BENCANA SUSUL-MENYUSUL
1. Apakah bencana hanyalah fenomena alam atau azab Tuhan..?
Dalam tradisi Islam (dan agama-agama Semitik secara umum), kedua penjelasan ini tidak saling meniadakan. Bencana bisa fenomena alamiah, bisa peringatan, bisa konsekuensi moral, dan bisa tanda rapuhnya peradaban.
Al-Qur’an sendiri menjelaskan dua lapisan hukum :
(A) Hukum kausalitas alam
Allah menjadikan dunia ini bekerja dengan hukum alam :
- Jika hutan digunduli → banjir dan longsor terjadi.
- Jika garis patahan aktif bergerak → gempa dan tsunami terjadi.
- Jika manusia merusak lingkungan → ekosistem runtuh.
Ini disebut: sunnatullah kauniyyah (hukum alam).
Al-Qur’an menegaskan : “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut akibat perbuatan tangan manusia…” (QS. Ar-Rum: 41)
Artinya: kerusakan alam akibat ulah manusia adalah realitas yang pasti terjadi, bukan “murni azab”, melainkan akibat logis dari pelanggaran manusia terhadap keseimbangan bumi.
(B) Hukum moral (sunnatullah tasyri’iyyah)
Al-Qur’an juga menjelaskan bahwa moralitas suatu bangsa, terutama pemimpinnya, mempengaruhi nasib kolektif masyarakat.
Ketika :
- kezaliman merajalela,
- hukum dibengkokkan,
- suap dianggap biasa,
- kebohongan menjadi budaya kekuasaan,
- rakyat ditindas,
- syirik dan penyimpangan moral merata,
Maka suatu bangsa rentan dihancurkan oleh bencana, konflik, atau keruntuhan internal.
“Dan jika Allah menghendaki kebinasaan suatu negeri, maka diperintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (agar mereka durhaka), lalu mereka benar-benar berbuat durhaka…” (QS. Al-Isra: 16)
Ini bukan semata “azab”, tetapi konsekuensi sosial-politik dan spiritual dari peradaban yang menyimpang.
2. Pelajaran dari sejarah manusia
Sejarah menunjukkan pola yang sama, lintas agama dan lintas budaya :
Nabi Nuh
Kaumnya hancur bukan hanya karena banjir, tetapi karena :
- kesombongan kolektif,
- kezaliman,
- kerusakan moral,
- menolak nasihat,
- meremehkan kebenaran.
Nabi Luth
Kaumnya musnah bukan semata karena homoseksual, tapi karena :
- kezaliman pada tamu,
- kekerasan sosial,
- moralitas masyarakat yang runtuh sistemik,
- pemimpin yang membiarkan kejahatan.
Kerajaan Babilonia, Mesir, Makkah Jahiliyah
Peradaban runtuh karena kemewahan, keserakahan, dan pengkhianatan pemimpin.
Bangsa-bangsa besar modern
Bencana besar banyak terjadi ketika lingkungan rusak, kesenjangan menggila, dan integritas negara melemah :
- Jepang hancur tahun 2011 oleh gempa-tsunami karena zona seismik megathrust.
- Filipina, Pakistan, India → banjir ekstrem akibat perubahan iklim.
- Turki → gempa besar akibat struktur bangunan korup.
Polanya universal : Kezaliman + kerusakan alam = bencana besar.
3. Indonesia: Apakah bencana beruntun saat ini sekadar fenomena alam..?
Secara ilmiah :
Indonesia memang berada pada :
- cincin api (ring of fire),
- pertemuan 3 lempeng besar,
- jalur megathrust aktif (Sunda, Maluku, Sulawesi),
- wilayah paling basah di dunia.
Ditambah :
- deforestasi ekstrem,
- 1,6 juta hektar hutan hilang per tahun (puncaknya),
- alih fungsi DAS,
- tata ruang hancur,
- sungai disempitkan,
- kota dibangun tanpa studi geo-hazard.
Secara ilmiah → bencana pasti meningkat.
Secara spiritual dan moral :
Bangsa Indonesia juga sedang menghadapi :
- pemimpin yang menyelewengkan kekuasaan,
- hukum tajam ke bawah tumpul ke atas,
- korupsi struktural,
- kehancuran amanah,
- maraknya fitnah, kebohongan, manipulasi,
- perjudian online yang legal secara diam-diam,
- budaya hedonisme,
- syirik, perzinahan, dan penyimpangan moral dipromosikan.
Ini membuat masyarakat secara moral dan sosial rapuh, sama seperti bangsa-bangsa yang pernah dihancurkan dalam sejarah.
4. Apakah ini azab..? Atau peringatan..?
Dalam tafsir klasik :
- Azab adalah pemusnahan total.
- Bala adalah bencana untuk menguji kesabaran orang baik dan mengingatkan orang zalim.
- Peringatan adalah teguran awal sebelum kehancuran.
Yang terjadi di Indonesia saat ini lebih mirip peringatan dan bala, karena :
- Negara belum musnah,
- Masih ada orang baik,
- Peluang taubat nasional masih terbuka.
Tetapi jika :
- kezaliman dibiarkan,
- kerusakan alam terus berlanjut,
- pemimpin tak berubah,
- syirik dan kejahatan sosial semakin dilegalkan,
maka bencana akan meningkat secara intensitas dan frekuensi, hingga menuju megathrust besar — ini bukan hanya prediksi ilmiah, tetapi pola sejarah peradaban.
5. Mengapa bencana terasa “susul menyusul”..?
Karena tiga faktor menyatu :
(1) Kerusakan lingkungan sistemik : 30 tahun deforestasi → sistem hidrologi rusak → Aceh, Sumut, Sumbar banjir berulang.
(2) Perubahan iklim global : Atmosfer memanas → curah hujan ekstrem meningkat 2–4 kali lipat.
(3) Keruntuhan moral dan tata kelola negara
- tata ruang dilanggar,
- tambang liar dilegalkan,
- hutan dijual ke oligarki,
- penegakan hukum diperdagangkan,
- sumpah jabatan dilanggar.
Bangsa yang pemimpinnya zalim → rakyatnya menderita dalam banyak ayat dan sejarah.
6. Kesimpulan yang paling jujur dan seterang-terangnya
Bencana di Indonesia saat ini adalah kombinasinya :
- Fenomena alam yang memang rawan (geologi).
- Akibat dari kerusakan lingkungan oleh manusia (ekologi).
- Peringatan moral dan sosial dari Allah (spiritual).
- Konsekuensi kezaliman pemimpin dan keruntuhan akhlak masyarakat (sosiologis-historis).
Jika manusia dan pemimpin terus :
- curang,
- berbohong,
- zalim,
- merusak alam,
- enyekutukan Allah,
- menormalisasi kemaksiatan,
Maka bencana tidak akan berhenti, bahkan :
- akan lebih dahsyat,
- lebih sering,
- lebih mematikan,
- termasuk potensi megathrust yang sudah lama ditunggu secara ilmiah.
7. Penutup: Pesan dari sejarah umat manusia
Setiap bangsa yang selamat dari kehancuran besar memiliki resep yang sama :
- Memperbaiki pemimpinnya → memilih yang amanah
- Menghentikan kerusakan alam
- Menegakkan keadilan
- Mengembalikan moral dan tauhid masyarakat
- Menjalankan pemerintahan sesuai amanah konstitusi
Jika bangsa memperbaiki dirinya, Allah menjanjikan : “Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum sampai mereka mengubah apa yang ada dalam diri mereka sendiri.” (QS. Ar-Ra’d: 11)
Penulis : Laksma TNI (Purn) Jaya Darmawan, M.Tr.Opsla
Editor : Redaksi
Sumber Berita: haikunnews.id







