NEW YORK – Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), António Guterres, mengeluarkan seruan keras kepada pihak-pihak yang bertikai di Sudan untuk segera menghentikan permusuhan. Desakan ini muncul seiring dengan konflik bersenjata yang kini resmi memasuki tahun ketiga dan bertepatan dengan pergantian tahun baru 2026.
Juru Bicara Sekjen PBB, Stephane Dujarric, mengonfirmasi pada Selasa (30/12/2025) bahwa PBB meminta Angkatan Bersenjata Sudan (SAF) dan Pasukan Pendukung Cepat (RSF) untuk mengedepankan kompromi demi keselamatan rakyat sipil.
“Sekjen menekankan pentingnya mencapai perdamaian segera. Kami mendesak kedua belah pihak untuk menyepakati penghentian permusuhan dan berupaya menuju gencatan senjata permanen,” ujar Dujarric dalam keterangan resminya.
Dorongan untuk Pemerintahan Sipil
Langkah diplomatik ini diambil menyusul inisiatif perdamaian yang diajukan oleh Perdana Menteri Transisi Sudan dalam pertemuan Dewan Keamanan PBB pekan lalu. PBB mendesak agar para pemimpin militer yang berkonflik mampu merumuskan visi bersama untuk mengembalikan kekuasaan kepada pemerintahan yang dipimpin sipil (transisi sipil), sembari menjaga keutuhan wilayah dan persatuan Sudan.
Utusan Pribadi Sekjen PBB untuk Sudan, Ramtane Lamamra, menyatakan komitmennya untuk terus memfasilitasi konsultasi dengan kedua pihak guna mencapai resolusi perdamaian yang inklusif dan berkelanjutan.
Krisis Kemanusiaan dan Keamanan yang Akut
Situasi di lapangan dilaporkan kian mengkhawatirkan. Dewan Keamanan PBB menerima laporan mengenai peningkatan serangan pesawat tak berawak (drone), pengungsian massal, serta insiden pembunuhan pasukan penjaga perdamaian.
Bersamaan dengan meningkatnya ketegangan, misi perdamaian PBB secara resmi telah menyelesaikan evakuasi pangkalan logistiknya di wilayah Kadugli, Kordofan Selatan. Langkah ini menandai berakhirnya operasi pasukan penjaga perdamaian di lokasi tersebut setelah hampir 13 tahun bertugas.
Dampak Perang bagi Rakyat Sudan
Hingga akhir tahun 2025, perang antara SAF dan RSF telah memberikan dampak yang menghancurkan:
- Korban Jiwa: Ribuan warga sipil tewas akibat kontak senjata.
- Pengungsian: Jutaan orang terpaksa meninggalkan rumah mereka, menciptakan krisis pengungsi terbesar di kawasan tersebut.
- Kelaparan: PBB memperingatkan adanya kondisi kelaparan akut di beberapa wilayah akibat terhambatnya akses bantuan kemanusiaan.
PBB memperingatkan bahwa tanpa adanya kompromi politik segera, pertempuran yang semakin intensif ini tidak hanya akan menghancurkan masa depan Sudan, tetapi juga mengancam stabilitas kawasan di tahun-tahun mendatang.
Editor : Redaksi
Sumber Berita: KBRI







