SURABAYA – Pernyataan mengejutkan sekaligus menenangkan disampaikan oleh Direktur RSUD Dr. Soetomo. Dalam sebuah penjelasan yang kini ramai dibicarakan, ia menegaskan bahwa banyak keluhan kesehatan pada lansia selama ini keliru dipahami sebagai penyakit, padahal sejatinya merupakan proses biologis alami akibat penuaan.
“Percaya atau tidak,” ujarnya, “banyak lansia hidup dalam ketakutan yang tidak perlu, karena perubahan tubuh yang wajar dianggap sebagai penyakit berbahaya.”
Lima Kalimat Kunci yang Mengubah Cara Pandang tentang Lansia
Direktur RS Dr. Sutomo merangkum pesannya dalam kalimat-kalimat tegas namun sarat makna :
Pertama, “Ini bukan penyakit, kamu hanya sudah tua.”
Banyak kondisi yang muncul seiring usia bukanlah gangguan medis, melainkan sinyal bahwa tubuh sedang menua secara alami.
Kedua, banyak hal yang dianggap penyakit sesungguhnya hanyalah adaptasi tubuh terhadap usia, bukan kegagalan fungsi organ.
Ketiga, kehilangan ingatan ringan bukanlah Alzheimer.
Jika seseorang hanya lupa meletakkan kunci namun masih mampu menemukannya sendiri, itu bukan demensia, melainkan mekanisme pelindung otak lansia. Otak menua, bukan rusak.
Keempat, berjalan lebih lambat dan kaki kurang stabil bukan kelumpuhan, melainkan degradasi otot alami.
Solusinya bukan obat, melainkan bergerak, berjalan, dan melatih otot secara rutin.
Kelima, gangguan tidur pada lansia bukan insomnia, melainkan perubahan struktur dan ritme tidur otak.
Penggunaan obat tidur justru berisiko meningkatkan jatuh, gangguan kognitif, dan ketergantungan.
“Obat tidur terbaik bagi lansia,” tegasnya, “adalah berjemur di bawah sinar matahari, menjaga rutinitas harian, dan tetap aktif.”
Nyeri Seluruh Tubuh Bukan Selalu Penyakit
Keluhan “sakit di seluruh badan” yang sering dialami lansia juga diluruskan.
Sebagian besar kasus bukan rematik atau pertumbuhan tulang, melainkan perlambatan konduksi saraf dan peningkatan sensitivitas nyeri, sebuah kondisi fisiologis yang dikenal sebagai sensitisasi sentral.
“Obat pereda nyeri bukan solusi utama,” jelasnya.
Yang jauh lebih efektif adalah olahraga ringan, terapi fisik, merendam kaki, kompres hangat sebelum tidur, dan pijat ringan.
Hasil Tes Abnormal..? Jangan Panik
Direktur RS Dr. Sutomo juga mengingatkan bahwa standar medis sering kali tidak disesuaikan untuk lansia.
Organisasi Kesehatan Dunia menyarankan agar hasil tes lansia diperlakukan lebih longgar, termasuk kadar kolesterol.
Fakta ilmiah menunjukkan bahwa lansia dengan kolesterol sedikit lebih tinggi justru memiliki harapan hidup lebih panjang, karena kolesterol berperan penting dalam pembentukan hormon dan membran sel.
Tekanan darah pun tidak bisa disamakan dengan orang muda. Target lansia adalah <150/90 mmHg, bukan <140/90.
Pesan Penting untuk Lansia dan Anak-anaknya
Direktur RS Dr. Sutomo menutup pesannya dengan seruan yang menyentuh :
- Jangan menganggap penuaan sebagai penyakit.
- Jangan menganggap setiap perubahan tubuh sebagai ancaman.
- Lansia paling takut bukan pada sakit, tetapi pada ketakutan itu sendiri.
Bagi anak-anak, ia menegaskan:
“Yang paling dibutuhkan orang tua bukan selalu rumah sakit, melainkan ditemani berjalan-jalan, berjemur di bawah matahari, makan bersama, dan berbicara dari hati ke hati.”
Penuaan Bukan Musuh
Penuaan bukanlah kegagalan hidup, melainkan jalan alamiah yang harus dilalui setiap manusia. Musuh sejati bukan usia, melainkan kesalahan persepsi yang membuat lansia hidup dalam kecemasan yang tidak perlu.
Salam sehat, tetap semangat, dan hormatilah usia sebagai anugerah.
Penulis : Laksma TNI (Purn) Jaya Darmawan, M.Tr.Opsla
Editor : Redaksi
Sumber Berita: haikunnews.id







