak akan berhenti, bahkan :

  • akan lebih dahsyat,
  • lebih sering,
  • lebih mematikan,
  • termasuk potensi megathrust yang sudah lama ditunggu secara ilmiah.

7. Penutup: Pesan dari sejarah umat manusia

Setiap bangsa yang selamat dari kehancuran besar memiliki resep yang sama :

  1. Memperbaiki pemimpinnya → memilih yang amanah
  2. Menghentikan kerusakan alam
  3. Menegakkan keadilan
  4. Mengembalikan moral dan tauhid masyarakat
  5. Menjalankan pemerintahan sesuai amanah konstitusi

Jika bangsa memperbaiki dirinya, Allah menjanjikan : “Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum sampai mereka mengubah apa yang ada dalam diri mereka sendiri.” (QS. Ar-Ra’d: 11)

Penulis : Laksma TNI (Purn) Jaya Darmawan, M.Tr.Opsla

Editor : Redaksi

Sumber Berita: haikunnews.id

Berita Terkait

Rantai Kerusakan Sosial: Ulama–Cendekiawan, Pemimpin dan Rakyat
Pesan Profetik: Seruan Langit Untuk Bumi
Guru Sejati dalam Falsafah Jawa dan Padanannya dalam Ajaran Islam Untuk Memahami Falsafah Sangkan Paraning Dumadi sebagai Penuntun dalam Mengarungi Zaman Edan (Seri-2)
Filsafat Ilmu : Ontologi, Epistemologi dan Aksiologi Sebagai Fondasi Berpikir dan Bertindak Cendekiawan Berbasis Nilai Langit
Kecerdasan Buatan di Persimpangan Nur dan Zulmat: Antara Bisikan Syaitan dan Ilham Malaikat
Arah Peradaban Hukum Berbasis Kebenaran Allah dan Keadilan Allah (Seri-4)
Mengenang Sufi Agung Wanita Rabi’ah Al Adawiyyah dan Ajarannya (Seri – 6)
Atas Banjir Bandang Sumatera: Peringatan Allah atas Pengkhianatan Amanah dan Kerusakan Tata Kelola
Berita ini 169 kali dibaca
Dilarang Mengambil dan/atau Menayangkan Ulang Sebagian Atau Keseluruhan Artikel di atas untuk Konten Akun Media Sosial Komersil Tanpa Seizin Redaksi HaikunNews.Id.

Berita Terkait

Selasa, 3 Februari 2026 - 10:30 WIB

Rantai Kerusakan Sosial: Ulama–Cendekiawan, Pemimpin dan Rakyat

Jumat, 16 Januari 2026 - 14:34 WIB

Pesan Profetik: Seruan Langit Untuk Bumi

Kamis, 15 Januari 2026 - 19:41 WIB

Guru Sejati dalam Falsafah Jawa dan Padanannya dalam Ajaran Islam Untuk Memahami Falsafah Sangkan Paraning Dumadi sebagai Penuntun dalam Mengarungi Zaman Edan (Seri-2)

Selasa, 6 Januari 2026 - 18:57 WIB

Filsafat Ilmu : Ontologi, Epistemologi dan Aksiologi Sebagai Fondasi Berpikir dan Bertindak Cendekiawan Berbasis Nilai Langit

Kamis, 1 Januari 2026 - 19:02 WIB

Kecerdasan Buatan di Persimpangan Nur dan Zulmat: Antara Bisikan Syaitan dan Ilham Malaikat

Berita Terbaru

Iran

Internasional

Iran “Batu Sandungan” Berat Bagi Dinasti Rothschild

Minggu, 8 Mar 2026 - 19:32 WIB

Pemimpin Adil dan Beriman vs Pemimpin Zalim dan Tidak Beriman. FOTO : Ilustrasi

Tarbiyah

Pemimpin Adil dan Beriman vs Pemimpin Zalim dan Tidak Beriman

Selasa, 17 Feb 2026 - 19:18 WIB