Isra’ Mi‘Raj: Proses, Makna, dan Implikasi Spiritual-Etis Bagi Umat

Renungan Jumat Berkah 16 Januari 2026

admin

- Redaksi

Jumat, 16 Januari 2026 - 14:58 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Isra’ Mi‘Raj: Proses, Makna, dan Implikasi Spiritual-Etis Bagi Umat. FOTO : Ilustrasi

Isra’ Mi‘Raj: Proses, Makna, dan Implikasi Spiritual-Etis Bagi Umat. FOTO : Ilustrasi

Kata Pengantar

  1. Peristiwa Isra’ Mi‘raj bukan sekadar kisah mukjizat historis, melainkan titik balik spiritual dan peradaban yang mengandung pesan tauhid, disiplin ibadah, serta penguatan amanah kenabian.
  2. Dalam konteks umat dan bangsa, Isra’ Mi‘raj menjadi fondasi etika kepemimpinan, ketundukan hukum, dan kesadaran moral yang bersumber dari langit namun berdampak langsung pada kehidupan dunia

I. Proses Isra’ Mi‘raj Menurut Al-Qur’an dan Hadis

A. Isra’ (Perjalanan Horizontal)

  1. Isra’ adalah perjalanan malam Nabi Muhammad ﷺ dari Masjidil Haram (Makkah) ke Masjidil Aqsha (Yerusalem).
  2. Dalil Al-Qur’an: “Mahasuci (Allah) yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya…”(QS. Al-Isrā’ [17]: 1) [1]
  3. Makna tafsir (Ibn Katsir & Ath-Thabari): Perjalanan ini fisik dan ruhani, bukan mimpi semata..
  4. Menegaskan keterhubungan pusat-pusat tauhid (Makkah– Yerusalem).
  5. Isra’ terjadi dalam kondisi Nabi mengalami tekanan sosial dan psikologis berat (عامالحزن), sebagai penguatan langsung dari Allah [2].

B. Mi‘raj (Perjalanan Vertikal)

  1. Mi‘raj adalah kenaikan Nabi ﷺ menembus lapisan langit hingga Sidratul Muntaha, bertemu para nabi dan menerima perintah shalat.
  2. Dalil Hadis Shahih: Riwayat panjang Isra’ Mi‘raj dalam Shahih Bukhari dan Muslim, termasuk dialog tentang pengurangan jumlah shalat dari 50 menjadi 5, namun bernilai 50 pahala [3].

II. Makna Teologis Isra’ Mi‘raj

A. Peneguhan Tauhid dan Keterbatasan Akal

  1. Isra’ Mi‘raj menunjukkan bahwa akal memiliki batas, dan wahyu adalah pemandu tertinggi. Peristiwa ini menjadi ujian iman: siapa yang tunduk, siapa yang ragu. Peristiwa ini adalah fitnah (ujian) bagi manusia…”(QS. Al-Isrā’ [17]: 60) [4]

III. Makna Spiritual Isra’ Mi‘raj Menurut Imam Al-Ghazali

Pandangan Imam Al-Ghazali menempatkan Isra’ Mi‘raj bukan hanya sebagai kejadian historis, tetapi model perjalanan ruhani manusia menuju Allah.

A. Isra’ sebagai Tazkiyatun Nafs
Menurut Al-Ghazali (dalam Ihya’ ‘Ulum ad-Din):

  1. Isra’ melambangkan penyucian diri dari keterikatan dunia.
  2. Mi‘raj melambangkan kenaikan maqam ruhani menuju makrifat [5].
  3. Shalat yang diwajibkan saat Mi‘raj disebut Al-Ghazali sebagai:
    * “Mi‘raj-nya orang beriman”, yakni sarana naiknya ruh setiap hari menuju Allah melalui khusyuk dan kehadiran hati [6].

IV. Makna Tasawuf Isra’ Mi‘raj Menurut Syekh Abdul Qadir Al-Jaelani

  1. Menurut Syekh Abdul Qadir Al-Jaelani, Isra’ Mi‘raj mengandung pesan penyelarasan syariat, hakikat, dan makrifat.
  2. Dalam Futūḥ al-Ghayb dan Al-Ghunyah dijelaskan:
    * Isra’ = ketaatan lahir (syariat)
    * Mi‘raj = penyaksian batin (hakikat)
    * Sidratul Muntaha = batas makhluk dan awal tajalli Ilahi [7]
  3. Beliau menegaskan: Barang siapa ingin naik kepadaAllah tanpa adab dan syariat, maka ia akan jatuh dalam tipu daya dirinya sendiri.” [8]

V. Shalat sebagai Inti Pesan Isra’ Mi‘raj

Perintah shalat:

  1. Tidak diturunkan di bumi,
  2. Tidak melalui malaikat,
  3. Tetapi langsung di hadirat Allah. Maknanya:
    * Shalat adalah poros peradaban
    * Shalat mendidik disiplin, kejujuran, dan tanggung jawab
    * Shalat mencegah kezaliman pribadi dan struktural (QS. Al-‘Ankabūt [29]: 45) [9]

VI. Relevansi Isra’ Mi‘raj bagi Kehidupan Kontemporer

A. Umum
Isra’ Mi‘raj mengajarkan bahwa:

  1. Kemajuan lahir tanpa kenaikan ruh akan melahirkan krisis moral
  2. Kekuasaan tanpa shalat akan melahirkan kezaliman
  3. Ilmu tanpa sujud akan melahirkan kesombongan

B. Dalam konteks bangsa:

  1. Pemimpin wajib punya mi‘raj batin
  2. Ulama dan cendekiawan wajib menyampaikan kebenaran meski berat
  3. Rakyat wajib menjaga iman agar tidak terseret fitnah zaman

VII. Penutup

  1. Isra’ Mi‘raj adalah undangan ilahi agar manusia tidak berhenti pada bumi, jabatan, dan dunia, tetapi naik dengan adab, iman, dan ibadah.
  2. Shalat menjadi tali penghubung langit dan bumi, pribadi dan masyarakat, etika dan kebijakan.

Catatan Kaki

[1] Al-Qur’an, QS. Al-Isrā’ [17]: 1
[2] Ibn Katsir, Tafsīr al-Qur’ān al-‘Aẓīm, Juz 5
[3] Al-Bukhari, Shahih al-Bukhari, Kitab Ash-Shalah; Muslim, Shahih Muslim
[4] Ath-Thabari, Jāmi‘ al-Bayān, Tafsir QS. Al-Isrā’
[5] Al-Ghazali, Ihya’ ‘Ulum ad-Din, Kitab Asrar Ash-Shalah
[6] Ibid.
[7] Abdul Qadir Al-Jaelani, Futūḥ al-Ghayb, Majlis ke-5
[8] Al-Jaelani, Al-Ghunyah li Thalibi Thariq al-Haqq
[9] Al-Qur’an, QS. Al-‘Ankabūt [29]: 45

Penulis : Suripno si burung Pipit

Editor : Redaksi

Sumber Berita: haikunnews.id

Berita Terkait

Pemimpin Adil dan Beriman vs Pemimpin Zalim dan Tidak Beriman
TAUBAT SEBAGAI FONDASI PEMULIHAN PRIBADI DAN NASIONAL (Berbasis Kitāb at-Taubah Imam Al-Ghazali dan relevansi Dengan Zaman Sekarang)
Futūḥ al-Ghayb Karya Syekh ‘Abd al-Qādir al-Jīlānī: Menata Syahwat, Menundukkan Nafsu, dan Menjaga Kejernihan Ruhani di Zaman Kini
Sirr dan Sirr Al-Asrār: Menjaga Jalan Batin di Tengah Tantangan Zaman Modern
Tubuh–Jiwa sebagai Amanat, “Matilah sebelum Mati”, dan Menjadi Cahaya (dalam Bingkai Tasawuf Maulana Jalaluddin Rumi) serta Relevansinya bagi Krisis Zaman Kini
Metafisika sebagai Fondasi Makna, Etika, dan Ketahanan Jiwa: Integrasi Wahyu, Akal, Rasa, dan Teknologi dalam Menghadapi Zaman Edan (Seri-1)
Hakekat Isra Miraj : Proses, Makna Batin, dan Relevansi Zaman Kini
Hakikat Ilmu dalam Tradisi Ulama Klasik dan Keunggulannya atas Filsafat Ilmu Modern 1
Berita ini 5 kali dibaca
Dilarang Mengambil dan/atau Menayangkan Ulang Sebagian Atau Keseluruhan Artikel di atas untuk Konten Akun Media Sosial Komersil Tanpa Seizin Redaksi HaikunNews.Id.

Berita Terkait

Selasa, 17 Februari 2026 - 19:18 WIB

Pemimpin Adil dan Beriman vs Pemimpin Zalim dan Tidak Beriman

Selasa, 27 Januari 2026 - 19:12 WIB

TAUBAT SEBAGAI FONDASI PEMULIHAN PRIBADI DAN NASIONAL (Berbasis Kitāb at-Taubah Imam Al-Ghazali dan relevansi Dengan Zaman Sekarang)

Selasa, 27 Januari 2026 - 18:59 WIB

Futūḥ al-Ghayb Karya Syekh ‘Abd al-Qādir al-Jīlānī: Menata Syahwat, Menundukkan Nafsu, dan Menjaga Kejernihan Ruhani di Zaman Kini

Minggu, 25 Januari 2026 - 17:47 WIB

Sirr dan Sirr Al-Asrār: Menjaga Jalan Batin di Tengah Tantangan Zaman Modern

Jumat, 23 Januari 2026 - 14:14 WIB

Tubuh–Jiwa sebagai Amanat, “Matilah sebelum Mati”, dan Menjadi Cahaya (dalam Bingkai Tasawuf Maulana Jalaluddin Rumi) serta Relevansinya bagi Krisis Zaman Kini

Berita Terbaru

Pemimpin Adil dan Beriman vs Pemimpin Zalim dan Tidak Beriman. FOTO : Ilustrasi

Tarbiyah

Pemimpin Adil dan Beriman vs Pemimpin Zalim dan Tidak Beriman

Selasa, 17 Feb 2026 - 19:18 WIB