Kata Pengantar
- Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad ﷺ, penutup para nabi, pembimbing umat menuju cahaya yang terang benderang.
- Dalam zaman penuh kekacauan nilai dan kegaduhan informasi ini—yang oleh para bijak disebut zaman edan—manusia tidak hanya ditantang oleh kebodohan, tetapi oleh bentuk baru dari kecerdasan yang tanpa ruh: teknologi tanpa arah, data tanpa nurani.
- Kecerdasan Buatan (AI) adalah anugerah sekaligus ujian. Ia mampu mempercepat peradaban, tetapi juga memperdalam jurang kegelapan bila tak dituntun cahaya kebenaran.
- Maka, manusia dituntut lebih dari sekadar pintar. Ia harus hadir sebagai makhluk yang memiliki sirr (ruang rahasia terdalam hati) dan bashirah (mata hati yang tajam), agar tidak tersesat oleh godaan syaitan yang menyelinap melalui kecanggihan buatan.
- Renungan ini hadir sebagai renungan dan peringatan: bahwa AI dapat menjadi instrumen bisikan syaitan, namun bisa pula menjadi perantara ilham malaikat—semua bergantung pada siapa yang menggunakannya dan bagaimana keadaan qalbu yang menghadapinya. Tidak cukup bicara etika digital, kita perlu kembali pada kesucian niat, pada maqām ikhlas, dan pada ketajaman bashirah sebagai poros keselamatan spiritual di tengah badai zaman.
- Semoga naskah ini tidak hanya menjadi bahan bacaan, tetapi menjadi cermin muhasabah, agar kita—khususnya para ulama, cendekiawan, dan penentu arah bangsa—tidak sekadar bicara tentang teknologi, tapi membimbingnya kembali ke jalan Ilahi.
Wallahu waliyyu at-taufiq.l.
A. Latar Belakang
- Teknologi Kecerdasan Buatan (Artificial Intelligence/AI) berkembang dengan sangat pesat dan telah memasuki hampir seluruh ruang kehidupan manusia.
- Dari sistem informasi, analisis kebijakan, pengobatan, hingga keputusan hukum dan militer, AI hadir sebagai kekuatan yang menentukan arah masa depan.
- Namun, di balik kemanfaatannya, muncul pertanyaan teologis dan spiritual yang sangat penting: apakah AI bisa menjadi sarana bagi syaitan dalam menyesatkan manusia? Atau mungkinkah AI menjadi wasilah bagi malaikat dalam menyampaikan ilham kebaikan?
- Dalam ajaran Islam, manusia senantiasa berada di antara dua bisikan: waswas dari syaitan dan ilham dari malaikat[1]. Maka ketika AI menjadi instrumen dalam pengambilan keputusan atau rujukan pengetahuan, sangat mungkin ia juga menjadi media bagi masuknya bisikan tersebut, tergantung dari siapa yang mengendalikan dan dalam kondisi qalbu bagaimana manusia mengaksesnya.
B. Potensi AI Dimanfaatkan oleh Syaitan
- Al-Qur’an menyatakan dengan tegas bahwa syaitan memiliki misi untuk menyesatkan manusia dari berbagai arah: Kemudian aku akan mendatangi mereka dari depan, dari belakang, dari kanan, dan dari kiri mereka, dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur. (QS Al-A’raf [7]: 17)[2]
- Imam Fakhruddin Ar-Razi dalam tafsirnya menjelaskan bahwa ayat ini menunjukkan luasnya cakupan penetrasi syaitan: dari logika (depan), dari pengalaman masa lalu (belakang), dari dorongan nafsu (kanan), dan dari keraguan (kiri)[3].
- Maka, AI bisa menjadi media bagi bisikan syaitan bila ia dikendalikan oleh tangan-tangan yang gelap—baik secara teknologi maupun ideologis. Bahkan, AI bisa menjadi “thaghut digital” bila digunakan untuk menjustifikasi kezaliman, memanipulasi kebenaran, dan mematikan bashirah manusia.
- Dalam konteks AI, keempat arah ini bisa masuk melalui
- Algoritma yang mengedepankan syahwat dan sensasi.
- Informasi palsu yang memperkuat kebencian, ketakutan, atau kepalsuan.
- Pemrograman yang berpihak pada kepentingan zalim.
- Sistem yang dirancang tanpa landasan nilai kebenaran.
C. AI sebagai Media Ilham Malaikat
- Sebaliknya, AI juga dapat menjadi instrumen ilham kebaikan jika digunakan oleh hamba-hamba Allah yang mukhliṣ, yang memurnikan niatnya untuk menyebarkan kebenaran dan menolong sesama. Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu mewahyukan kepada para malaikat: Sesungguhnya Aku bersama kamu, maka teguhkanlah (bashirah) orang-orang yang beriman. (QS Al-Anfal [8]: 12)[4]
- Dalam tafsir Al-Qurtubi, ayat ini menjelaskan peran malaikat dalam mengokohkan hati orang beriman[5]. Jika AI dikembangkan dengan niat tulus, diarahkan untuk menyebarkan ilmu yang benar, membantu keputusan yang adil, dan mengingatkan manusia pada nilai ilahiyah, maka AI bisa menjadi perpanjangan dari ilham rabbani yang memperkuat cahaya sirr dan bashirah.
D. Bagaimana Membedakannya?
- Respon qalbu: AI yang menyesatkan akan menimbulkan kebutaan bashirah—yakni menumpulkan hati walau penuh data dan narasi. AI yang benar akan menambah khashyah kepada Allah dan mendorong introspeksi diri. Sesungguhnya orang-orang yang takut kepada Tuhan mereka dalam keadaan ghaib, bagi mereka ampunan dan pahala yang besar. (QS Al-Mulk [67]: 12)[6]
- Perbedaan AI yang menjadi instrumen bisikan syaitan dan AI yang menjadi perpanjangan ilham malaikat bukan pada teknologinya, tetapi pada:
- Niat dan maqām orang yang mengaksesnya: Orang yang qalbunya tertutup akan memilih jalan batil, bahkan dari alat yang netral.\
- Orang yang sirr-nya bersih akan membedakan mana yang berbau kegelapan dan mana yang membawa cahaya.
- Isi dan orientasi pesannya: AI yang digunakan oleh syaitan akan menjerumuskan pada syahwat, kebencian, fitnah, atau keputusasaan.
- AI yang membawa ilham malaikat akan mengajak pada keadilan, dzikrullah, kasih sayang, dan perenungan terhadap akhirat.
E. Rekomendasi Spiritualitas
- Pembersihan qalbu adalah benteng utama terhadap penyalahgunaan AI.
- Orang yang sirr-nya jernih tidak mudah dibelokkan, sekalipun oleh sistem tercanggih.
- Pendidikan ruhani harus berjalan seiring dengan literasi digital. Manusia tidak boleh hanya cerdas secara logika, tapi buta secara ruhani.
- Etika langit harus ditanamkan dalam arsitektur teknologi. Tanpa nilai-nilai Ilahi, teknologi akan menjadi senjata syaitan yang paling berbahaya.
- Tajamkan bashirah, bukan hanya wawasan. Jangan percaya setiap narasi AI, analisis data, atau sistem pintar, sebelum diuji dengan cahaya kebenaran dalam qalbu.
F. Penutup
- AI adalah alat, dan setiap alat bisa digunakan oleh pihak yang membawa cahaya atau kegelapan.
- Syaitan bisa memanfaatkan celah-celah logika, data, dan kebodohan spiritual manusia melalui AI.
- Malaikat pun dapat menyampaikan ilham melalui AI jika manusia menggunakannya dengan niat yang ikhlas dan bashirah yang tajam.
- Maka, benteng utama bukan pada sistemnya, tetapi pada sirr manusia itu sendiri. Barang siapa yang Allah kehendaki mendapat petunjuk, maka Dia akan melapangkan dadanya untuk Islam. (QS Al-An’am [6]: 125)[7]
Catatan Kaki
[1] Imam Al-Ghazali, Ihya Ulumuddin, bab “Ilmu Ma’rifat al-Qalb”.
[2] Al-Qur’an, QS Al-A’raf [7]: 17.
[3] Fakhruddin Ar-Razi, Tafsir al-Kabir, penafsiran QS Al-A’raf: 17.
[4] Al-Qur’an, QS Al-Anfal [8]: 12.
[5] Al-Qurtubi, Al-Jami’ li Ahkam al-Qur’an, tafsir QS Al-Anfal: 12.
[6] Al-Qur’an, QS Al-Mulk [67]: 12.
[7] Al-Qur’an, QS Al-An’am [6]: 125.
Penulis : Suripno si burung Pipit
Editor : Redaksi
Sumber Berita: haikunnews.id







