A. Realitas yang Tidak Boleh Ditutup-tutupi
- Banjir bandang di Aceh, Sumut, dan Sumbar—bersama tsunami kayu yang mengalir hingga Danau Singkarak, bahkam ke laut bukan sekadar bencana alam.
- Ini adalah bencana hasil tangan manusia, tanda kerusakan sistem, dan akibat langsung dari pembiaran deforestasi, korupsi izin, dan lemahnya pengawasan negara. “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut karena ulah tangan manusia…(QS al-Rūm 30:41)
- Ketika bukit Gundul, DAS rusak, dan kayu gelondongan berserakan di sungai hingga ke laut, faktanya :
- Ada kezaliman struktural yang lama dibiarkan.
- Bencana ini adalah peringatan Allah kepada para pemimpin yang diberi amanah, namun melalaikannya.
B. Prinsip Keras dari Al-Qur’an untuk Para Pemimpin
1. Amanah Kekuasaan adalah Pertanggungjawaban di Hadapan Allah
“Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawabannya.” (HR Bukhari-Muslim)
Pemimpin yang lalai menjaga hutan dan keselamatan rakyat menanggung dosa pribadi dan dosa publik.
2. Larangan Allah yang Dilanggar secara Terang-terangan
“Janganlah kalian membuat kerusakan di bumi setelah Allah memperbaikinya.” (QS al-A‘raf 7:56)
* Pembalakan liar, korupsi izin
“Wahai orang beriman, tegakkanlah keadilan sekalipun terhadap dirimu sendiri…” (QS an-Nisa’ 4:135)
Ini berarti:
- Tidak ada ruang lindung bagi pejabat yang bermain izin.
- Tidak ada diskresi bagi elite yang mendapatkan keuntungan dari kerusakan hutan.
- Tidak ada kompromi dengan mafia kayu.
3. Langkah TEGAS yang Wajib Dilakukan Pemimpin Beriman
a. Bongkar Semua Akar Masalah Secara Terbuka
- Audit nasional perizinan hutan, tambang, hak guna usaha, dan tata ruang.
- Umumkan ke publik siapa yang mendapatkan izin, siapa yang merusak, siapa yang melindungi.
- Transparansi adalah perintah Allah, bukan pilihan politik.
b. Tindak Tegas Mafia Hutan dan Pejabat Terlibat
- Pidanakan pembalak liar, cukong kayu, perusahaan nakal dan aparat yang menutup mata.
Dalam Ihya’ Ulumuddin, Imam al-Ghazali menegaskan bahwa pemimpin yang membiarkan kezaliman berlangsung ikut memikul dosa perbuatan orang yang membuat kezaliman itu serta akibat yang ditimbulkan akibat kezaliman kerusakan hutan, banjir bandang, dan penderitaan rakyat
c. Moratorium Nasional Deforestasi di Semua DAS Kritis
- Hentikan seluruh izin baru sampai pemulihan menyentuh level aman.
- Batalkan izin yang melanggar aturan, meski pemegang izin dekat dengan kekuasaan.
d. Sistem Tata Ruang Baru yang Tidak Bisa Dibobol
- Sempadan sungai, kawasan lindung, dan hulu DAS menjadi zona haram eksploitasi.
- Pelanggaran terhadap tata ruang harus dipidana sebagai kejahatan lingkungan berat.
e. Rehabilitasi Hutan sebagai Agenda Negara, Bukan Program Seremonial
- Libatkan pesantren, masjid, ormas Islam, masyarakat adat, dan kampus.
- Hutan adalah amanah ilahi; menanam dan memulihkan adalah sedekah jariyah negara.
4. Jika Tidak Dijalankan: Konsekuensi Teologis yang SANGAT Berat
a. Dosa Khianat Amanah
“Janganlah kalian mengkhianati Allah, Rasul, dan amanah yang dipercayakan kepada kalian.” (QS al-Anfal 8:27)
Diam melihat kerusakan, atau mengetahui penyebab tapi tidak bertindak, adalah pengkhianatan amanah tingkat tertinggi.
b. Azab Kolektif yang Tidak Mengenal? Jabatan
“Takutlah kepada azab yang tidak hanya menimpa orang zalim saja…” (QS al-Anfal 8:25)
Hadis juga menegaskan: ketika maksiat dibiarkan, azab turun kepada semua, termasuk pemimpin dan pembantunya.
c. Hilangnya Barakah Negeri
Ulama tafsir (Ibn Kathir) menjelaskan: ketika kezaliman dibiarkan, Allah mencabut keberkahan—air menjadi bencana, tanah menjadi musibah, dan rezeki menjadi sempit.
Ini sudah terjadi:
- Banjir setiap tahun.
- Longsor berulang.
- Rakyat menderita, tapi yang merusak tetap bebas.
d. Kekerasan Hati Pemimpin
- Ibn al-Qayyim menyebut salah satu tanda kerasnya hati:
“Tidak peduli pada jeritan korban, kerusakan alam, dan kezalimannya sendiri.” - Jika pemimpin tidak segera bertindak, itu tanda spiritual yang sangat berbahaya: hatinya sedang Allah biarkan mengeras bahkan terkunci mati (menyesal ditakdirkan hidup)
C. Seruan sebagai Penutup
- Banjir bandang Sumatera bukan hanya bencana, tetapi peringatan keras dari Allah.
- Jika pemimpin tidak segera melakukan koreksi besar-besaran, maka bencana berikutnya hanya masalah waktu—dan dosa publik terus menumpuk.
- Maka, wahai para pemegang amanah:
- Tegakkanlah kebenaran Allah.
- Wujudkanlah keadilan Allah.
- Dan lindungilah bumi Allah.
Sebab jika amanah ini diabaikan, jabatan yang hari ini mulia akan berubah menjadi beban berat tak tertanggungkan di hadapan Allah pada Hari Kiamat.**
Penulis : Drs. Suripno. Mstr
Editor : Redaksi
Sumber Berita: haikunnews.id







