Kata Pengantar
- Dalam.beberapa hari ini, kita renungkan konsep filsafat ilmu dari barat dihubungkan dengan nilai langit, berikut kita renungkan dan gali khasanan ilmu kasampurnan dari bumi nusantara, yaitu konsep guru sejati disertai padanannya dalam ajaran islam.
- Bangsa yang besar memerlukan tuntunan yang bukan hanya rasional dan teknokratis, tetapi juga spiritual dan batiniah.
- Di tengah gejolak zaman modern yang penuh kebohongan, fitnah kekuasaan, hancurnya nilai-nilai luhur, dan dominasi materi atas makna, masyarakat Jawa mengenal kondisi ini sebagai zaman edan.
- Sebuah masa di mana yang benar tampak salah, yang salah dibela-bela, dan yang waras harus rela minggir agar tidak tergilas.
- Di tengah gelombang zaman seperti itu, falsafah Jawa menawarkan satu konsep luhur: Guru Sejati. Ia bukan guru luar, bukan pula tokoh publik, melainkan penuntun ruhani yang bersemayam dalam diri manusia yang membisikkan kebenaran, menyinari hati, dan menuntun manusia kembali kepada Gusti.
- Dalam Islam, konsep ini sejalan dengan pemahaman tentang qalbu, sirr, dan nur Allah yang membimbing manusia di tengah gelapnya fitnah akhir zaman.
I. Hakikat Guru Sejati dalam Falsafah Jawa
- Guru sejati adalah sumber bimbingan hakiki yang berasal dari dalam diri, bukan dari luar. Konsep ini senafas dengan:
a. Nur Sejati (cahaya hakikat)
b. Urip kang Sejati (kehidupan sejati)
c. Sangkan Paraning
Dumadi (asal dan tujuan penciptaan)
d. Manunggaling kawula-Gusti (penyatuan hamba dengan Tuhannya) - Ajaran ini banyak dijumpai dalam karya-karya spiritual Jawa seperti Serat Wedhatama, Serat Centini, Serat Kalatidha, dan Suluk Malang Sumirang—yang pada hakikatnya merupakan ekspresi lokal dari jalan tasawuf.
- Sunan Kalijaga, tokoh utama Islamisasi Jawa, menggunakan simbol dan budaya lokal untuk menyampaikan nilai-nilai tauhid. Ia mengajarkan bahwa kebenaran tidak selalu ditemukan di luar, tetapi bisa dijumpai dalam keheningan batin dan penyucian diri.
- Hakekat guru sejati adalah unsur terdalam dalam diri kita yang menuntun ke jalan lurus dan benar kembali ke Asal, namun terdapat hijab ysng menutupinya.
- Guru sejati akan timbul bila hijab tersebut tersingkap melalui :
1). pencucian jiwa
2). Tirakat atau lelaku
3). Olah roso menuju : roso sajroning roso
II. Padanannya dalam Ajaran Islam
A. Qalbu
- Qalbu sebagai pusat cahaya dan petunjuk Al-Qur’an menyebut bahwa hati (qalbu) adalah pusat pemahaman spiritual: Bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta ialah hati yang di dalam dada. (QS. Al-Hajj: 46)
- Dalam tafsir Ibn Kathir dan al-Maraghi, dijelaskan bahwa qalbu yang mati adalah qalbu yang telah tertutup dari kebenaran6y atau qslbu yang terkunci mati sehingga diingatkan atau todsk diingatkan sa saja. Sementara qalbu yang hidup adalah tempat turunnya nur hidayah.
B. Sirr:
- Sirr adalah rahasia ruhani terdalam. Ulama tasawuf seperti Imam Al-Ghazali dan Imam Qusyairi menyebut adanya sirr—lapisan terdalam dari qalbu, tempat turunnya cahaya makrifat.
- Sirr inilah yang dekat dengan konsep guru sejati dalam falsafah Jawa. Ia bukan akal, bukan emosi, tapi intuisif, hening, dan penuh hikmah.
C. Hadis:
- Mengenal Diri, Mengenal Tuhan Man ‘arafa nafsahu faqad ‘arafa Rabbahu. Barangsiapa mengenal dirinya, maka ia mengenal Tuhannya. (Hadis mauquf yang diterima luas di kalangan sufi)
- Hadis ini menjadi jembatan langsung antara konsep guru sejati (pengenalan diri batiniah) dan jalan menuju Tuhan dalam Islam. Karena untuk mengenal Allah, kita harus lebih dahulu menyingkap tabir dalam diri: hawa nafsu, kesombongan, dan hijab-hijab dunia.
III. Zaman Edan dan Kehadiran Guru Sejati
1. Dalam falsafah Jawa, zaman edan adalah masa ketika:
- Orang jujur dianggap bodoh, yang culas justru6 dipuja.
- Kekuasaan dibeli dengan uang, bukan amanah.
- Hukum dipakai sebagai alat kuasa, bukan keadilan.
- Ulama dan cendekiawan diam terhadap kezaliman.
2. Di tengah dunia yang sudah terbalik ini, manusia yang ingin selamat harus kembali pada guru sejatinya, yaitu cahaya kebenaran dalam dirinya yang tak bisa dibeli atau dibungkam.
3. Serat Kalatidha (oleh R. Ng. Ranggawarsita) menulis:
_Zaman edan, yen ora edan ora keduman, sak begjo-begjoning wong lali, isih begjo wong eling lan waspodo
Artinya: Di zaman gila, kalau tidak ikut gila tak dapat bagian, tetapi betapapun untungnya orang lupa diri, masih lebih beruntung orang yang sadar dan waspada Barang siapa tetap sadar dan waspada, maka akan selamat meniti buih dalsm zaman edan karena. Eling lan waspada (sadar akan dirinya untuk apa dia hidup dan kemana akan kembali serta waspada akan godaan syaitan). Maka guru sejati dalam zaman edan adalah:
* Qalbu yang jernih
* Ruh yang terhubung pada Allah
* Sirr yang menyala oleh zikir
* Hati yang menolak suap dunia demi keselamatan akhirat
IV. Penutup : Urgensi Membuka Pintu Guru Sejati Zaman Ini
- Dalam ajaran Islam, Al-Qur’an menggambarkan betapa banyak manusia mengikuti syaitan dan hawa nafsu, sehingga kehilangan petunjuk dari dalam dirinya: Mereka mempunyai hati, tetapi tidak mereka gunakan untuk memahami…(QS. Al-A’raf: 179)
- Imam Al-Ghazali menyebut bahwa orang yang hanya menggunakan akal untuk dunia, tapi tidak menyucikan qalbunya, ibarat orang membangun rumah di tepi jurang. Sebaliknya, orang yang menyadari adanya guru sejati dalam dirinya akan:
* Memeriksa terus bisikan hatinya
* Tidak terpedaya bujuk kekuasaan
* Menangis bila jauh dari Allah
* Menjadikan hidup sebagai perjalanan pulang (sangkan paraning dumadi)
Catatan Kaki
[1] Serat Wedhatama (Mangkunegara IV), bagian “Pupuh Pangkur”, menyebut guru sejati sebagai pamomong urip sejati.
[2] QS. Al-Hajj: 46; Tafsir Ibn Kathir menjelaskan bahwa hati adalah alat untuk merenungi hakikat, bukan sekadar berpikir logis.
[3] Hadis man ‘arafa nafsahu digunakan oleh sufi seperti al-Junaid, al-Hallaj, dan al-Ghazali dalam membimbing murid mereka.
[4] Serat Kalatidha oleh Ranggawarsita adalah puisi filsafat Jawa akhir yang menubuatkan zaman edan.
[5] Al-Ghazali, Ihya’ Ulumiddin, menjelaskan struktur hati dan tangga makrifat dalam pencarian ruhani.
[6] QS. Al-A’raf: 179 menjadi peringatan bahwa banyak manusia hidup dalam kelalaian karena hatinya tidak digunakan untuk bertafakkur.
Penulis : Suripno si burung Pipit
Editor : Redaksi
Sumber Berita: haikunnews.id







