Pengantar
- Setelah memahami makna Bab XI Ridha dan Mahabbah Illahiyah, berikutnya kita renungkan BAB XII dengan penekanan kuat pada ajaran dan pengalaman rohani beliau.
- Bab ini melanjutkan alur spiritual dari sabar (Bab X), ridha dan mahabbah (Bab XI), menuju ma‘rifat dan fanā’, yaitu puncak perjalanan ruhani seorang sufi.
BAB XII MA‘RIFATULLĀH DAN FANĀ’ MENURUT AJARAN RĀBI‘AH AL-‘ADAWIYYAH
A. Umum
- Setelah melewati maqām sabar–ridha– mahabbah, seorang pencari (sālik) memasuki wilayah yang lebih dalam, yaitu ma‘rifatullāh (pengetahuan batin tentang Allah) dan fanā’(lenyapnya ego dalam kehadiran Allah).
- Dalam tradisi tasawuf, dua maqām ini merupakan puncak penyaksian ruhani. Namun yang membedakan Rābi‘ah dari para sufi lain adalah cara beliau mencapai puncak itu melalui cinta yang murni, bukan melalui latihan asketis yang ekstrem atau pengetahuan filsafat—melainkan melalui mahabbah ilāhiyyah yang membakar seluruh hijab hati.
- Rābi‘ah menghadirkan model ma‘rifat yang feminin, lembut, penuh cinta, namun luar biasa kuat.
“Aku mengenal-Mu bukan dengan akalku, tetapi dengan hati yang Kau nyalakan dengan cinta.”[1]
B. Hakikat Ma‘rifat Menurut Rābi‘ah
1. Ma‘rifat sebagai Cahaya yang Menyingkap Keindahan Allah
- Dalam tasawuf, ma‘rifat (gnosis) bukan pengetahuan intelektual, tetapi penyingkapan (kashf).
- Bagi Rābi‘ah, ma‘rifat adalah pengenalan yang dilahirkan dari cinta, bukan dari argumentasi.
Ia berkata:
Bagaimana mungkin aku tidak mengenal-Mu, padahal Engkaulah yang mengenalkan diri-Mu kepadaku.”[2]
Menurut Rābi‘ah, hakikat ma‘rifat adalah:
- kemampuan melihat kehendak Allah dalam setiap peristiwa,
- kepekaan batin untuk merasakan kehadiran-Nya,
- tenggelam dalam keindahan (jamāl) Allah sehingga dunia tidak menarik lagi.
2. Ma‘rifat Menghapus Ketakutan terhadap Neraka dan Harapan terhadap Surga
Rābi‘ah dikenal karena ungkapannya:
“Jika aku menyembah-Mu karena takut neraka, bakarlah aku di dalamnya.Jika aku menyembah-Mu karena ingin surga, haramkan surga itu bagiku.”[3]
Ini bukan keberanian kosong, melainkan ekspresi ma‘rifat tertinggi, yaitu mengenal Allah sebagai Zat yang layak dicintai karena keindahan-Nya, bukan karena imbalan-Nya.
Ma‘rifat menurut Rābi‘ah berarti:
- menghilangkan ego yang berorientasi keuntungan,
- menghancurkan pamrih spiritual,
- memurnikan tujuan ibadah hanya kepada Allah.
3. Ma‘rifat sebagai Transformasi Hati, Bukan Tambahan Ilmu
- Dalam banyak riwayat, Rābi‘ah menyatakan bahwa cinta adalah jalan yang lebih kuat dari pikiran. Ia tidak menolak ilmu, tetapi ia mengajarkan bahwa ilmu tanpa cinta tidak memberi cahaya.
Ilmu tanpa cinta hanya menambah hijab, Cinta tanpa ilmu membuka pintu, tetapi cinta bersama ilmu menghantarkan ke hadirat Allah.”[4]
Ma‘rifat bagi Rābi‘ah bukan tahu tentang Allah tetapi hadir bersama Allah (hudhur ma‘a Allāh).
C. Fanā’ Menurut Rābi‘ah
1. Hakikat Fanā’: Lenyapnya Ego dalam Kehendak Allah
Fanā’ adalah konsep penting dalam tasawuf, yakni “lenyapnya” sifat-sifat diri sehingga yang tersisa hanya cahaya kehendak Allah. Namun, Rābi‘ah memaknai fanā’ dengan cara yang unik.
Menurutnya:
- Fanā’ bukan hilang kesadaran,
- bukan ekstase fisik,
- bukan pingsan ruhani,
melainkan hilangnya keakuan (ana’iyyah) dan keinginan pribadi.
Ia menyatakan:
Diriku telah pergi. Yang tinggal hanyalah kehendak Kekasihku.”[5]
Bagi Rābi‘ah, fanā’ adalah bentuk tertinggi cinta.
2. Fanā’ dalam Cinta, Bukan dalam Keadaan Mistis
- Banyak sufi mengalami fanā’ melalui ekstase (wajd), tetapi Rābi‘ah mengalaminya melalui ketenangan.
- Ia tidak berteriak, tidak menari, tidak melakukan ritual ekstatis.
- Ia fanā’ dalam keheningan cinta.
Model fanā’ Rābi‘ah:
- Diam dalam kehadiran Allah
- Tidak meminta apa pun
- Menerima segala takdir sebagai keindahan
- Meniadakan kehendak diri
- Menghidupkan kehendak Allah dalam hidup
Inilah fanā’ yang lembut namun dalam.
3. Fanā’ Membawa Kepada Baqā’
Dalam tasawuf:
- Fanā’ = hilangnya ego
- Baqā’ = kekal bersama Allah, penuh kehadiran-Nya
Rābi‘ah menegaskan bahwa perjalanan tidak berhenti pada fanā’. Setelah ego hancur, seorang hamba hidup kembali dalam kehadiran Allah.
Ia berkata:
“Setelah aku tiada, aku menemukan diriku dalam Diri-Mu.”[6]
Fanā’ → Baqā’ adalah puncak penyatuan spiritual (ittihad ruhani), bukan penyatuan zat, tetapi keselarasan sempurna antara kehendak hamba dan kehendak Allah.
D. Relasi Ma‘rifat dan Fanā’ dalam Ajaran Rābi‘ah
1. Ma‘rifat Melahirkan Fanā’
Jika ma‘rifat adalah mengenal Allah, maka fanā’ adalah menghilangkan diri agar yang tampak hanya Allah. Rābi‘ah memadukan keduanya melalui cinta.
- Ia mengenal Allah dengan cinta.
- Ia menghilangkan egonya dengan cinta.
- Ia bertahan dalam kehadiran Allah (baqā’) dengan cinta.
- Cinta menjadi motor seluruh perjalanan spiritualnya.
2. Fanā’ dan Ma‘rifat Membuahkan Sikap Hidup yang Damai
Seorang yang telah ma‘rifat dan fanā’:
- tidak lagi takut masa depan,
- tidak sedih atas sesuatu yang hilang,
- tidak bangga dengan apa yang ia miliki,
- tidak marah kepada makhluk,
- tidak lagi khawatir pada dunia.
Inilah kondisi ketenangan jiwa (ithmi’nān) yang dijanjikan Allah dalam QS Al-Fajr 27–30:
“Wahai jiwa yangtenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan ridha dan diridhai…” Ayat ini menggambarkan maqām Rābi‘ah.
E. Manifestasi Ma‘rifat dan Fanā’ dalam Kehidupan Rābi‘ah
1. Munajatnya yang melampaui dunia
Ia berbicara kepada Allah seolah langsung kepada Kekasih.
2. Tidak meminta apa pun
Tidak minta rezeki, tidak minta kesembuhan, tidak minta surga.
3. Seluruh hidupnya untuk Allah
Ia tidak menikah, tidak mengumpulkan harta, tidak mencari pengikut.
4. Tidak takut ujian
Karena ia melihat ujian sebagai kedatangan Allah.
5. Kelembutan akhlaknya
Semua yang fanā’ dari dirinya, yang tersisa adalah kasih.
F. Penutup
- Bab XII ini menegaskan bahwa puncak perjalanan spiritual menurut Rābi‘ah adalah ma‘rifatullāh melalui mahabbah, dan fanā’ melalui penyerahan total kepada Allah.
- Tidak ada paksaan, tidak ada ketakutan, tidak ada harapan duniawi—yang ada hanya cinta yang suci, bening, dan total.
- Tasawuf Rābi‘ah mengajarkan bahwa tujuan akhir hidup bukanlah ibadah yang banyak, bukan surga, bukan maqām spiritual tinggi—melainkan Allah sendiri sebagai Kekasih Sejati.
- Dengan demikian, Rābi‘ah al-‘Adawiyyah menjelma menjadi ikon mahabbah Ilahi yang ajarannya terus hidup sepanjang zaman.
Catatan Kaki (Gaya Chicago CMS)
[1] Attar, Tadhkirat al-Awliya’, riwayat tentang dialog Rābi‘ah dalam khalwat.
[2] Al-Qushayri, Risalah al-Qushayriyyah, Bab al-Ma‘rifah.
[3] Attar, Tadhkirat al-Awliya’, kisah doa Rābi‘ah tentang surga dan neraka.
[4] Al-Ghazali, Iḥyā’ ‘Ulūm al-Dīn, Kitab al-Maḥabbah.
[5] Ibid., penjelasan tentang fanā’ al-maḥabbah.
[6] Ibn al-Jawzi, Ṣifat al-Ṣafwah, Bab tentang Rābi‘ah.
Berikutnya Seri – 6, penerapannya ajaran ini pada zaman edan
Penulis : Drs. Suripno. Mstr
Editor : Redaksi
Sumber Berita: haikunnews.id







