1. PBB Laporkan Kekerasan di Sudan Terus Berlanjut
Pada 12 November 2025 dilaporkan pernyataan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang mengonfirmasi bahwa kekerasan di Sudan terus berlanjut di wilayah Darfur Utara dan Kordofan. Hal itu memperburuk krisis kemanusiaan yang telah berlangsung sejak lama di Sudan. Situasi di Darfur Utara memburuk setelah kota El Fasher direbut Pasukan Dukungan Cepat (RSF) pada bulan Oktober 2025.
Kantor Koordinasi Urusan Kemanusiaan PBB (OCHA) juga menekankan, bentrokan menyebabkan warga sipil terjebak dan bantuan kemanusiaan sulit disalurkan. Organisasi Internasional untuk Migrasi (IOM) melaporkan sekitar 89 ribu telah mengungsi dari El Fasher dan desa-desa sekitarnya, dan sebagian besar dari para pengungsi mencari perlindungan di wilayah Tawila, Melit, dan Saraf Omra.
IOM bersama PBB berupaya menyediakan bantuan berupa makanan, air bersih, layanan sanitasi, perawatan kesehatan, dan dukungan psikososial. Namun, kebutuhan di lapangan masih jauh melebihi kapasitas yang tersedia. Sejumlah pengungsi dari El Fasher dilaporkan melarikan diri ke arah barat menuju Tina, dekat perbatasan Sudan dan Chad.
Lebih dari 3.000 pengungsi di wilayah dimaksud dilaporkan sangat membutuhkan bantuan makanan, tempat tinggal, dan layanan medis. Di sisi lain, komunitas lokal di Chad bagian timur sudah kewalahan menampung pengungsi dari Sudan. Padahal, wilayah itu kemungkinan bakal kedatangan gelombang pengungsi tambahan dari negara tetangganya.
Sementara itu, OCHA kembali mendesak penghentian segera atas semua bentuk kekerasan di Sudan, dan meminta perlindungan bagi warga sipil dan pekerja kemanusiaan. Dalam kaitan itu, OCHA menegaskan pentingnya akses yang aman dan tanpa hambatan bagi penyaluran bantuan.
Bantuan itu diharapkan dapat menjangkau seluruh wilayah Sudan yang masih terdampak konflik. Sebagai catatan, analis dari Universitas Yale menunjukkan indikasi pembuangan massal jenazah di El Fasher, disamping jalur pelarian utama – yang sebelumnya digunakan warga untuk melarikan diri – telah ditutup.
2. IOM Desak Dunia Bertindak Atasi Krisis Sudan
Pada 12 November 2025 dilaporkan pernyataan Organisasi Internasional untuk Migrasi (IOM) yang menyerukan tindakan mendesak untuk membantu jutaan warga sipil yang terdampak perang di Sudan. Hal itu telah pula disampaikan oleh Direktur Jenderal (Dirjen) IOM, Amy Pope, yang telah tiba di Sudan untuk meninjau langsung respon kemanusiaan di Sudan. Dalam kaitan itu, ditekankan perlunya langkah cepat dari komunitas internasional, dilansirlebih dari 30 juta orang kini membutuhkan bantuan dan sekitar 10 juta orang telah mengungsi di dalam negeri akibat konflik.
Sementara itu, Komite Darurat Tawila di Darfur Utara melaporkan kebakaran besar yang terjadi di kamp pengungsian Dali, yang menghancurkan harta benda para pengungsi yang sudah kehilangan tempat tinggal. Komite tersebut menyerukan bantuan segera dari organisasi kemanusiaan untuk menolong keluarga yang terdampak. Sebagai catatan, perang di Sudan pecah sejak 15 April 2023 antara tentara nasional Sudan dan pasukan paramiliter Rapid Support Forces (RSF).
Upaya mediasi regional maupun internasional sejauh ini gagal mengakhiri pertempuran yang telah menewaskan ribuan orang dan memaksa jutaan lainnya mengungsi. Situasi semakin memburuk pada akhir bulan Oktober 2025, ketika RSF berhasil merebut kota El-Fasher, ibu kota negara bagian Darfur Utara. Menurut organisasi lokal serta internasional, pasukan tersebut melakukan pembantaian berbasis etnis di wilayah dimaksud. Perang berkepanjangan dimaksud menyebabkan krisis kemanusiaan besar, dan IOM kembali mendesak dunia bertindak sebelum situasi semakin memburuk.
Editor : Redaksi
Sumber Berita: Kementerian Luar Negeri
Halaman : 1 2 3 4 Selanjutnya







