Program ini mengintegrasikan pemberdayaan perempuan penenun, pengembangan produk tenun tradisional, serta pemanfaatan energi terbarukan untuk mendukung akses air bersih bagi masyarakat.
Sebelum program berjalan, sebagian penenun menghadapi keterbatasan modal, akses bahan baku, dan pemasaran. Mereka disebut hanya menerima upah sekitar Rp25.000 per lembar kain serta bergantung pada pengepul dalam penjualan produk.
Melalui Galeri Mina Tenun, para penenun mendapatkan dukungan bahan baku, motif, alat produksi, dan pemasaran. Skema pembayaran setelah kain selesai diproduksi juga membantu mempercepat perputaran modal. Penghasilan penenun kini dapat mencapai minimal Rp750.000 per lembar setelah memperhitungkan modal kain.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
VP Community Involvement Development Pertamina Patra Niaga, Dian Hapsari Firasati, mengatakan program ini dirancang untuk memperkuat potensi ekonomi lokal sekaligus meningkatkan kemandirian perempuan.
“Melalui Galeri Mina Tenun, kami berupaya membuka akses ekonomi yang lebih baik bagi perempuan penenun, sekaligus mengembangkan potensi lokal melalui inovasi yang mengintegrasikan budaya dan energi terbarukan,” ujar Dian.
Selain pengembangan usaha tenun, Mina Tenun menghadirkan inovasi alat tenun bukan mesin (ATBM) yang dimodifikasi untuk menghasilkan energi listrik dari gerakan mekanisnya. Energi tersebut dimanfaatkan untuk mendukung pompa air dan sistem filtrasi, dengan dukungan pembangkit listrik tenaga bayu (PLTB) dan tenaga surya (PLTS) melalui program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) Pertamina Patra Niaga.
Melalui program ini, Pertamina Patra Niaga mendorong tenun tradisional berkembang sebagai bagian dari ekonomi kreatif yang memberikan nilai tambah, membuka peluang usaha, serta menjaga kelestarian budaya lokal.
Inisiatif tersebut sekaligus menjadi bagian dari komitmen perusahaan dalam memperkuat pemberdayaan ekonomi masyarakat dan mendukung keberlanjutan lingkungan.
Editor : Tim Redaksi
Sumber Berita: HaikunNews








