Kata Pengantar
- Peristiwa Isra’ Mi‘raj bukan sekadar kisah mukjizat historis, melainkan titik balik spiritual dan peradaban yang mengandung pesan tauhid, disiplin ibadah, serta penguatan amanah kenabian.
- Dalam konteks umat dan bangsa, Isra’ Mi‘raj menjadi fondasi etika kepemimpinan, ketundukan hukum, dan kesadaran moral yang bersumber dari langit namun berdampak langsung pada kehidupan dunia
I. Proses Isra’ Mi‘raj Menurut Al-Qur’an dan Hadis
A. Isra’ (Perjalanan Horizontal)
- Isra’ adalah perjalanan malam Nabi Muhammad ﷺ dari Masjidil Haram (Makkah) ke Masjidil Aqsha (Yerusalem).
- Dalil Al-Qur’an: “Mahasuci (Allah) yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya…”(QS. Al-Isrā’ [17]: 1) [1]
- Makna tafsir (Ibn Katsir & Ath-Thabari): Perjalanan ini fisik dan ruhani, bukan mimpi semata..
- Menegaskan keterhubungan pusat-pusat tauhid (Makkah– Yerusalem).
- Isra’ terjadi dalam kondisi Nabi mengalami tekanan sosial dan psikologis berat (عامالحزن), sebagai penguatan langsung dari Allah [2].
B. Mi‘raj (Perjalanan Vertikal)
- Mi‘raj adalah kenaikan Nabi ﷺ menembus lapisan langit hingga Sidratul Muntaha, bertemu para nabi dan menerima perintah shalat.
- Dalil Hadis Shahih: Riwayat panjang Isra’ Mi‘raj dalam Shahih Bukhari dan Muslim, termasuk dialog tentang pengurangan jumlah shalat dari 50 menjadi 5, namun bernilai 50 pahala [3].
II. Makna Teologis Isra’ Mi‘raj
A. Peneguhan Tauhid dan Keterbatasan Akal
- Isra’ Mi‘raj menunjukkan bahwa akal memiliki batas, dan wahyu adalah pemandu tertinggi. Peristiwa ini menjadi ujian iman: siapa yang tunduk, siapa yang ragu. Peristiwa ini adalah fitnah (ujian) bagi manusia…”(QS. Al-Isrā’ [17]: 60) [4]
III. Makna Spiritual Isra’ Mi‘raj Menurut Imam Al-Ghazali
Pandangan Imam Al-Ghazali menempatkan Isra’ Mi‘raj bukan hanya sebagai kejadian historis, tetapi model perjalanan ruhani manusia menuju Allah.
A. Isra’ sebagai Tazkiyatun Nafs
Menurut Al-Ghazali (dalam Ihya’ ‘Ulum ad-Din):
- Isra’ melambangkan penyucian diri dari keterikatan dunia.
- Mi‘raj melambangkan kenaikan maqam ruhani menuju makrifat [5].
- Shalat yang diwajibkan saat Mi‘raj disebut Al-Ghazali sebagai:
* “Mi‘raj-nya orang beriman”, yakni sarana naiknya ruh setiap hari menuju Allah melalui khusyuk dan kehadiran hati [6].
IV. Makna Tasawuf Isra’ Mi‘raj Menurut Syekh Abdul Qadir Al-Jaelani
- Menurut Syekh Abdul Qadir Al-Jaelani, Isra’ Mi‘raj mengandung pesan penyelarasan syariat, hakikat, dan makrifat.
- Dalam Futūḥ al-Ghayb dan Al-Ghunyah dijelaskan:
* Isra’ = ketaatan lahir (syariat)
* Mi‘raj = penyaksian batin (hakikat)
* Sidratul Muntaha = batas makhluk dan awal tajalli Ilahi [7] - Beliau menegaskan: Barang siapa ingin naik kepadaAllah tanpa adab dan syariat, maka ia akan jatuh dalam tipu daya dirinya sendiri.” [8]
V. Shalat sebagai Inti Pesan Isra’ Mi‘raj
Perintah shalat:
- Tidak diturunkan di bumi,
- Tidak melalui malaikat,
- Tetapi langsung di hadirat Allah. Maknanya:
* Shalat adalah poros peradaban
* Shalat mendidik disiplin, kejujuran, dan tanggung jawab
* Shalat mencegah kezaliman pribadi dan struktural (QS. Al-‘Ankabūt [29]: 45) [9]
VI. Relevansi Isra’ Mi‘raj bagi Kehidupan Kontemporer
A. Umum
Isra’ Mi‘raj mengajarkan bahwa:
- Kemajuan lahir tanpa kenaikan ruh akan melahirkan krisis moral
- Kekuasaan tanpa shalat akan melahirkan kezaliman
- Ilmu tanpa sujud akan melahirkan kesombongan
B. Dalam konteks bangsa:
- Pemimpin wajib punya mi‘raj batin
- Ulama dan cendekiawan wajib menyampaikan kebenaran meski berat
- Rakyat wajib menjaga iman agar tidak terseret fitnah zaman
VII. Penutup
- Isra’ Mi‘raj adalah undangan ilahi agar manusia tidak berhenti pada bumi, jabatan, dan dunia, tetapi naik dengan adab, iman, dan ibadah.
- Shalat menjadi tali penghubung langit dan bumi, pribadi dan masyarakat, etika dan kebijakan.
Catatan Kaki
[1] Al-Qur’an, QS. Al-Isrā’ [17]: 1
[2] Ibn Katsir, Tafsīr al-Qur’ān al-‘Aẓīm, Juz 5
[3] Al-Bukhari, Shahih al-Bukhari, Kitab Ash-Shalah; Muslim, Shahih Muslim
[4] Ath-Thabari, Jāmi‘ al-Bayān, Tafsir QS. Al-Isrā’
[5] Al-Ghazali, Ihya’ ‘Ulum ad-Din, Kitab Asrar Ash-Shalah
[6] Ibid.
[7] Abdul Qadir Al-Jaelani, Futūḥ al-Ghayb, Majlis ke-5
[8] Al-Jaelani, Al-Ghunyah li Thalibi Thariq al-Haqq
[9] Al-Qur’an, QS. Al-‘Ankabūt [29]: 45
Penulis : Suripno si burung Pipit
Editor : Redaksi
Sumber Berita: haikunnews.id







