Kata Pengantar
- Ulama banyak mengulas Mi‘raj karena di sanalah diwajibkan shalat dan terbuka pembahasan maqām ruhani.
- Namun Isra’ justru menyimpan kode besar yang lebih sosial–peradaban:
* perpindahan misi,
* penghubung warisan kenabian, serta
* ujian iman publik. - Al-Qur’an sendiri menamai peristiwa ini dengan penekanan pada Isra’: memperjalankan hamba-Nya… dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha. (QS 17:1).
- Itu isyarat bahwa hakekat Isra’ bukan sekadar perjalanan cepat, melainkan perjalanan makna.
I. Proses Kejadian Isra’ Menurut Al-Qur’an, Tafsir, Hadis, dan Ulama Klasik
A. Basis Al-Qur’an
- Al-Qur’an menyebut Isra’ secara eksplisit:
Mahasuci (Allah) yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya… (QS Al-Isrā’ [17]: 1) [1] - Dua poin penting yang ditekankan ayat ini dan dipertegas ulama tafsir:
* Pelakunya disebut “ʿabdihi” (hamba-Nya) — menonjolkan ubudiyah (penghambaan total). [2]
* Tujuannya disebut Masjidil Aqsha dan “yang Kami berkahi sekelilingnya” — menonjolkan barakah, warisan kenabian, dan pusat misi. [3]
B. Riwayat Hadis Shahih tentang Rangkaian Isra
Dalam riwayat panjang yang masyhur (Bukhari–Muslim), garis besarnya:
- Nabi ﷺ didatangi (oleh malaikat), dinaikkan kendaraan (Buraq), lalu diperjalankan malam menuju Baitul Maqdis.
- Setibanya di sana, Nabi ﷺ shalat (dalam sejumlah riwayat: mengimami para nabi), kemudian berlanjut ke Mi‘raj. [4]
Catatan: detail teknis (urutan “pembelahan dada”, lokasi awalnya, dan sebagian rincian) memiliki variasi riwayat; ulama hadis menilai rangka besar peristiwa mutawatir maknawi (diriwayatkan banyak jalur dengan makna pokok yang sama). [5]
C. Apakah Isra’ Jasmani atau Ruhani? (Poin yang Dikupas Ulama Klasik)
- Mayoritas ulama Ahlus Sunnah menegaskan Isra’ terjadi dengan jasad dan ruh (bukan mimpi semata), dengandalil:
* QS 17:1 memakai “hamba” (umumnya menunjuk manusia secara utuh), dan redaksi “asrā bi-ʿabdihi” menunjukkan tindakan nyata Allah. [2]
* Riwayat uji publik Quraisy: mereka menuntut penjelasan ciri-ciri Baitul Maqdis; ini menunjukkan peristiwa dipahami sebagai perjalanan nyata, bukan mimpi biasa. [6] - Sebagian ulama menyebut adanya pembahasan minoritas tentang “ruhani” atau “mimpi” pada sebagian aspek, tetapi arus utama tafsir klasik (misalnya Ath-Tabari, Ibn Katsir, Al-Qurthubi) condong pada jasad–ruh untuk Isra’ (dan Mi‘raj), dengan variasi penjelasan. [2][3][6]
II. Hakekat Peristiwa Isra’ Menurut Ulama Klasik (Lebih dari Sekadar “Perjalanan Cepat”)
Berikut beberapa “hakekat” Isra’ yang kuat dalam jejak tafsir, syarah hadis, dan nalar ulama klasik:
A. Isra’ adalah “Perjalanan Penghambaan” (Ubudiyah) sebelum “Perjalanan Kenaikan”
- Al-Qur’an menyebut Nabi ﷺ sebagai hamba saat Isra’. Ulama menegaskan: kemuliaan tertinggi manusia bukan gelar sosial, melainkan ʿubūdiyyah. Karena itu, Isra’ adalah pelajaran bahwa jalan menuju “kenaikan” (Mi‘raj) didahului oleh ketundukan sempurna. [2]
- Hakekatnya: sebelum bicara maqām spiritual tinggi, seseorang harus “lulus” pada maqām hamba: ikhlas, patuh, sabar, dan bersih dari klaim diri.
B. Isra’ adalah “Pengikatan” Warisan Kenabian (Rantai Risalah)
- Mengapa harus ke Masjidil Aqsha? Ulama menafsirkannya sebagai:
* Penghubung simbolik dan historis antara risalah Nabi Muhammad ﷺ dengan jejak para nabi Bani Israil dan bumi yang diberkahi. [3]
* Penegasan bahwa Islam bukan agama baru yang terputus, tetapi kelanjutan tauhid Ibrahim dan para nabi. [3] - Jika dalam riwayat Nabi ﷺ mengimami para nabi, maka makna batinnya lebih tegas: kepemimpinan risalah ditutup dan disempurnakan pada Nabi ﷺ, namun tetap menghormati seluruh mata rantai kenabian. [4]
C. Isra’ adalah “Pemindahan Poros Peradaban”: dari Kesedihan ke Mandat Misi
- Banyak ulama sirah menempatkan Isra’ Mi‘raj setelah masa duka dan tekanan (عام الحزن). Dalam bingkai ini, Isra’ adalah:
* Penguatan langsung dari Allah,
* sekaligus “penegasan mandat” bahwa Nabi ﷺ tidak berhenti pada luka, tetapi bergerak menuju misi universal. [7] - Hakekatnya: Isra’ mengajarkan bahwa krisis bukan akhir; ia bisa menjadi “titik pindah” menuju tugas yang lebih besar.
D. Isra’ adalah “Ujian Iman Publik” dan Pemisah Kejujuran Sikap
- Al-Qur’an memberi isyarat bahwa peristiwa ini menjadi ujian (fitnah) bagi manusia (QS 17:60).
- Ulama menjelaskan: Isra’ menguji siapa yang:
* tunduk pada kabar dari Rasul ﷺ,
*atau menolak karena logika kebiasaan dan tekanan sosial. [8] - Hakekatnya: Isra’ bukan hanya mukjizat, tapi juga alat ukur: iman yang jujur vs iman yang bersyarat “masuk akal menurut standar dunia”.
E. Isra’ menegaskan “Masjid sebagai Pusat Peradaban”, bukan hanya Tempat Ritual
- Dua titik Isra’ adalah dua masjid: Masjidil Haram dan Masjidil Aqsha. Tafsir klasik memaknai masjid bukan sekadar
- bangunan, melainkan:
* pusat tauhid,
* pusat pendidikan ruhani,
* pusat etika sosial, dan
* pusat perlawanan terhadap syirik dan kezaliman. [3] - Hakekatnya: agama tidak boleh dipersempit menjadi ibadah privat; ia punya poros sosial-peradaban.
F. Isra’ sebagai “Isyarat Kesatuan Umat” dan Bahaya Perpecahan
- Dengan menghubungkan dua masjid, Isra’ menyatukan arah: satu Tuhan, satu garis tauhid, satu amanah. Ini mengandung pesan klasik yang relevan: umat rusak ketika tercerai dari poros tauhid dan adab, sekalipun ritual ramai.
III. Relevansi Isra’ dengan Zaman Sekarang (Hubungannya dengan Krisis Modern)
A. Di Zaman “Cepat”, Isra’ Mengajarkan Arah (Bukan Sekadar Kecepatan)
Dunia modern memuja kecepatan: informasi, mobilitas, karier. Isra’ mengingatkan:
- cepat tanpa arah adalah kesesatan terselubung,
- maju tanpa ubudiyah adalah kehampaan.
- Pesan praktis: “Isra’ zaman kini” adalah kemampuan berpindah dari orientasi diri menuju orientasi amanah—dari yang haram menuju yang diberkahi.
B. Isra’ sebagai Kritik Halus bagi Peradaban yang Memisahkan Ibadah dan Keadilan
- Dua masjid adalah simbol: ibadah (ritual) harus terhubung dengan amanah sosial.
- Jika masjid ramai tetapi kebijakan zalim, korupsi subur, dan dusta dinormalisasi—maka umat sedang kehilangan “hakekat Isra’”.
C. Isra’ sebagai Ujian Kejujuran?
- Ulama– Cendekiawan di Era Tekanan QS 17:60 menegaskan ujian. Hari ini, ujian itu hadir dalam bentuk:
* takut kehilangan posisi,
* takut tidak disukai,
* takut “berbeda”. - Hakekat Isra’ untuk mereka: berani jujur pada kebenaran walau mahal, karena iman bukan sekadar pengetahuan, tetapi kesetiaan.
D. Isra’ sebagai Peta Ketahanan Jiwa saat Krisis
- Isra’ terjadi pada malam: simbol kesunyian, ketidakpastian, dan fase gelap.
- Zaman kini penuh “malam sosial”: bencana, ketidakadilan, kebisingan informasi, polarisasi. Isra’ memberi pola:
* bertahan dengan ubudiyah,
* bergerak menuju pusat berkah,
* lalu kembali memikul amanah di bumi.
IV. Penutup
- Jika Mi‘raj sering dipahami sebagai “naik menuju Allah”, maka Isra’ adalah pelajaran besar tentang berpindah di bumi’ dengan
- bimbingan Allah: dari pusat ritual menuju pusat amanah, dari kesedihan menuju mandat, dari identitas sempit menuju warisan tauhid yang menyatukan.
- Isra’ mengajarkan: peradaban hanya akan naik jika arah perjalanannya benar—dari yang profan menuju yang sakral, dari ego menuju amanah, dari kebiasaan menuju kebenaran.
Catatan Kaki
[1] Al-Qur’an, QS. Al-Isrā’ [17]: 1.
[2] Ath-Tabari, Jāmiʿ al-Bayān ʿan Ta’wīl Āy al-Qur’ān, tafsir QS 17:1 (penjelasan makna “asrā bi-ʿabdihi” dan penegasan peristiwa Isra’).
[3] Al-Qurthubi, Al-Jāmiʿ li Aḥkām al-Qur’ān, tafsir QS 17:1 (makna Masjidil Aqsha, “baraknā ḥaulahū”, dan hikmah penghubung dua masjid).
[4] Al-Bukhari, Ṣaḥīḥ al-Bukhārī, Kitāb al-Ṣalāh / Bad’ al-Khalq (riwayat Isra’ Mi‘raj); Muslim, Ṣaḥīḥ Muslim, Kitāb al-Īmān (riwayat Isra’ Mi‘raj).
[5] Ibn Hajar al-ʿAsqalānī, Fatḥ al-Bārī, syarah hadis Isra’ Mi‘raj (keterangan banyaknya jalur riwayat dan kerangka peristiwa).
[6] Ibn Katsir, Tafsīr al-Qur’ān al-ʿAẓīm, tafsir QS 17:1 (penegasan Isra’ sebagai peristiwa nyata dan pembahasan bantahan terhadap anggapan “mimpi semata”).
[7] Ibn Ishaq (melalui Ibn Hisham), Sīrat Ibn Hishām (konteks tekanan dakwah dan posisi Isra’ Mi‘raj dalam alur penguatan misi).
[8] Ath-Tabari dan/atau Al-Qurthubi, tafsir QS Al-Isrā’ [17]: 60 (makna fitnah/ujian dalam “ru’yā” dan kaitannya dengan ujian iman masyarakat)
Penulis : Suripno si burung Pipit
Editor : Redaksi
Sumber Berita: haikunnews.id







