Pengantar
- Kezaliman secara maknawi adalah pengulangan dari zaman ke zaman sehingga diturunkan nabi-2 sebagai lentera kebenaran.
- Namun demikian tidak semua nabi berhasil membawa umatnya menuju jalan Allah. Manakala hanya sangat sedikit umat yang diselamatkan dan kezaliman menyeruak hampir seluruh masyarakat, maka Allah sendiri yang turun tangan dengan memusnahkan umat tersebut, dan sudah diperingatkan dalam surat An Anfal (25).
- Pada masa itu langkah awal diturunkan para Nabi sebagai pembawa peringatan. Namun saat ini nabi Muhamad sebagai nabi penutup, maka sudah selayaknya ulama dan cendekiawan beriman sebagai penerus risalah kenabian.
- Untuk itu disampaikan topik tersebut untuk kita renungkan maknanya untuk kita amalkan apa kewajiban kita.
I. Makna Kezaliman & Kezaliman Struktural
A. Makna Kezaliman
Secara bahasa, zulm berarti “meletakkan sesuatu tidak pada tempatnya” atau “mengurangi hak”. Imam Ibn Katsir menjelaskan: kezaliman adalah pelanggaran terhadap hak Allah dan hak manusia[1].
Al-Qur’an menegaskan: “Sesungguhnya kezaliman itu adalah kegelapan yang berlapis-lapis pada hari kiamat.” (QS Az-Zumar: 60) [2]
B. Makna Kezaliman Struktural
Kezaliman struktural muncul ketika struktur, sistem, hukum, kebijakan, dan institusi negara secara sengaja atau diam-diam memproduksi ketidakadilan, termasuk:
- Hukum berat sebelah;
- Penegakan hukum selektif;
- Kebijakan publik yang merugikan rakyat banyak demi kepentingan segelintir orang;
- Sistem politik-ekonomi yang menindas.
Imam Al-Ghazali menyebut bentuk ini sebagai “zulm yang dilembagakan” yang kerusakannya lebih besar daripada kezaliman individu[3].
C. Ciri-ciri Kezaliman dan Kezaliman Struktural
- Hak rakyat kecil dipangkas, hak elite diperluas;
- Kebenaran dibungkam, suara pengkritik dibatasi;
- Ulama dan cendekiawan dibeli, dibungkam, atau bergeser menjadi alat legitimasi kekuasaan;
- Kebijakan negara menguntungkan oligarki;
- Korupsi merajalela dianggap normal;
- Aparat hukum tunduk pada kekuasaan, bukan pada keadilan.
II. Dampaknya bagi Bangsa dan Negara
Al-Qur’an memberi pelajaran bahwa keruntuhan bangsa-bangsa terdahulu selalu bermula dari kezaliman yang dilembagakan:
“Maka masing-masing Kami siksa karena dosa-dosanya; di antara mereka ada yang Kami timpakan angin ribut, ada yang diteriakkan suara keras, ada yang Kami benamkan ke dalam bumi — dan Allah tidak menzalimi mereka, tetapi merekalah yang menzalimi diri mereka sendiri.” (QS Al-‘Ankabut: 40) [4]
Dampak kezaliman struktural:
- Hancurnya kepercayaan publik terhadap negara dan hukum.
- Mandeknya ekonomi, karena ketidakpastian hukum dan investasi yang dikendalikan elite.
- Moral society runtuh, masyarakat menormalisasi kejahatan.
- Keadilan sosial hilang, ketimpangan melebar.
- Instabilitas nasional, sebab rakyat kehilangan harapan.
- Turunnya keberkahan, sebagaimana diperingatkan dalam QS Al-A’raf: 96[5].
III. Hubungan Kezaliman, Pemimpin Zalim, dan Ulama/Cendekiawan Su
A. Pemimpin Zalim
Nabi ﷺ bersabda:
“Sesungguhnya manusia akan binasa bila mereka membiarkan orang zalim berbuat zalim.” (HR. Tirmidzi) [6]
Pemimpin zalim melahirkan sistem zalim, kebijakan zalim, aparat zalim.
B. Ulama Su dan Cendekiawan Su
Ulama su (ulama buruk) adalah ulama yang:
- mendiamkan kezaliman,
- membenarkan kebijakan yang salah,
- menjual fatwa demi dunia,
- menipu rakyat dengan dalil agama untuk membela kekuasaan.
Nabi ﷺ memperingatkan:
“Yang paling aku takutkan atas umatku adalah pemimpin yang menyesatkan dan ulama yang buruk.” (HR. Ahmad) [7]
Cendekiawan su adalah intelektual yang memanipulasi data, kajian, atau ilmu untuk kepentingan kekuasaan atau proyek oligarki.
C. Hubungan Keduanya
- Pemimpin zalim butuh legitimasi dari ulama su.
- Ulama su butuh fasilitas dunia dari pemimpin zalim.
- Kezaliman pun berubah menjadi sistemik, berskala nasional, dan menyeret umat dalam kerusakan.
IV. Relevansi dengan Keadaan Zaman Ini
Zaman kini dikatakan zaman n— Bila memenuhi ciri :
- Hukum yang dipelintir demi kekuasaan;
- Pemilu yang kehilangan nilai moral;
- Kebijakan publik yang tidak berpihak pada rakyat;
- Ulama dan intelektual yang lebih memilih diam atau kompromi;
- Pembungkaman kritik;
- Manipulasi opini publik melalui media dan buzzer.
Semua ciri ini sesuai dengan peringatan Rasulullah ﷺ:
“Akan datang suatu zaman ketika kebenaran dianggap dusta, dan dusta dianggap kebenaran.” (HR. Ahmad) [8]
V. Kewajiban Ulama, Akademisi, Praktisi, dan Cendekiawan bila Menjumpsi Ciri zaman edan
Al-Qur’an memberikan tugas yang sangat jelas:
“Hendaklah ada di antara kamu sekelompok umat yang menyeru kepada kebaikan, menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang munkar.” (QS Ali Imran: 104) [9]
Kewajiban mereka:
- Mengatakan kebenaran meski pahit.
- Mencegah kezaliman, bukan mendiamkannya.
- Menjadi saksi kebenaran, bukan alat kekuasaan.
- Mengungatkan dan Meluruskan pemimpin, bukan memuji tanpa batas.
- Menguatkan rakyat, bukan membuat mereka tunduk pada ketidakadilan.
- Mengembalikan moralitas hukum dan akhlak publik.
- Menjadi benteng terakhir di tengah hancurnya integritas lembaga negara.
Nabi ﷺ bersabda: “Sebaik-baik jihad adalah mengucapkan kebenaran di hadapan penguasa yang zalim.” (HR. Abu Dawud) [10]
VI. Sanksi dari Langit Bila Kewajiban Tidak Dipenuhi
Allah memperingatkan bahwa diamnya orang baik lebih berbahaya daripada kezaliman orang zalim:
“Takutlah kalian terhadap fitnah yang tidak hanya menimpa orang-orang zalim di antara kamu, tetapi juga seluruhnya.” (QS Al-Anfal: 25) [11]
Sanksi-sanksi dari langit:
- Dicabutnya keberkahan dari negeri (QS Hud: 52) [12].
- Munculnya pemimpin yang semakin buruk (QS Al-An’am: 129) [13].
- Turunnya azab sosial: ketidakstabilan, kekacauan, bencana moral, krisis ekonomi.
- Ditinggalkan oleh Allah, sehingga kebenaran tidak lagi dibela langit.
- Ulama dan cendekiawan dihukum karena diam, sebagaimana sabda Nabi:
“Ketika manusia melihat kezaliman lalu tidak menghentikannya, hampir saja Allah menimpakan azab kepada seluruhnya.” (HR. Abu Dawud) [14]
VII. Kesimpulan
- Kezaliman — khususnya kezaliman struktural — adalah penyakit besar bangsa yang dapat menghancurkan negara dari dalam.
- Kekuatan kezaliman bukan pada pemimpin zalimnya, tetapi pada diamnya ulama, akademisi, cendekiawan, dan orang-orang baik.
- Bangsa akan bangkit bila penegak moral berani berkata benar di hadapan kekuasaan, mengembalikan sistem hukum kepada kebenaran Allah, dan membela keadilan bagi seluruh rakyat.
- Tanpa itu, sanksi sosial-spiritual dari Allah tidak dapat dihindari.
Catatan Kaki (Format Chicago – ringkas)
[1] Ibn Katsir, Tafsir Ibn Katsir, Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, jilid 1.
[2] QS Az-Zumar: 60, Tafsir Al-Tabari.
[3] Al-Ghazali, Ihya’ Ulumuddin, Bab Zulm.
[4] QS Al-‘Ankabut: 40, Tafsir Al-Qurthubi.
[5] QS Al-A’raf: 96, Tafsir Ibn Katsir.
[6] HR. Tirmidzi, Kitab al-Fitan.
[7] HR. Ahmad, Musnad Ahmad.
[8] HR. Ahmad, bab al-Fitan.
[9] QS Ali Imran: 104, Tafsir Ibn Katsir.
[10] HR. Abu Dawud, Kitab al-Malihim.
[11] QS Al-Anfal: 25, Tafsir Al-Baghawi.
[12] QS Hud: 52.
[13] QS Al-An’am: 129.
[14] HR. Abu Dawud, Kitab al-Fitan.
Penulis : Drs. Suripno. Mstr (Dosen Institut Transportasi dan Logistik di Trisakti)
Editor : Redaksi
Sumber Berita: haikunnews.id







