A. Untuk Para Pemimpin
Wahai para pemegang amanah kekuasaan,
ingatlah bahwa kekuasaan bukan tangga menuju langit, kecuali bila disertai sujud yang jujur dan takut kepada Allah.
Isra’ Mi‘raj mengajarkan:
Nabi ﷺ naik ke langit setelah sempurna adab dan amanahnya di bumi.
Tidak ada mi‘raj bagi kekuasaan yang zalim. Tidak ada keberkahan bagi kebijakan yang melukai rakyat kecil.
Jika shalat hanya menjadi simbol, jika jabatan membuat lupa bahwa semua akan dihisab, maka kekuasaan itu bukan mi‘raj, tetapi istidraj (penundaan hukuman).
Langit tidak pernah memberi amanah kepada tangan yang kotor,
dan Allah tidak menolong kekuasaan yang berdiri di atas air mata orang lemah.
Berhentilah sejenak.
Lakukan mi‘raj batin sebelum ajal menjemput.
Karena di hadapan Allah, jabatan tidak dipanggil dengan gelar, tetapi dengan tanggung jawabnya.
B. Untuk Ulama dan Cendekiawan
Wahai pewaris ilmu dan pena,
Isra’ Mi‘raj tidak hanya tentang Nabi naik ke langit,
tetapi juga tentang siapa yang berani menyampaikan kebenaran setelah turun ke bumi.
Ilmu tanpa keberanian adalah ilmu yang pincang.
Diam di hadapan kezaliman bukan adab, tetapi pengkhianatan amanah ilmu.
Ingatlah:
Nabi ﷺ menerima shalat, lalu kembali ke umat, bukan tinggal di langit.
Ulama sejati bukan yang paling tinggi ilmunya, tetapi yang paling jujur membela kebenaran meski berisiko.
Jika ilmu hanya menjadi alat legitimasi, jika mimbar dibungkam oleh kepentingan, jika pena takut kehilanganfasilitas,
maka langit menangis, meski bumi bertepuk tangan.
Ilmu yang tidak membimbing pada keadilan
akan menjadi saksi yang memberatkan di hari perhitungan.
Kembalilah kepada niat awal:
ilmu untuk menyelamatkan, bukan mengamankan diri.
C. Untuk Umat pada Umumnya
Wahai umat yang merindukan rahmat Allah,
Isra’ Mi‘raj bukan kisah jauh di langit,
tetapi cermin bagi kehidupan sehari-hari.
Shalat bukan sekadar gerakan, tetapi perjanjian harian dengan Allah:
- untuk jujur,
- untuk adil,
- untuk tidak menzalimi,
- untuk tidak ikut dalam kebohongan massal.
Jika shalat tidak mengubah akhlak, jika ibadah tidak melahirkan kepedulian, jika iman tidak mencegah ikut kezaliman, maka mi‘raj kita terhenti di bibir, tidak sampai ke hati dan tembus ke langit
Umat yang kuat bukan yang paling keras suaranya, tetapi yang paling lurus sikapnya.
D. Seruan Penutup: Mi‘raj Kolektif Bangsa
Wahai semua yang bernama manusia Indonesia, Isra’ Mi‘raj mengajarkan satu pesan agung:
Bumi akan rusak jika manusia lupa naik kepada Allah,
dan langit akan murka jika manusia enggan turun membela kebenaran.
Mari lakukan:
Mi‘raj pribadi: dengan taubat dan shalat yang hidup
Mi‘raj sosial: dengan keadilan dan keberanian moral
Mi‘raj kebangsaan: dengan kepemimpinan amanah dan ilmu yang jujur
Sebelum Allah menaikkan kita tanpa bisa kembali.
Sebelum catatan ditutup tanpa kesempatan memperbaiki.
Doa Singkat
“Ya Allah, jangan Engkau cabut cahaya iman dari pemimpin kami,
jangan Engkau bisukan ulama kami,
dan jangan Engkau keraskan hati umat kami.
Angkat kami kepada-Mu dengan taubat,
dan turunkan kami kembali ke bumi dengan amanah.”
Penulis : Suripno si burung Pipit
Editor : Redaksi
Sumber Berita: haikunnews.id







